Hadirkan Cahaya Al-Qur’an di Perbatasan Negeri
Kalimantan Utara, merupakan provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia, yaitu Sabah dan Serawak, dengan mayoritas penduduk Muslimnya ada di Pulau Tarakan, Nunukan, dan Sebatik sebanyak 346.177 Jiwa.
Aktifitas masyarakat muslim di Kalimantan Utara cukup terasa, terbukti dengan ramainya masjid setiap hari dengan kegiatan TPQ, dan bermunculannya banyak rumah tahfidz serta pondok-pondok penghafal Al-Qur’an.
Ustadz Bambang Galih Setiawan salah satu pengurus Pondok Pesantren Al Izzah yang barada di Pulau Nunukan, menjelaskan bahwa dalam kurun waktu beberapa tahun kebelakang ini masyarakat di daerah perbatasan sangat bersemangat dalam hal belajar agama dan Al-Qur’an, “Di pondok kami saja selain kegiatan regular mengajar para santri, juga mengajar kelompok ibu-ibu membaca Al-Qur’an atas permintaan mereka”.
.jpg)
(Ibu-ibu sedang belajar Al-Qur’an di TPA Al Izzah)
Namun sayangnya semangat masyarakat muslim di sana belum sebanding dengan jumlah Al-Qur’an yang tersedia, banyak pondok ataupun TPA yang kondisi Al-Qur’annya rusak. Tidak mudah bagi para pengurus pondok ataupun TPA disana untuk mengganti Al-Qur’an yang rusak tersebut karena memang tidak banyak toko yang menjual Al-Qur’an apalagi di pulau Sebatik.
.jpg)
(Kondisi Al-Qur’an di Beberapa Pondok di Pulau Terluar Kalimantan Utara)
“Memang di daerah perbatasan ini kami masih sangat kekurangan Al-Qur’an, padahal Al-Qur’an ini adalah pedoman kita sebagai umat Islam agar selamat dunia dan akhirat apalagi di zaman sekarang ini, jangan sampai anak-anak kita penerus bangsa tidak bisa membaca apalagi menghafal Al-Qur’an,” cerita Ustadz Rahmatullah salah tokoh masyarakat dan pimpinan Pondok Pesantren Ibadurrahman di Pulau Nunukan.
.jpg)
(Ustadz Rahmatullah, Tokoh Muslim di Pulau Nunukan)
BWA dengan program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAP) nya akan membumikan Al-Qur’an untuk pulau-pulau terluar di Kalimantan Utara dan kabupaten-kabupaten yang ada di Kalimantan Utara pada umumnya.
BWA mengajak umat muslim Indonesia untuk ikut mensukseskan proyek WAP Kalimantan Utara ini, agar saudara-saudara muslim kita di pulau-pulau terluar Kalimantan Utara mudah mendapatkan Al-Qur’an sekaligus mendukung para da’i disana untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada para generasi penerus bangsa demi terciptanya banyak penghafal Al-Qur’an dari ujung utara Indonesia.
Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:
Rp.15.000.000.000 (100.000 Eksemplar Al-Qur'an @Rp.150.000)
Partner Lapang:
Ustadz Mansur
#BWA #InovasiWakaf #WakafQuran #WAP #WAPKaltara
Update #9: Semangat Para Santri di Pelosok Kabupaten Bulungan Menghafalkan Al-Quran dengan Al-Quran Wakaf BWA
Tim BWA telah mengunjungi Pondok Pesantren Tahfidzul Quran wa Dakwah Sirojul Huda di Kampung Bentiang, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan pada Kamis (6/3/2025). Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat lebih dekat bagaimana Al-Quran Wakaf BWA dimanfaatkan oleh para santri dan asatidz di pondok tersebut selama dua tahun terakhir sejak distribusi WAP Kaltara tahap pertama.
Perjalanan yang dilalui tergolong sulit dan panjang mengingat akses jalan yang masih berupa tanah bebatuan serta kondisi cuaca yang sering hujan sehingga menjadikan jalannya menjadi berlumpur. Meski tak bisa diakses menggunakan mobil, kami yang dibersamai Ustadz Zainul sebagai Partner Lapang di Bulungan tetap menempuh perjalanan selama dua jam dengan menggunakan sepeda motor.

(Perjalanan Tim BWA dengan akses jalan berlumpur yang sulit dilalui)
“Alhamdulillah, teman-teman BWA masih bersedia menyempatkan berkunjung ke sini untuk menyalurkan Al-Quran wakaf ini, meskipun aksesnya yang jauh dan susah di pelosok,” haru Ustadz Rizki selaku Mudir Ponpes Sirojul Huda ketika menyambut kami.
Selanjutnya, Ustadz Rizki menjelaskan mengenai pemanfaatan Al-Quran Wakaf yang telah disalurkan sebelumnya. “Alhamdulillah dari pemberian Al-Quran dari BWA ini dapat dirasakan manfaatnya oleh santri-santri Tahfidzul Quran Sirojul Huda, termasuk para santri bisa memanfaatkannya untuk menghafalkan Al-Quran, ada yang sampai di tahap mereka sudah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya sebanyak 30 juz,” tutur Ustadz Rizki kepada kami.

(Ustadz Rizki sebagai Mudir Ponpes Tahfidzul Quran Sirojul Huda)
Melalui kunjungan ini, kami juga melakukan kegiatan buka bersama dengan asatidz dan santri-santri penghafal Al-Quran Pondok Pesantren Sirojul Huda. Para santri menyambut dengan bahagia dan antusias, bahkan tak sedikit di antara mereka dengan sukacita membantu kami untuk menyiapkan sajian buka puasa.
Pada akhirnya, kunjungan kami disambut dengan tangan terbuka oleh asatidz dan para santri. Mereka juga menitipkan doa yang terbaik untuk para wakif yang telah menitipkan sebagian hartanya untuk berwakaf.
Update #8: 20.000 Al-Qur’an Tahap Pertama untuk Kalimantan Utara
Di penghujung akhir tahun 2022 lalu, secara bertahap tim BWA melaksanakan amanah distribusi Al-Qur’an wakaf di wilayah Kalimantan Utara. Dari 20.000 Al-Qur’an alhamdulillah sudah terdistribusikan ke beberapa wilayah untuk seperti di Tarakan sebanyak 7.000, Bulungan 5.000, Malinau 1.000, Sebatik dan Nunukan 5.000, serta di Tanah Tidung sebanyak 2.000 Al-Qur’an.
Alhamdulillah selama kegiatan pendistribusian Al-Qur’an tim BWA juga dibantu oleh H. Faisal Rauf, selaku tokoh pengusaha di Kalimantan Utara.
BWA dalam distribusi Al-Qur’an kali ini juga bekerjasama dengan BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia) Kota Tarakan. Ustadz Syahrani menyampaikan untuk di Kota Tarakan ada sebanyak 165 unit lembaga TPQ yang sangat membutuhkan Al-Qur’an.
“Jadi pembagian Al-Qur’an wakaf ini sangat pas sekali untuk memudahkan sarana belajar. Jadi ini kerjasama yang baik, Badan Wakaf Al-Qur’an menyediakan Al-Qur’an nya, dan kita sebagai guru ngaji yang berjuang mengajarkannya ke ummat,” tutur beliau.
H. Hazairin menyampaikan, “Al-Qur’an wakaf di tahap pertama ini kemungkinan akan banyak masyarakat yang akan belum kebagian, karena yang di utamakan adalah lembaga-lembaga pendidikan terlebih dahulu seperti TPA, TPQ, Pondok Pesantren dan Majelis Taklim. Harapannya pembagian Al-Qur’an wakaf ini bisa menjangkau saudara saudara kami yang tinggal di pelosok, di perbatasan negeri dan di pulau-pulau terpencil,”.
Mohon doa dan dukungan semoga di waktu-waktu mendatang PR yang 80.000 Al-Qur’an bisa segera diwujudkan. Teriring doa dari kami semoga ini menjadi pahala yang mengalir bagi mewakafkan dan orang-orang yang ikut andil memudahkan distribusi ini di lapangan seperti H. Faisal dan kawan-kawan.
Mari wujudkan keinginan saudara muslim memiliki Al-Qur’an di pelosok Indonesia.
Update #7: Di Sini Satu Al-Qur’an Digunakan Untuk Delapan Orang Warga Binaan
Setelah mengantarkan tim BWA ke pelabuhan SDF menuju pulau Sebatik, H.Faisal bersama rekan tim Trabas melanjutkan estafet distribusi Al-Qur’an ke TPQ, Majelis Taklim, dan ke warga binaan Rutan Tarakan.
Menarik ketika H. Faisal dan tim Trabas tiba di Rutan lalu bertemu dengan Ustadz warga binaan, mereka mengungkapkan bahwa di sini (Rutan Tarakan) sangat membutuhkan Al-Qur’an. “Awalnya tim Trabas mengalokasikan 200 Al-Qur’an namun setelah mewawancarai Ustadz warga binaan yang ternyata kebutuhan Al-Qur’an di sini sangat tinggi bahkan satu Al-Qur’an itu dipakai berdelapan. Melihat semangat warga lapas yang sangat tinggi untuk mempelajari Al-Qur’an, maka tim BWA memberikan Al-Qur’an sebanyak 400 eksemplar,” tutur tim Trabas.

(Al-Qur’an untuk Warga Binaan Rutan)
Ternyata satu hari sebelum tim BWA mendistribusikan Al-Qur’an, Ustadz warga binaan sempat bercerita dengan warga binaan dan berdoa semoga ada orang baik hati yang datang mewakafkan Al-Qur’an. Tatkala tim BWA datang membawakan Al-Qur’an, mereka langsung meneteskan air mata, seolah tidak percaya, harapan dan doa mereka langsung diijabah oleh Allah SWT.
Ustadz warga binaan menyampaikan, "Bagaimana caranya kita mengadakan pembinaan, bukan hanya bisa membaca Al-Qur’an tapi juga paham makna dan isinya, terus bagaimana mengamalkannya bila Al-Qur’annya saja satu untuk berdelapan orang tentu ini menjadi kendala,".
Kami berharap dengan ketersediaan Al-Qur’an yang memadai dapat meningkatkan semangat warga Lapas untuk terus membaca dan mempelajarinya.
Mari berwakaf Al-Qur’an di BWA untuk muslim di Kalimantan Utara.
Update #6: Perjalanan Distribusi Al-Qur’an di Pulau Sebatik
Sebatik merupakan salah satu pulau yang memiliki batas border langsung antara Indonesia dengan Malaysia. Secara administratif Kota Kecamatan Pulau Sebatik masuk dalam Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Untuk menuju Pulau Sebatik perjalanan ditempuh menggunakan speedboat Sinar Baru, dari Tarakan jaraknya kurang lebih 94 km sampai di pelabuhan Senyamuk atau 3 jam menyusuri selat di antara pulau.

(Al-Qur’an untuk Muslim di Pulau Sebatik)
Sampai di pelabuhan Senyamuk, tim BWA dijemput oleh koordinator lapang Ustadz Irfan, tim BKPRMI Sebatik Utara, dan pengusaha muslim Pulau Sebatik Bang Arman atau yang biasa dipanggil Emang. Tim kemudian berkoordinasi, membagi tugas masing-masing untuk mendistribusikan Al-Qur’an yang langsung dibagikan kepada muslim yang membutuhkan di Pulau Sebatik.
Sore harinya kami tim BWA berkeliling mengunjungi beberapa TPQ untuk melihat langsung kondisi Al-Qur’an yang ada di TPQ, khususnya di wilayah kepulauan. Salah satunya di TPQ Nur Muhammad. Meskipun TPQ ini baru berdiri pada Desember 2021 ternyata jumlah santri yang belajar ada 230 Santri yang dibina langsung oleh Ustadz Agus Salim pendiri TPQ.
Ustadz Agus Salim bertutur kepada tim BWA, "Program wakaf Al-Qur’an ini sangat bagus sekali apalagi untuk wilayah perbatasan dan kepulauan seperti ini. Al-Qur’an terjemahan sangat dibutuhkan untuk di wilayah pelosok sebagai alat media belajar, jadi kegiatan ini jangan hanya sekali dua kali. Harapan kami programnya terus-menerus, agar Al-Qur’an ini menjadi pedoman hidup,” tutur beliau.
Terima kasih kami ucapkan untuk para wakif yang telah membantu kami memiliki mushaf Al-Qur’an. Semoga menjadi pahala jariyah, aamiin.
Update #5: Spearfishing Dakwah, Berbagi Al-Qur’an dan Hasil Tangkapan Ikan
Dalam kegiatan distribusi Al-Qur’an Kalimantan Utara, tim BWA juga bersinergi dengan komunitas Spearfishing Dakwah yang diketuai oleh Ustadz Subhan Ali, pengusaha muda asal Sumatera Barat. Sudah beberapa kali beliau ikut aktif dalam kegiatan penyebaran Al-Qur’an BWA. Hobby menembak ikan menjadi wasilah dakwah ketika hasil tembak ikannya dibagikan kepada masyarakat.
Kegiatan Spearfishing ini sendiri adalah kegiatan menembak ikan di laut. Mengapa menembak ikan? Karena dapat selektif memilih ikan baik dari ukuran, jumlah dan jenisnya tanpa merusak biota laut dan tetap menjaga kelestarian laut. Tidak hanya menembak ikan, Spearfishing Dakwah juga mengedukasi masyarakat agar peduli terhadap lingkungan laut agar suatu saat nanti dapat menjadi warisan anak cucu di masa yang mendatang.

(Spearfishing Dakwah)
Tim BWA langsung bergerak menuju bagan menggunakan kapal fiber mesin tempel ukuran 15 pk. Alhamdulillah cuaca hari ini teduh, dan memungkinkan bagi kami untuk melakukan kegiatan Spearfishing.
“Di bagan pertama kami dapat 17 ekor, pindah ke bagan 2 dapat 16 ekor, di bagan ke 3 air sudah mulai keruh tapi kami bisa dapat 20 ekor, dan terakhir di bagan ke 4 sudah sangat keruh sekali dan berarus hanya mampu dapat 11 ekor. Total kegiatan menyelam kami dapat 63 ekor alhamdulillah 3 jam berlangsung dari hasil tangkapan ikan ini insyaallah dapat sedikit menyenangkan adik-adik santri TPQ Nur Muhammad,” tutur Weli Kurniawan, tim distribusi BWA.
Sore harinya ba’da ashar kami menuju ke TPQ Nur Muhammad sambil membagikan Al-Qur’an juga memberikan ikan hasil menembak. Anak-anak sangat senang sekali mereka yang hadir hari ini dalam pembagian Al-Qur’an masing-masing dapat 1 Al-Qur’an wakaf, sedangkan ikan hasil menembak langsung kami berikan ke Ustadz Agus Salim sebagai mudir TPQ Nur Muhammad.
Terimakasih kepada para wakif yang telah membantu anak didik kami memiliki Al-Qur’an, semoga menjadi pahala jariyah aamiin.
Update #4: Di Sini Santri Kami Butuh Al-Qur’an untuk Belajar
Masih di Pulau Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dan kali ini tim melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Ibadurrahman yang berlokasi di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Nunukan Tengah, pimpinan Ustadz Rahmatullah. Walaupun Ponpes Ibadurrahman tidak menamakan lembaganya dengan Ponpes Tahfizh Quran namun ponpes ini merupakan pondok penggiat Al-Qur’an dan ada program-program yang didalamnya menjurus, mengarah kepada spesialisasi Al-Qur’an, seperti tartil quran, tahfizh quran dan tafsir quran.
Dan Ustadz Rahmatullah menjelaskan kepada kami terkait kondisi kaum muslim di Nunukan, "Berkenaan dengan Al-Qur’an di Kabupaten Nunukan ini sesungguhnya kita masih dikatakan sangat jauh, informasi yang kami dapatkan dari mantan kepala Kemenag Nunukan itu dari sekitar 45.000 penduduk muslim di Nunukan paling 10% nya yang bisa membaca Al-Qur’an. Dan kita pun masih sangat prihatin, jadi secara garis besar diwilayah Nunukan ini masih banyak kekurangan dalam pembelajaran Al-Qur’an."

(Ustadz Rahmatullah)
"Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya, yang jelas kekurangan itu perlu kita perjuangkan bersama, supaya Al-Qur’an ini bisa membumi di bumi indonesia pada umumnya, Nunukan pada khususnya. Kalau Al-Qur’an ini membumi pastinya karekter Al-Qur’an juga ikut dalam kehidupan masyarakat, maka kalau peran tokoh agama mau bersatu untuk membumikan Al-Qur’an di Nunukan ini maka niscaya masyarakat akan tumbuh dengan masyarakat yang Qurany, karakternya juga karakter Quran," tutur beliau.
Beliau menyambut positif kegiatan yang BWA lakukan dalam kegiatan pendistribusian Al-Qur’an wakaf untuk Kalimantan Utara. "Ini sebenarnya langkah bagus ya kalau BWA ini untuk membagikan wakaf Al-Qur’an, kadang kala orang Nunukan ini kan dia tersebar kebeberapa daerah, bahkan dipelosok-pelosok, dikampung-kampung. Sehingga anak-anak generasi mereka yang mau belajar Al-Qur’an itu biasanya terbentur kepada tidak ada guru yang mengajar dan ketidak tersediaannya Al-Qur’an untuk belajar, nah itu problem yang ada di Nunukan," sambung beliau.
Di akhir pertemuan kami, Ustadz Rahmatullah memberikan ajakan kepada umat muslimin di seluruh Indonesia. "Saya Rahmatullah pengasuh di Pondok pesantren Ibadurrahman ini mengajak kepada seluruh masyarakat luas untuk bisa berkontribusi mewakafkan Al-Qur’an untuk generasi-generasi kita yang sangat membutuhkan, sebab tidak semua generasi kita berada di kota besar yang aksesnya mudah ditempuh dan banyak fasilitas. Tapi banyak juga dipedalaman-pedalaman yang mereka sangat membutuhkan guru pengajar dan sangat membutuhkan fasilitas berupa Al-Qur’an yang juga mereka buat untuk belajar dan untuk tadarus Al-Qur’an, maka sekecil apapun sumbangan atau wakaf Al-Qur’an ini sangatlah bermanfaat bagi generasi kita yang ada dipedalaman, khususnya Kalimantan."
Update #3: Al-Qur’an untuk Pulau Santri di Kalimantan Utara
Selasa 9 November 2021, tim BWA berangkat dari Pulau Nunukan menuju Pulau Sebatik. Pulau tersebut merupakan kecamatan yang berada paling timur di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Pulau Sebatik adalah sebuah pulau yang memiliki pesantren dan madrasah terbanyak se-Kaltara, pada 17 Oktober 2021, bertepatan dengan hari santri nasional, Sebatik mendapat predikat "Pulau Santri" dari Kementerian Agama.
Sesampainya di sana tim langsung menuju Pondok Pesantren As 'Adiyah Sebatik yang berlokasi di Desa Sei Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur. Alhamdulillah tim dapat bertemu langsung dengan Ustadz Jufri Saka selaku pengasuh Ponpes As 'Adiyah Sebatik yang memiliki 320-an santri mukim, baik santri putra maupun putri.
"Santri-santri kami memang sangat membutuhkan Al-Qur’an, terutama Al-Qur’an terjemah dimana kegiatan-kegiatan kami bukan hanya membaca dan menghafal saja tetapi ada pengajian pesantren, diantaranya ada tafsir, ada maknai Al-Qur’an kemudian ada beberapa kitab-kitab pesantren yang lainnya seperti halnya dengan pesantren-pesantren pada umumnya. Namun Al-Qur’an adalah hal yang pastinya setiap santri harus miliki, untuk saat ini santri-santri kami masih mengusahakan sendiri, artinya beli sendiri," cerita Ustadz Jufri kepada tim BWA.

(Ustadz Jufri Saka pimpinan Ponpes As’Adiyah)
Ustadz Jufri bercerita, ada beberapa masyarakat yang menyumbangkan Al-Qur’annya ke pondok, tapi jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan santri di sana. "Alhamdullillah ada beberapa sumbangan dari masyarakat sekitar, namun khususnya kami di Sebatik disini masih sangat terbatas ya toko-toko yang menyiapkan, menyediakan Al-Qur’an yang direkomendasikan. Kemudian kalaupun ada harganya terhitung jauh lebih mahal,” lanjut beliau.
“Berhubung terkendala biaya pengiriman kesini, sehingga santri-santri kami sampai saat ini ada yang belum memiliki Al-Qur’an terjemah sebagai penunjang bagi mereka untuk menghafal Al-Qur’an atau mempelajari makna-makna Al-Qur’an", tutup beliau.

(Santri Ponpes As’Adiyah sedang menghafal Al-Qur’an)
Mari berwakaf Al-Qur’an untuk para santri di Pulau Sebatik Kalimantan Utara. Mudahkan mereka dalam mengaji dan menghafal dengan wakaf anda. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan para wakif dengan pahala yang berlipatganda, aamiin.
Update #2: Untuk Beli Qur’an Di Sini Lebih Mahal Ongkos Kirimnya dibanding Harga Al-Qur’annya
Selesai melakukan survei di kota Tarakan, tim BWA melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Nunukan, sebuah Pulau yang wilayahnya paling utara dari Propinsi Kalimantan Utara dan berbatasan langsung dengan Malaysia Timur, yaitu Sabah. Tim berangkat dari pelabuhan Malundung Tarakan dengan menaiki kapal speed boat kurang lebih selama 2 jam setengah perjalanan laut menuju pelabuhan PLBL Liem Hie Djung.
Ustadz Bambang Galih Setiawan adalah seorang da'i muda keturunan Malang. Setelah selesai menimba ilmu di Universitas Malang beliau pun kembali ke kota kelahirannya yaitu Nunukan untuk mendedikasikan dirinya dalam pelayanan umat.
Berawal dari mengajarkan cara membaca dan menulis Al-Qur’an kepada kaum muslimin di sekitar perkampungannya, mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu dan bapak-bapak, setelah kegiatan tersebut berjalan selama kurang lebih 3 tahun, kini beliau mendirikan sebuah pondok pesantren atas saran kaum muslimin di sana.

(Ustadz Bambang Galih, pimpinan Ponpes Al-Izzah, Pulau Nunukan)
"Jadi kami di sini merasakan semangatnya masyarakat muslim untuk belajar Al-Qur’an dan belajar agama. Kita punya banyak halaqah-halaqah tahsin ibu-ibu, kayanya hampir ada ribuan yang telah belajar Al-Qur’an, baik di lembaga kami, atau di berbagai rumah tahfizh, pesantren lainnya,” tutur Ustadz Bambang.

(Ibu-ibu Tengah Belajar di TPA Al-Izzah bersama Ustadz Bambang Galih)
"Meskipun semangat dari masyarakat tinggi namun terkendala ketersediaan Al-Qur’an di daerah perbatasan, karena tempat kita yang cukup jauh dari pusat ibukota atau juga provinsi lainnya itu. Kebanyakan masyarakat Nunukan itu belum punya satu tempat persediaan Quran yang bagus, kalau mereka mau beli Qur’an biasanya kita harus mesen online, sehingga nilai harga Al-Qur’an tersebut pun menjadi lebih mahal, ditambah ongkirnya yang yang lebih mahal dari Al-Qur’annya," ungkap Ustadz Bambang Galih Setiawan.
"Semoga dengan hadirnya BWA ini menjadi satu motivasi kita, penyemangat kita dan sebuah lorong untuk tersedianya Al-Qur’an di daerah-daerah pelosok, di Kalimantan Utara khususnya daerah Nunukan, Sebatik dan Malinao dan sebagainya. Semoga para wakif dan BWA yang telah mendistribusikan Al-Qur’an di daerah kami mendapatkan berkah dan pahala yang berlipat dari Allah SWT, aamiin,” tutup Ustadz Bambang seraya mendoakan.
Update #1: Mari Berlomba-lomba dalam Kebaikan dengan Mewakafkan Al-Qur’an
Pada kegiatan survey kebutuhan Al-Qur’an di Kalimantan Utara, tim BWA bertemu dengan Ustadz Harsyidin selaku pimpinan Majelis Al quran Darul Muqomah Kota Tarakan. Da'i muda lulusan Tebuireng Jombang ini setiap tahunnya diamanahi sebagai Dewan Hakim Musabaqah Tilawatil Quran bagian Hifdzil Quran tingkat 10 juz, 20 juz, 30 Juz dan Musabaqoh Hifdzil Quran dan tafsir bahasa Inggris, bahasa indonesia dan bahasa Arab, beliau juga diamanahi setiap tahunnya untuk membuat soal-soal dibidang Tahfidz dalam MTQ tersebut.

(Ustadz Harsyidin)
"Alhamdulillah secara khusus Kota Tarakan dan secara umum Kaltara, masyarakat semuanya menurut penglihatan kami ghiroh untuk menghafal Al quran dan untuk belajar Al quran itu sangat tinggi. Hanya saja ada kendala-kendala yang mungkin harus kita perbaiki bersama,” tutur Ustadz Harsyidin.
"Sehingga ini menjadi PR kita semua, untuk bersama meningkatkan sumber daya manusia yang ada di Kaltara ini, dan juga kita berharap masyarakat yang berada di Kaltara ini, khususnya Kota Tarakan berlomba-lomba untuk jadi donatur Al-Qur’an, paling tidak mereka menyedekahkan harta mereka, supaya harta mereka itu benar-benar menjadi milik mereka nanti diakhirat dengan cara mendonasikan harta-harta mereka dijalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bagi mereka para-para penghafal Al-Qur’an," ungkap beliau.

(Al-Qur'an untuk Masyarakat Kalimantan Utara)
Ustadz Harsyidin pun menyatakan dukungannya kepada BWA dan mendoakan, "Kita dukung gerakan Wakaf Al-Qur’an ini, kita semangati kawan-kawan yang hendak berbuat baik dijalan Allah ini, semoga Allah membalas apa-apa yang mereka kerjakan dengan balasan yang berlipat ganda pula, diberikan keberkahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, diberikan kesehatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala".
Di penghujung pertemuan, beliau menjelaskan harapannya kepada BWA. "Kita berharap mudah-mudahan semuanya bisa bersinergi menyiapkan tempat, menyiapkan sumber daya, menyiapkan Al-Qur’annya, kemudian memotivasi mereka supaya semakin cinta, dengan semakin cinta mereka, mereka pun akan semakin sayang dengan Al-Qur’an. Dan kita juga bisa bersama-sama dengan mereka nanti masuk dalam surganya Allah Subhanahu Wa Ta'ala," tutup Ustadz Harsyidin.