18 November 2021

Al-Qur’an untuk Masyarakat Pelosok dan Tertinggal di Jawa Barat

Tag:
pedalaman jabarrawan aqidah

Al-Qur’an untuk Masyarakat Pelosok dan Tertinggal di Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah umat muslim terbanyak di Indonesia. Jumlah muslim di Jawa Barat yaitu 45.858.792 jiwa (menurut data tahun 2013). Selain itu, Jawa Barat juga memiliki pesantren dengan jumlah terbanyak untuk di Indonesia yaitu 8728 pesantren dengan total 907.515 santri. (https://opendata.jabarprov.go.id/id_)

Kondisi geografis Jawa Barat mayoritas merupakan daerah pegunungan membuat masih banyaknya daerah pelosok di Jawa barat yang dikategorikan desa tertinggal oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa barat. Ada 121 desa yang dikategorikan desa tertinggal.

Meskipun terkesan Jawa Barat adalah provinsi yang sudah maju dan berkembang. Ternyata, kebutuhan Al Quran dari masyarakat dan pimpinan pondok pesantren di Jawa Barat cukup banyak. Terutama di wilayah terpelosok dan tertinggal masih banyak masjid, pondok pesantren, maupun lembaga pendidikan agama yang kesulitan untuk mendapatkan Al Quran bahkan tidak memiliki Al Quran yang layak sama sekali. Sulitnya masyarakat mendapatkan Al Quran dikhawatirkan akan terjadi pendangkalan akidah dan makin meningkatnya buta aksara Al Quran.

(Banyak Al Qur'an di Daerah Pelosok Jawa Barat yang Rusak)

(Banyak Al Qur'an di Daerah Pelosok Jawa Barat yang Rusak)

Pada September 2021 BWA melakukan distribusi Al Quran sekaligus survei terkait kebutuhan dan kesulitan masyarakat Jawa Barat khususnya di daerah pelosok untuk mendapatkan Al Quran.

Di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya BWA melakukan distribusi Al Quran sebanyak 3.000 Al Quran bersama dengan KH. Burhanudin yang merupakan pimpinan pondok pesantren As Shofa Tasikmalaya. Beliau juga merupakan salah satu tokoh NU lama di Tasikmalaya. Tim BWA mendapati kondisi Al Quran di ponpes As Shofa selain jumlahnya yang sedikit dan kondisi Al Qurannya sudah tidak layak, seperti tidak ada cover, halamannya tidak lengkap, halamannya sobek hingga ada yang sudah tinggal seperempat jumlah halamannya.

(Silaturahmi BWA dengan Pengurus Ponpes As-Shofa)

(Silaturahmi BWA dengan Pengurus Ponpes As-Shofa)

Andra yang merupakan anak KH. Burhanudin mengatakan, “Terakhir mendapatkan bantuan Al Quran kurang lebih sepuluh tahun lalu, selama ini santri disini belajar menggunakan Al Quran per juz itupun dipakai bersama hingga berlima, ya beginilah kondisi pesantren disini,” ungkapnya. “Alhamdulillah, setelah BWA datang untuk survey dan mendistribusikan  Al Quran disini pengajian di masjid semakin hari semakin ramai. Dulu biasanya hanya 60-70 orang yang datang, sekarang bisa lebih dari 140 orang yang datang. Banyak juga masyarakat yang datang dari jauh/desa lain yang menanyakan Al Quran nya masih ada atau ngga,” ujarnya.

Tim juga bertemu dengan Ketua Majelis Taklim DKM Masjid Besar Al Islah. DKM tersebut membawahi 10 desa dengan jumlah DKM hampir 150. Selain itu Tim BWA bertemu dengan Kepala Sekolah TK Bunga Bangsa II.

Menurut Ketua DKM Masjid Al Islah, setelah dibagikannya Al Quran oleh BWA minat masyarakat untuk menghadiri pengajian yang diadakan oleh DKM Masjid Besar Al Islah semakin meningkat. Masyarakat yang belum mendapatkan Al Quran sedikit kecewa dan menanyakan kapan BWA akan mengadakan distribusi Al Quran karena masih banyak lembaga dakwah islam seperti LPPTKA, DMI, MUI, Pengajian Muslimah yang memerlukan Al Quran.

Menurut Kepala Sekolah TK Bunga Bangsa II Ibu Ulfa, “Orang tua murid sangat antusias dengan diberikannya Al Quran. Karena dengan adanya Al Quran anak-anak mereka bisa mendapat pembinaan baca tulis Iqro dan Al Quran dari mulai mereka TK”. Namun selama ini yang menjadi kendala dalam pembinaan agama terutama baca tulis Al Quran adalah ketersediaan Al Quran fisik di daerah pelosok.

Tim BWA kemudian melanjutkan perjalanan menuju Garut dan Sekitarnya. Untuk titik survey yaitu Pondok Pesantren Takhashus Al Quran Miftahul Huda, Masjid Jami Miftahul Huda, Majid Jami Albarokah. Ust. Aam yang merupakan pengurus Pondok Pesantren Miftahul Huda mengatakan, “Al Quran disini memang merupakan barang mewah dan hanya masyarakat tertentu yang bisa membeli. Setiap pengajian, masyarakat yang memiliki Al Quran harus berbagi kepada masyarakat yang lain agar bisa ikut melihat ayat Al Quran yang sedang dibahas”. Kondisi geografis yang berada di lereng gunung Cikuray menjadi salah satu faktor sulitnya akses Al Quran untuk masyarakat sekitar tersebut.

(Ponpes Miftahul Huda Butuh Al Quran)

(Ponpes Miftahul Huda Butuh Al Quran)

Tim BWA melanjutkan perjalanan menuju Bandung dan sekitarnya bersama Ustadz Moekti Chandra atau biasa dipanggil Abah Ottey. Beliau sudah melakukan dakwah hingga pelosok-pelosok Indonesia. “Yang terakhir mengajukan ke Abah ada lebih dari 8.000 Al Quran untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Karena masih banyak masjid-masjid yang kekurangan Al Quran,” tutur beliau. Beliau menambahkan, “Ada masjid yang hanya memiliki 2 Al Quran dalam 1 masjid tersebut dan kondisinya pun sudah copot-copot”.

BWA mengajak umat muslim untuk berpartisipasi dalam program Wakaf Al Quran dan Pembinaan umat muslim di pelosok Jawa Barat sebesar 114.000 Al Quran. Diharapkan bisa menjadi pembuka untuk terciptanya masyarakat Jawa Barat Islami yang berpedoman kepada Al Quran dan As Sunnah. Dan juga supaya buta aksara Al Quran di Jawa Barat terus bisa menurun. Semoga Al-Qur’an yang mereka baca akan menjadi pahala yang tidak terputus untuk kita semua.

Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:

Rp.17.100.000.000 (114.000 Al-Qur'an @Rp.150.000)

Partner Lapang:

KH. Burhanudin M.Pd.I

#BWA #WAP #WakafQuran #InovasiWakaf