Perahu, Sungai, dan Mushaf: Kisah Kebutuhan Al-Qur’an di Pedalaman Kapuas
Kalimantan Barat merupakan provinsi terluas ketiga di Indonesia memiliki julukan sebagai provinsi seribu sungai, dengan luas wilayah mencapai 147.307 atau sekitar 7,68% dari total luas wilayah Indonesia. Sebanyak 3.287.346 atau sekitar 60,07% penduduknya memeluk agama Islam.
Pada tahun 2025 Jumlah Lembaga Pendidikan Islam di Provinsi Kalimantan Barat MTs N terdapat 29, MTs Swasta 325, Pondok Pesantren terdapat 40. Sementara untuk jumlah masjid di Kalimantan Barat 3401 Masjid.

(Distribusi Al-Quran untuk Kalimantan Barat)
Perjalanan BWA di Pedalaman Kapuas
Di tepian sungai yang membelah hutan lebat Kalimantan Barat, terdapat sebuah kecamatan kecil bernama Nanga Suhaid, Kab. Kapuas Hulu. Di sana, sungai bukan hanya aliran air—ia adalah jalan, pasar, penghubung keluarga, sekaligus saksi perjuangan iman.
Untuk mencapai desa-desa di pedalaman Nanga Suhaid, orang harus menaiki perahu kayu bermesin kecil. Perjalanan bisa berjam-jam, menyusuri arus Sungai Kapuas yang kadang tenang bagai kaca, kadang bergelora saat hujan turun dari perbukitan. Di kiri kanan, hutan tropis berdiri rapat, menyimpan suara burung dan desir angin yang terasa purba.

(Ustadz Indra Yohanes)
Di wilayah inilah seorang dai mualaf Dayak bernama Ustadz Indra Yohanes Soter menapakkan jejak pengabdiannya.
Dulu, ia adalah bagian dari masyarakat Dayak pedalaman. Hutan adalah rumahnya, sungai adalah sahabatnya. Namun setelah memeluk Islam, hidupnya berubah arah. Ia tidak pergi meninggalkan kampung halaman. Justru ia kembali—menyusuri sungai, mendatangi rumah-rumah panjang, berbincang dari hati ke hati.

Perahunya sederhana. Kadang bocor di beberapa bagian dan harus ditambal seadanya. Mesin tempelnya sering mogok di tengah sungai. Tapi itu tak pernah menghentikannya. Dari Nanga Suhaid, ia berdakwah hingga ke aliran Kapuas yang lebih dalam, bahkan sampai kawasan Danau Sentarum—wilayah perairan luas yang saat musim hujan berubah menjadi hamparan danau raksasa, dan saat kemarau menyisakan sungai-sungai sempit di antara rawa.
“Kalau bukan kita yang datang, siapa lagi?” begitu ia sering berkata.
Di sebuah desa kecil di tepian sungai, berdiri surau beratap seng yang mulai berkarat. Lantainya papan, dindingnya tak rapat. Di situlah anak-anak dan para mualaf belajar membaca Al-Qur’an. Mushaf yang mereka miliki terbatas—beberapa sudah lusuh, hurufnya memudar, halaman-halamannya lepas karena lembap udara sungai.
Suatu malam, setelah perjalanan panjang, Ustaz Indra tiba di desa itu dengan tubuh basah oleh gerimis. Anak-anak menyambutnya dengan senyum lebar.
“Ustadz, hari ini kita belajar huruf hijaiyah lagi?” tanya seorang anak perempuan kecil sambil menggenggam mushaf tua yang sampulnya hampir terlepas.
Ia tersenyum hangat. Di hadapan mereka, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan. Ia adalah pegangan baru dalam hidup yang sedang mereka bangun—sering kali dengan konsekuensi sosial yang tidak ringan. Ada yang dikucilkan, ada yang dipandang aneh karena memilih jalan berbeda dari tradisi leluhur. Namun Ustaz Indra tidak pernah membalas dengan kemarahan. Ia membina dengan kesabaran.
Kebutuhan terbesar mereka bukan hanya guru, tetapi juga Al-Qur’an yang layak. Setiap mushaf baru yang datang terasa seperti hadiah tak ternilai. Pernah suatu ketika, setelah berbulan-bulan menunggu, beberapa dus Al-Qur’an berhasil dibawa menggunakan perahu kecil menyusuri arus deras. Perjalanan itu melewati batang-batang kayu hanyut dan air dangkal yang memaksa mereka turun mendorong perahu.
Di pedalaman Kalimantan Barat, di antara kabut pagi dan riak air sungai, ada seorang dai yang tak lelah mengetuk pintu-pintu hati. Dan selama sungai masih mengalir, perjuangannya akan terus berlayar—menjaga cahaya Al-Qur’an tetap hidup di tengah rimba yang sunyi.
Insyaallah dengan adanya project Al-Qur’an Road Trip Kalimantan Barat, BWA akan menggalang wakaf Al-Qur’an dari kaum Muslimin sebanyak 100.000 eksemplar Al-Quran. Semoga Al-Qur’an yang mereka baca akan mengalirkan pahala jariyah kepada Anda hingga hari kiamat, Aamiin.
Rencana Ekspedisi Al-Qur’an Kalimantan Barat
Nilai Wakaf yang Diperlukan:
Rp.15.000.000.000 (100.000 Eksemplar Al-Qur'an @Rp.150.000)
Partner Lapang:
Ustadz Indra Yohanes (Dai Mualaf Dayak)
#BWA #InovasiWakaf #WAP #RoadTrip #KalBar