Al Qur’an untuk Masyarakat Pedalaman dan Kepulauan Sulawesi Tengah
Jumlah penduduk Sulawesi Tengah yang memeluk agama Islam adalah sebanyak 2,39 juta jiwa. Angka tersebut mencapai 78,9% dari total penduduk Sulawesi Tengah. Di Sulawesi Tengah terdapat 110 masjid besar, 3.039 masjid jami’, 11 masjid bersejarah, dan 543 masjid di tempat publik. Untuk Pesantren sendiri ada 88 pondok pesantren dengan jumlah santri sebanyak 11.243 santri baik yang mukim maupun yang tidak mukim.
Pada tahun 2021 BWA telah selesai mendistribusikan Al-Qur’an untuk program Wakaf Al Qur’an dan Pembinaan (WAP) Banggai Kepulauan dan Taliabu sebanyak 50.000 Al-Qur’an dan respon masyarakat disana sangat antusias terhadap aktivitas ini. Masyarakat merasa sangat terbantu dan berterima kasih karena walaupun mayoritas masyarakat disana muslim namun untuk bisa mendapatkan Al-Qur’an dapat dikatakan sangatlah sulit.
(Al-Qur'an untuk Anak-anak Belajar Mengaji)
Sulawesi Tengah memiliki banyak pulau dan ada beberapa daerah-daerah yang masih sulit untuk diakses. Setelah BWA melakukan distribusi Al-Qur’an, ternyata masih banyak masyarakat disana yang membutuhkan Al-Qur’an. Da’i-da’i lokal masih banyak yang membutuhan Al-Qur’an sebagai sarana pembelajaran dan untuk santri-santri mereka.
Pada november 2021, tim BWA melakukan survey terkait kebutuhan Al-Qur’an untuk Sulawesi Tengah. Tim BWA bertemu dengan Ustadz Haerudin Ampana yang merupakan salah satu pengurus Forum Peduli Mualaf. Beliau menceritakan bahwa untuk setiap tahunnya, pertambahan jumlah mualaf bisa mencapai 100 orang di wilayah Ampana dan sekitarnya.

(Ustadz Haerudin Menunjukkan Kondisi Al-Qur'an yang Sudah Tidak Layak)
“Di Sulawesi Tengah ini banyak suku pedalamanan yang sudah memeluk Islam, salah satu nya yaitu suku ta/wana. Setelah mereka masuk Islam, ada permasalahan atau kebutuhan lain yaitu agar mereka bisa menpunyai Al-Qur’an,” tutur Ustadz Khaerudin.
“Akses menuju ke daerah pedalamanan tempat mereka tinggal susah. Mayoritas mualaf di pedalaman tidak bisa baca Al-Qur’an karena tidak punya,” ujar beliau.
Kebutuhan Al-Qur’an di Pulau Wakai
Tim mendapatkan informasi dari partner lapangan BWA di Sulawesi Tengah, bahwa di pulau Wakai sangat membutuhkan Al-Qur'an. Merespon informasi tersebut, pada ahad 7 november 2021, tim BWA bergegas menuju pulau Wakai. Dari Pelabuhan Ampana, tim menempuh jalur laut dengan kapal speed boat dengan kapasitas angkut 22 orang penumpang. Butuh waktu 1,5 jam untuk bisa sampai di kecamatan Wakai.
Meskipun cuaca sedang tidak bersahabat, namun alhamdulillah kapal yang tim tumpangi melaju dengan lancar dan aman. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan banyak keindahan pulau-pulau kecil sebelum sampai di Wakai.
(Al-Qur'an untuk Masyarakat Sulawesi Tengah)
Sampai di Pelabuhan Wakai, tim BWA bertemu dengan Ustadz Harmoko (34 tahun). Dia dikenal sebagai tokoh pemuda di Pulau Wakai, desa Tojo una-una. Tidak menunggu waktu lama setelah beristirahat sejenak, tim diajak berkeliling desa, untuk melihat keadaan dan kebutuhan masyarakat disana.
Di desa Taningkola tim bertemu dengan bapak imam masjid. Tim BWA menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan untuk kegiatan survey kebutuhan Al-Qur'an. Mendengar hal tersebut, beliau merasa sangat senang dan terharu. Bapak Imam menuturkan kondisi masyarakat di Desa Taningkola. Beliau merasa prihatin dan sedih melihat banyak anak-anak mengaji dengan satu Al-Qur'an secara bergantian. “Sedih saya melihat banyak Al-Qur'an yang sampulnya sudah rusak dan halaman-halamannya hilang. Ini tentu menjadi kendala dalam proses pembelajaran. Kami sangat menginginkan adanya Al-Qur'an untuk anak-anak mengaji,” tutur beliau.
.jpg)
(Bapak Imam Masjid Taningkola)
“Di kepulauan Togean ini kalo mau mencari Al-Qur'an itu sangat sulit, tidak ada yang jual. Jika ingin beli masyarakat harus ke kota Ampana menyeberang pulau dengan biaya yang tidak sedikit, lebih mahal ongkosnya dibanding harga Al-Qur’an,” ujar Ustadz Harmoko.
“Kami mengharapkan bantuan Al-Qur'an dari muslimin yang peduli kepada kami. Harapannya semoga anak-anak disini bisa semakin bersemangat dalam mengaji,” tutupnya.
Melihat banyaknya kebutuhan Al-Qur’an dan antusias saudara muslim di Sulawesi Tengah untuk memiliki mushaf Al-Qur’an, BWA mengajak seluruh umat muslim di Indonesia untuk mensukseskan program WAP Sulawesi Tengah dengan target 100.000 Al-Quran wakaf. Mari berwakaf di BWA, semoga menjadi amal jariyah yang tidak ada putusnya hingga yaumil akhir, aamiin.
Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:
Rp.15.000.000.000 (Lima Belas Milyar Rupiah) (100.000 Eksemplar Al-Qur’an @Rp.150.000)
Partner Lapang:
Ustadz Haerudin Ampana
#BWA #InovasiWakaf #WAP #WakafAlQur’an dan Pembinaan #RoadTrip #SulawesiTengah
Update #19: Distribusi 200 Al-Qur’an di Ponpes Lisaanul Arab, Parigi – Menguatkan Langkah Para Penghafal Kalamullah
Senin, 19 Januari 2026, tim Badan Wakaf Alquran (BWA) melanjutkan rangkaian program WAP Sulawesi Tengah dengan mendistribusikan mushaf Al-Qur’an ke Pondok Pesantren Lisaanul Arab yang berada di Kampai, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong.

(Distribusi Alquran untuk muslim di Sulawesi Tengah)
Perjalanan pagi itu mengantarkan tim hingga tiba di lokasi sekitar pukul 09.47 WITA. Pondok pesantren yang berada di wilayah pesisir Parigi tersebut menyambut kedatangan tim dengan suasana yang syahdu. Dari kejauhan terdengar lantunan bacaan Al-Qur’an para santri yang sedang menjalani proses belajar mengajar. Aktivitas mereka tetap berjalan seperti biasa—sebagian duduk melingkar bersama ustadz, sebagian lagi menundukkan kepala di atas mushaf, mengulang hafalan demi hafalan.
Di tempat inilah sebanyak 200 mushaf Al-Qur’an diserahkan kepada pihak pesantren. Pondok Pesantren Lisaanul Arab sendiri saat ini membina sekitar 500 santri yang belajar sekaligus menghafal Al-Qur’an melalui berbagai tahapan pembelajaran.
Tim BWA kemudian berkesempatan bertemu langsung dengan Ustadz Abdul Muchid Bunandi, Lc., selaku pimpinan pondok. Dengan penuh rasa syukur beliau menyampaikan apresiasi kepada para wakif yang telah berkontribusi melalui program wakaf Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, kami sudah beberapa kali menerima program wakaf Al-Qur’an dari sahabat wakaf BWA. Salah satu program kami adalah mewajibkan para santri menghafal Al-Qur’an melalui beberapa tahapan. Alhamdulillah, santri-santri kami sudah bisa memanfaatkan amal jariah para donatur dari seluruh nusantara. Bahkan ada yang sudah menghafal 9 juz, 10 juz, dan ada juga yang sudah mencapai 14 juz. Program ini sangat membantu kami, terutama bagi para santri yang terkendala memiliki Al-Qur’an,” tutur beliau.
Ucapan tersebut menggambarkan betapa wakaf yang dititipkan oleh para donatur tidak hanya berhenti pada proses distribusi, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian para santri. Mushaf-mushaf itu dibaca berulang kali, dihafalkan setiap hari, bahkan menjadi teman setia dalam perjalanan para santri menghafal Kalamullah.
Ustadz Muchid juga menjelaskan bahwa karena intensitas pemakaian yang sangat tinggi, sebagian mushaf yang digunakan para santri akhirnya mengalami kerusakan.
“Kami juga selalu mendoakan semua pewakif yang sudah ikut dalam program wakaf AlQur’an ini. Semoga Allah memudahkan urusan mereka, memberkahi rezekinya, dan menjadikannya sebagai amal jariah. Dalam proses pemanfaatan Al-Qur’an ini, kadang setelah satu, dua, bahkan tiga tahun, ada mushaf yang sudah koyak atau kulitnya terlepas. Terutama pada Juz 1 dan Juz 30 yang paling sering dibaca dan dihafalkan, sehingga akhirnya tidak layak pakai lagi,” jelas beliau.
Karena itulah, kehadiran mushaf-mushaf baru dari para wakif menjadi sangat berarti. Setiap mushaf yang tiba bukan sekadar buku baru di rak pesantren, tetapi menjadi harapan baru bagi para santri yang sedang menapaki jalan sebagai penghafal Al-Qur’an.
Prosesi penyerahan Al-Qur’an berlangsung dalam suasana penuh suka cita. Para santri yang menyaksikan tampak antusias. Bagi mereka, mushaf baru berarti lembaran baru untuk terus menambah hafalan dan memperdalam kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Menutup pertemuan tersebut, Ustadz Abdul Muchid juga menyampaikan ajakan kepada kaum muslimin agar terus mendukung program wakaf Al-Qur’an.
“Dengan program yang sangat bermanfaat ini, kami mengajak kaum muslimin untuk samasama bergabung dalam program BWA ini. Sukses selalu. Mari berwakaf melalui BWA,” ujarnya.
Sahabat Wakaf BWA yang dirahmati Allah, setiap mushaf yang Anda wakafkan hari ini sedang dibaca oleh para santri di berbagai penjuru negeri. Ada yang sedang mengeja huruf demi huruf, ada yang mengulang hafalan, dan ada pula yang perlahan-lahan menambah juz demi juz dalam hafalan mereka. Semoga setiap ayat yang mereka baca menjadi aliran pahala yang terus mengalir kepada Anda.
Semoga Allah menerima setiap wakaf yang dititipkan melalui Badan Wakaf Alquran (BWA), melapangkan rezeki para wakif, memberkahi keluarga mereka, serta menjadikannya sebagai amal jariah yang pahalanya terus mengalir hingga hari akhir. Aamiin.
Update #18: Poso Mengaji dan Kegiatan Distribusi 1.000 Al-Qur'an Wakaf
Kondisi Muslim minoritas di Poso merupakan bagian dari sejarah panjang dinamika sosial dan keagamaan di wilayah ini. Meskipun pernah mengalami masa-masa sulit, upaya untuk membangun toleransi dan kerukunan terus dilakukan. Keberhasilan dalam membangun masyarakat yang harmonis akan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Langit di pesisir Poso menyaksikan pertemuan indah antara berbagai kalangan. Tua muda, kaya miskin, semua berkumpul dalam satu tujuan, mendekatkan diri pada Al-Qur'an.

(Poso Mengaji)
Salah satu kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Wakaf Al-Qur'an (BWA) di Sulawesi Tengah salah satunya yakni "Poso Mengaji" kegiatan ini menjadi jembatan silaturahmi bagi saudara-saudara muslim di Poso.
Tepatnya di Masjid Desa kotorondo team BWA membagikan amanah Al-Qur'an wakaf kepada saudara-saudara muslim yang hadir pada acara Poso mengaji.
Alhamdulillah lebih dari 1.000 Al-Qur'an tersalurkan pada kegiatan Poso mengaji kepada jamaah TPQ TPA dan majelis-majelis taklim.

(Peserta kegiatan)
Salah satu penuturan dari peserta yang hadir yakni Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Lamacca kota Poso Ustadz Muhammad Danial menyebutkan bahwa kegiatan ini sangat positif sekali.
“Kami berbangga dengan adanya Al-Qur'an wakaf sebanyak ini semoga menambah giroh semangat keislaman dan menumbuhkan minat baca Al-Qur'an di kalangan muda-mudi serta menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Kami juga turut mengajak kepada seluruh saudara Muslim agar senantiasa bersatu membantu bahu-membahu khususnya dalam pengadaan wakaf mushaf mushaf Al-Qur'an,” tutur beliau.
Update #17: Kesabaran Menanti Tiba Al-Qur'an
Namanya Ustadz Uun, pada tahun 2018 lalu ia pernah menjadi relawan gempa tsunami liquifaksi Palu membersamai team BWA menangani para korban yang terdampak musibah.
Lama tak jumpa sekitar 3 tahun lalu, terakhir ketemu Ustadz Uun di Ampana saat survey kebutuhan Al-Qur'an, Alhamdulillah kini Allah pertemukan kembali saat pendistribusian Al-Qur'an.
Bermula saat team BWA di palu melaksanakan pelatihan alfatihah bersanad tanpa sengaja Ustadz Uun melihat kegiatan team via status WhatsApp, beliau bertanya apakah sekiranya masih ada sisa Al-Qur'an untuk dibagikan buat anak-anak Madrasah Tsanawiyah Al-Khoirot Sigi? Alhamdulillah ada 40 mushaf yang insyaallah bisa dibagikan.

Dari kota palu kami mulai bergerak menuju Kabupaten Sigi dan sampai di MTs Al-Khoirot, di sekolah ini Ustadz Uun menjadi tenaga pengajar sekaligus merangkap TU Sekolah. Ustadz Uun menyampaikan kepada kami rasa syukur karena siswa siswi nya dapat bantuan Al-Qur'an,
"Alhamdulillah ustadz di sekolah kami setiap Minggu rutin wajib membaca Al-Qur'an bersama untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, karena sekolah kami dari Senin sampai Minggu hanya hari Jumat saja waktu liburnya, kini siswa kami tidak pusing pusing lagi bergantian satu Al-Qur'an berdua bertiga karena selama ini Al-Qur'an kami hanya ada dikasih oleh para alumni dan mahasiswa KKN.”
Saat melihat siswa siswi sangat berantusias meminta Al-Qur'an, rasanya 40 mushaf yang dibagikan sangatlah kurang sedangkan murid ada 120 siswa. Alhamdulillah untung saja kami membawa Al-Qur'an wakaf lebih sebanyak 100 eksemplar jadi kami turunkan semua untuk siswa siswi yang hadir.
Ustadz Uun menyampaikan rasa terimakasih atas kepedulian teman-teman yang berkunjung semoga program ini terus dapat terlaksana dan juga tentunya doa kepada para wakif semoga mengalir pahala jariyah aamiin.
Update #16: Bahagianya Masyarakat Terpencil di Sulteng Mendapat Bantuan Al-Qur’an
Pada pengujung tahun 2024, Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) yang didukung oleh Samudera Peduli dan beberapa komunitas lainnya, telah mendistribusikan Al-Qur’an wakaf sebanyak 24.000 eksemplar, iqro, dan juga melaksanakan kegiatan pelatihan Al Fatihah bersanad di di kota Palu dan membuat kegiatan Poso mengaji di Sulawesi Tengah.
“Daerah cakupan distribusi meliputi Kota Palu, Kab Sigi, kab Donggala, Kab Poso, Kab Morowali Utara, Kab Morowali dan Kepulauan Menui," ujar Sardi selaku partner lapangan BWA untuk Sulawesi Tengah.
Al-Qur’an sebanyak 24.000 ini merupakan distribusi tahap kedua. Pada bulan November 2022 lalu, BWA telah mendistribusikan Al-Qur’an sebanyak 20.000 sehingga total Al Quran yang telah didistribusikan yaitu 44.000 dari total target untuk Provinsi Sulawesi Tengah sebanyak 100.000 Al Quran nantinya.

“Kebutuhan Al-Qur’an bagi masyarakat Sulawesi Tengah memang tinggi, sebagai contoh untuk wilayah Kecamatan Bungku Utara yang merupakan salah satu daerah terpelosok di Sulawesi Tengah selama ini belum pernah ada bantuan Al-Qur’an sebanyak ini “1.000” untuk kecamatan Bungku Utara," ujar Ustadz Nurwali Sondeng (Partner Lapang BWA) yang juga sebagai ketua Lembaga persatuan Mualaf Morowali.
Di wilayah Kepulauan Menui, sebanyak 1.023 Eksemplar Al-Qur’an Samudera Peduli yang diamanahkan melalui BWA telah diterima.
"Alhamdulillah amanah ini telah kami sampaikan secara prioritas ke beberapa Lembaga Pendidikan seperti TPQ, Majelis Taklim dan Sekolah, karena kami merasakan betul untuk wilayah kepulauan seperti ini tentu Al-Quran menjadi barang yang langka dan mahal. Maka tak jarang kalau di TPQ akan sering ditemui anak-anak yang mengaji Al-Qur’annya secara bergantian bahkan satu al-quran bisa 2-3 Orang anak bergantian," ujar dia.
Di Kota Palu, BWA bersama Ust. Abdurrahman Dihya mudir ponpes Mafatih Wanayasa telah melaksanakan kegiatan pelatihan Alfatihah bersanad. “Saya merasa bersyukur BWA bisa membantu kami dalam kegiatan distribusi Al Quran dan memberikan Pelatihan Alfatihah bersanad, saya kira ini sangat penting apalagi untuk para imam dan juga guru pengajian karena mereka ini lah yang terjun langsung ke masyarakat. Jadi sangat penting untuk bisa melafadzkan Al fatihah dan dan surat-surat lainnya dengan baik dan benar,” ungkap Muhammad Ichal.
Di Kabupaten Poso, tim BWA juga melaksanakan kegiatan Poso Mengaji yang dilaksanakan di wilayah pesisir Desa Tokorondo. Lebih dari seribu orang peserta yang hadir dari lima desa undangan memadati halaman Masjid Raya Tokorondo untuk bershalawat, mengaji dan menerima Al-Quran wakaf BWA.
"Terimakasih sebesar-besarnya karena ini merupakan sebuah event pengajian besar yang selama ini ada di daerah kami," ujar Muhammad Danial Pembina komunitas Kaca Muslimah Poso.
BWA pun mengapresiasi dukungan dari Samudera Peduli yang telah berkolaborasi untuk memberikan Al-Qur’an wakaf di Sulawesi Tengah. BWA juga mengajak kaum muslimin untuk terus ikut mensukseskan program 100.000 Al Quran untuk masyarakat Sulawesi Tengah terutama yang berada di daerah pelosok maupun ujung terluar kepulauan yang membutuhkan Al-Qur’an.
Update #15: Terima Kasih, BWA Sangat Peduli dengan Kami yang Ada di Pelosok
Pada kegiatan distribusi Al-Qur’an wakaf untuk Provinsi Sulawesi Tengah, sebelum meneruskan distribusi Al-Qur’an amanah para wakif untuk desa Dataran Bulan, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, tim menyempatkan untuk bersilahturrahim ke Dinas Sosial setempat.
Alhamdulillah dalam kesempatan tersebut tim dapat bertemu langsung dengan Bapak H Rusmin Labudu S.Sos. M.Si, selaku Asisten III dan sekaligus Plt. Kadis Sosial Kabupaten Tojo Una-Una, di ruangan kerjanya.

(Serah Terima Al-Qur’an Wakaf)
“Dengan ini saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada teman-teman dari Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) yang sudah peduli kepada masyarakat, khususnya di Kabupaten Tojo Una-Una. Yang prioritasnya masyarakat di Dataran Bulan, ada sebagian di wilayah kepulauan, yang digunakan (Al-Qur’an wakaf) untuk kegiatan keagamaan, baca dan memahami secara lebih kaffah diwilayah terpencil,” ungkap H. Rusmin Labudu S.Sos. M.Si.
Di akhir pertemuan beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya atas Al-Qur’an wakaf untuk warga di pelosok Sulawesi Tengah. “Ini perlu diperhatikan, didistribusikan Al-Qur’an nanti sebagai bahan untuk dipelajari, dipahami dan dihapal untuk kepentingan-kepentingan keagamaan. Dan terakhir saya mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman dari BWA yang telah berpartisipasi dan telah pedulikan kami dalam rangka memberikan bantuan berupa Al-Qur’an,” tutup beliau.
Update #14: Untuk pembelian Al-Qur’an Di Sini Butuh Biaya Paling Tidak 1 Juta Lebih
Melanjutkan kegiatan distribusi Al-Qur’an wakaf untuk Provinsi Sulawesi Tengah, tim BWA mendistribusikan sebanyak 60 mushaf Al-Qur’an dan terjemah untuk warga muslim di Dusun III, Desa Kavetan, Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

(Kegiatan Distribusi di Desa Kavetan)
Dusun tersebut berada di pulau tersendiri, terpisah dengan pulau-pulau lainnya dan juga jauh dari kota Ampana. Setibanya tim di sana, Alhamdulillah tim dapat bertemu dengan Bapak Jemy Manoarfa selaku kepala desa Kavetan. 75 persen masyarakat desa Kavetan bermata-pencaharian di bidang perikanan, mencari ikan-ikan di laut.

(Serah Terima Al-Qur’an dengan Kepala Desa)
“Kami berterima kasih kepada BWA atas bantuan Al-Qur’annya. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Desa Kavetan itu mayoritas penduduknya beragama Islam, tentunya kami apresiasi sekali atas bantuan ini. Dan mudah-mudahan mungkin berikutnya ada lagi bantuan dari BWA,” ungkap beliau.

(Al-Qur’an telah Diterima Warga Kavetan)
Bapak Kades Jemy pun menjelaskan terkait kendala masyarakatnya dalam membeli Al-Qur’an. “Kita dari desa ini untuk pembelian Al-Qur’an ini harus memakan biaya paling tidak 1 juta lebih, itu untuk ongkos transportasi, biaya makan, dan penginapan. Dari Ampana sekitar 35 mil, kalau naik umum( kapal) sekitar 3 jam, jadi kami sangat berterima kasih atas bantuan ini, karena sangat membantu untuk masyarakat desa Kavetan ini,” tutup beliau.
Update #13: Kerjasama untuk Menyebarkan Al-Qur’an ke Seluruh Pelosok Negeri
Pada kegiatan distribusi Al-Qur’an untuk wilayah Sulawesi Tengah, tim BWA beserta perwakilan Wakaf Nurul Taqwa Indosat dan rekan lapang bertolak dari salah satu dermaga di Kecamatan Ampana Kota yang merupakan pusat pemerintahan di Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah menuju Pulau Bambu.
Setelah menempuh kurang lebih 4 jam perjalanan laut dengan kapal nelayan milik rekan lapang, akhirnya tim BWA sampai di Pulau Bambu. Alhamdulillah selama perjalanan, Allah memberikan keselamatan bagi tim semua, ombak kecil dan terkadang besar menjadi teman perjalanan tim menuju Pulau Bambu.

(Perjalanan Laut untuk Mendistribusikan Al-Qur’an)
“Alhamdulillah, perkenalkan kami perwakilan dari Wakaf Nurul Taqwa bekerja sama dengan BWA. Alhamdulillah perjalanan dari dermaga Ampana, luar biasa perjalanan kami, kurang lebih 4 jam, InsyaAllah ini perjalanan tauhid kita, Subhanallah. Dan saat ini kita menyerahkan 100 Al-Qur’an lebih, mudah-mudahan bisa bermanfaat”, ungkap Pak Haji Agus Triono selaku perwakilan pengurus (bendahara) Wakaf Nurul Taqwa Indosat.

(Serah Terima Al-Qur’an secara Simbolis)
“Dan mudah-mudahan yang mewakafkan juga mendapatkan pahala yang berlipat ganda, dan yang membaca juga, InsyaAllah. Kami berharap di hari-hari berikutnya atau di tahun-tahun berikutnya mungkin bisa banyak kerja sama lagi untuk menyebarkan Al-Qur’an di seluruh pelosok negeri, nusantara ini, InsyaAllah,” tutup beliau.
Update #12: Al-Qur’an Anda Sudah Diterima Para Penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Madinah
Desa Porame merupakan desa yang berada di kaki Gunung Nokilalaki, masuk kedalam wilayah administrasi Kab. Sigi. Desa yang berada di daerah pelosok ini ternyata berdiri salah satu pondok pesantren yaitu Ponpes Tahfidzul Qur’an Al Madinah.
Di Pondok yang sederhana inilah puluhan santri dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah datang untuk menimba ilmu, mereka memiliki cita-cita untuk bisa menjadi penghafal Al-Qur’an. Lokasinya yang jauh dari pusat keramaian kota menjadikan pesantren ini ideal untuk menciptakan para hafidz-hafidz Al-Qur’an.

(Bangunan Ponpes Tahfidzul Qur’an Al Madinah)
Di tengah kondisi yang serba keterbatasan, tidak serta merta menyurutkan semangat para santri untuk bisa menggapai cita-cita mereka. Ustadz Yusuf selaku pimpinan pondok menyampaikan kepada tim BWA terkait tujuan nya untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai “kekasih” kita.
“Para santri di sini, kami ingin biasakan untuk selalu dekat dengan Al-Qur’an, setiap hari mulut mereka tidak pernah berhenti melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Saya ingin menjadikan Al-Qur’an ini sebagai “kekasih” mereka,” ujar beliau.

(Kegiatan belajar para santri Tahfidzul Qur’an Al Madinah)
Alhamdulillah tim BWA bisa datang berkunjung ke pondok untuk mendistribusikan Al-Qur’an wakaf yang akan dipergunakan oleh para santri-santri penghafal Al-Qur’an di sana. Ustadz Muhammad Yusuf mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan tim BWA.
“Alhamdulillah pada kesempatan hari ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa, datang jauh-jauh dari Jakarta membawakan “hadiah” berupa Al-Qur’an untuk santri-santri kami. Kami sangat senang sekali, sudah dari beberapa hari lalu kami di sini berdoa kepada Allah agar ada yang mau sudi datang ke tempat kami ini untuk membawakan Al-Qur’an bagi santri-santri kami. Alhamdulillah pada hari ini doa kami telah dikabulkan oleh Allah SWT,” ujar Ustadz Yusuf.

(Ustadz Muhammad Yusuf, pimpinan Ponpes Tahfidzul Qur’an Al Madinah)
Salah satu santri yang sangat mencuri perhatian kami adalah Akbar. Menurut cerita Ustadz Yusuf, Akbar harus kehilangan kedua orang tuanya pada saat bencana gempa dan tsunami Palu pada tahun 2018 silam. Anak berusia 12 tahun ini sekarang harus hidup sebatang kara.
“Santri Akbar, satu-satunya santri yatim piatu kami di sini. Pada bencana Palu 2018 silam dia harus kehilangan kedua orangtuanya. Di sini dia bercita-cita untuk bisa menjadi hafidz Al-Qur’an agar di akhirat kelak, bisa menghadiahkan kedua orangtuanya berupa mahkota yang terangnya seperti matahari,” ucap Ustadz Yusuf kepada tim BWA.

(Akbar, santri Ponpes Tahfidzul Qur’an Al Madinah)
Beliau menambahkan, “mudah-mudahan dengan datangnya Al-Qur’an dari BWA ini bisa menjadi penambah semangat Akbar untuk bisa menggapai cita-citanya, Aamiin,”.
Di akhir pertemuan Ustadz Yusuf mendoakan agar BWA dan para wakif selalu diberikan kesehatan dan kemudahan rezeki. “Mudah-mudahan tim BWA selalu diberikan Kesehatan dan dilancarkan selalu segala urusannya, untuk para wakif semoga apa yang telah di wakafkan menjadi amalan jariyah yang akan terus mengalir hingga ke alam kubur, Aamiin,” tutup beliau seraya mendoakan.
Update #11: Kami Di Pelosok Belum Pernah Menerima Wakaf Al-Qur’an Seperti Ini
Jum’at 11 November 2022 lalu, tim BWA sampai di dermaga Desa Bambu, Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah. Desa Bambu berada di salah satu pulau yang berada Sulawesi Tengah, yaitu Pulau Bambu. Alhamdulillah setibanya kami di sana, kami dapat bertemu langsung dengan Bapak Isman Karim, selaku kepala desa Bambu dan juga masyarakat sekitar.

(Penyerahan Al-Qur’an Wakaf)
“Pada hari ini saya mendapatkan wakaf Al-Qur’an dari BWA. Saya sangat bersyukur sekali, sangat berterima kasih atas apa yang diberikan ini, dan InsyaAllah akan bermanfaat bagi masyarakat di desa Bambu. Dan memang wakaf Al-Qur’an ini sangat kami butuhkan di desa kami, terima kasih,” ungkap Bapak Isman, kepala desa Bambu.
Beliau pun melanjutkan, “Karena selama ini belum ada wakaf seperti ini, wakaf Al-Qur’an ini belum pernah ada. Kami di pelosok, betul-betul sangat mengharapkan hal-hal yang seperti ini. Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh bapak-bapak,” sambungnya.

(Al-Qur’an Wakaf untuk Anak-anak di Kampung Bambu)
Bapak Isman pun berharap semoga BWA bisa kembali datang membawakan Al-Qur’an bagi warganya. “Kami berharap, semoga saja bapak-bapak dari BWA ini datang lagi membawa Al-Qur’an. Karena masih ada sekitar kurang lebih 100 KK lagi yang membutuhkan, di desa ini penghasilannya bisa dibilang agak kurang, itulah kehidupan di pelosok desa seperti ini, apalagi kepulauan,” tutupnya.
Mari berwakaf Al-Qur’an untuk saudara muslim kita di pelosok Sulawesi Tengah, semoga Allah membalas kebaikan para wakif dengan keberkahan di dunia dan akhirat, aamiin.
Update #10: 5.000 Al-Qur’an Untuk Masyarakat Pulau-Pulau dan Pelosok di Toli-Toli
BWA melalui program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAP) mendistribusikan sebanyak 20.000 Al-Qur’an untuk masyarakat muslim yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah. Alhamdulillah dari total 20.000 Al-Qur’an yang didistribusikan, sebanyak 5.000 eksemplar dialokasikan untuk masyarakat di Kabupaten Toli-Toli.
Kabupaten Toli-Toli merupakan salah satu kabupaten terujung di Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk menuju kesana, dari Kota Palu harus menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 10 jam perjalanan.

(Anak-anak di pulau Kabetan)
Kabupaten Toli-Toli sendiri memiliki beberapa pulau dan daerah yang tergolong sulit untuk diakses. Itulah alasan mengapa BWA mengalokasikan Al-Qur’an wakaf sebanyak 5.000 Eks untuk masyarakat Toli-Toli. Sebagai contoh untuk menuju salah satu pulau di Kabupaten Toli-Toli, yaitu Pulau Kabetan, tim BWA harus melakukan perjalanan laut lebih kurang 2 jam perjalanan dengan menggunakan perahu nelayan. Dan perlu di ketahui juga pulau Kabetan memiliki jumlah pendidik lebih dari 1.000 jiwa. Untuk mendapatkan Al-Qur’an mereka harus ke kota kecamatan di daratan.

(Perjalanan Laut untuk mendistribusikan Al-Qur’an)
Ustadz Dzar selaku da’i muda di Toli-Toli banyak bercerita kepada kami bahwa masyarakat Toli-Toli ini membutuhkan Al-Qur’an. “Masih banyak pulau-pulau seperti pulau Kabetan dan pulau Simatang ini yang masyarakatnya mayoritas muslim, membutuhkan Al-Qur’an, namun dari segi jarak dan biaya sangatlah tidak terpikirkan jika hanya pergi sejauh itu hanya untuk membeli Al-Qur’an,” ujarnya.

(Ponpes Sasaran Distribusi Al-Qur’an di Kab. Toli-Toli)
“Alhamdulillah, BWA hadir di Toli-Toli untuk mendistribusikan Al-Qur’an dari mulai pulau-pulau hingga ke pelosok seperti kec. Galang dimana kita harus menggunakan kendaraan roda dua, karena jalur yang dilewati tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Alhamdulillah teman-teman dari Polsek Galang ikut serta dalam kegiatan distribusi ke beberapa TPQ di Kec. Galang dengan kendaraan roda sehingga berjalan lancar,” tambahnya.

(Distribusi Al-Qur’an Bersama Polsek Galang)
“Alhamdulillah dengan 5.000 Al-Qur’an ini mudah-mudahan bisa menjadi pemicu bagi kita umat islam di sini. InsyaAllah masyarakat di sini selalu menunggu kedatangan BWA di distribusi tahap-tahap berikutnya, mengingat kebutuhan Al-Qur’an di sini tinggi dan minat anak-anak untuk belajar Al-Qur’an juga sangat antusias,” tutupnya.
Target BWA untuk Provinsi Sulawesi Tengah yaitu 100.000 Al-Qur’an dan alhamdulillah telah terhimpun 20.000 Al-Qur’an yang saat ini telah di distribusikan. Oleh karena itu, masih ada kekurangan 80.000 Al-Qur’an lagi dan masih ada kesempatan bagi para wakif, untuk berwakaf di BWA. Yuk mari berwakaf di BWA.
Update #9: Senyuman Bahagia Anak-anak di Pelosok Sulawesi Tengah Terima Al-Qur’an Wakaf
Pada kegiatan distribusi Al-Qur’an di Kabupaten Parigi Moutong, tim BWA menyasar ke daerah-daerah pelosok. Salah satunya adalah Desa Patingke yang berada di Kecamatan Tinombo. Jarak Tinombo dari ibukota kabupaten yaitu Parigi kurang lebih sekitar 156 KM dengan waktu tempuh yang diperlukan 4-5 jam menggunakan jalur darat.
Sedikit informasi mengenai Patingke, sebelum tahun 2012 Patingke ini merupakan sebuah dusun yang masuk kedalam wilayah Desa Lombok Barat kemudian pada tahun 2012 terjadi pemekaran dan sekarang Patingke sudah menjadi sebuah desa. Desa Patingke sendiri lokasinya berada di Pegunungan Tinombo.
Distribusi di wilayah Tinombo ini, tim BWA didampingi oleh seorang da’I yang bernama Ustadz Ramli. Beliau sudah sejak tahun 2012 mulai berdakwah di wilayah pelosok Tinombo khususnya di desa Patingke.
Ustadz Ramli bercerita kepada tim BWA terkait motivasinya untuk aktif berdakwah di wilayah pelosok, “motivasi saya melakukan dakwah ke wilayah pelosok seperti Patingke adalah karena saya melihat adanya upaya pendangkalan akidah kepada masyarakat di sana,” ujar Ustadz Ramli.
Panasnya sinar matahari siang itu, tidak menyurutkan semangat tim membawakan Al-Qur’an untuk masyarakat di Desa Patingke. Untuk bisa sampai kesana, tim harus menggunakan moda transportasi sepeda motor. Jalan berbatuan ditambah banyaknya tanjakan curam menyebabkan akses menuju Desa Patingke ini tidak bisa dilalui oleh mobil.

(Beberapa Kali Tim Harus Ikut Mendorong Motor Dikarenakan Tanjakan Yang Sangat Curam)
Setelah menempuh waktu perjalanan selama kurang lebih 2 jam, tim akhirnya tiba di Desa Patingke. Masyarakat menyambut dengan hangat kedatangan kami disana. Bapak Risman selaku kepala dusun V, Desa Patingke mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan BWA yang telah membawakan Al-Qur’an untuk masyarakat nya.
“Ribuan terima kasih saya ucapkan untuk tim BWA yang sudah mau datang ke desa kami ini membawakan Al-Qur’an. Tentu hal ini sangat bermanfaat untuk kami di sini, mengingat kami di sini dengan banyak keterbatasan yang kami miliki, Al-Qur’an menjadi sesuatu yang sulit untuk bisa kami dapatkan,” ujar Bapak Risman.

(Serah terima Al-Qur’an secara simbolis dengan Bapak Risman)
InsyaAllah Al-Qur’an dari para wakif sekalian akan dimanfaatkan oleh anak-anak di Desa Patingke untuk belajar mengaji. Selain itu juga akan dimanfaatkan oleh Ustadz Ramli untuk mengajarkan baca tulis Al-Qur’an kepada orang-orang tua di Desa Patingke.

(Bahagianya anak-anak Desa Patingke mendapatkan Al-Qur’an BWA)
Mudah-mudahan apa yang sudah diwakafkan oleh para wakif sekalian ini mendapatkan balasan dari Allah SWT, menjadi amalan jariyah yang pahalanya akan terus mengalir, aamiin.
Update #8: Datangnya BWA Menambah Semangat Kami Para Da’I di Pedalaman
Alhamdulillah pada bulan November 2022 lalu BWA telah mendistribusikan sebanyak 20.000 Al-Qur’an wakaf untuk masyarakat muslim di Sulawesi Tengah. Perjalanan distribusi dilakukan oleh tim BWA menuju beberapa daerah diantaranya yaitu, Kabupaten Parigi Moutung, Kabupaten Toli-Toli, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Tojo Una-una. Pendistribusian dibagi oleh 2 (dua) tim dengan harapan agar bisa terus men-capture dengan nyata bahwa masih banyak ditemukan daerah-daerah yang sangat membutuhkan Al-Qur’an.

(Anak-anak Desa Patingke)
Tim pertama melakukan distribusi menuju Kabupaten Parigi Moutung dan Kabupaten Toli-Toli. Banyak hal-hal menarik yang ditemukan tim selama perjalanan distribusi ini. Salah satunya yaitu saat tim menuju Kecamatan Tinombo. Di Pegunungan di Kecamatan Tinombo banyak terdapat masyarakat yang dikenal dengan Suku Lauje yang Alhamdulillah sekarang banyak yang telah memeluk agama Islam. Salah satu Desa yang BWA distribusikan Al-Qur’an yaitu Desa Patingke.
Di sini tim bertemu dengan Ustadz. Ramli yang merupakan da’i yang membina mualaf-mualaf suku Lauje di Desa Patingke. Sebagai informasi untuk menuju Desa Patingke jika kita dari Kota Palu harus melalui perjalanan darat selama kurang lebih 7 jam perjalanan. Dengan 2 jam perjalanan yang cukup ekstrem karena merupakan jalan yang curam dan pada sebelah kanan dan kirinya adalah jurang yang sangat dalam.

(Ustadz Rami Memperlihatkan Kondisi Jalan Menuju Desa Patingke)
“Ya beginilah kondisi jalur dakwah kami untuk dapat terus membina mualaf-mualaf di atas sana, karena kalo bukan kita siapa lagi? Namun, Alhamdulillah dengan adanya teman-teman seperti BWA ini menjadi salah satu penambah semangat saya untuk terus berdakwah karena melihat teman-teman (BWA) ini jauh-jauh datang dari Jakarta untuk menengok saudara muslim di pelosok ini. Berarti masih banyak yg peduli dengan kami,” tutur Ustadz Ramli.
“Alhamdulillah, BWA datang kesini membawa Al-Qur’an yang memang untuk wilayah kita yang berada di pelosok ini dengan masyarakat yang berjumlah lebih dari 250 kk di Desa Patingke dan di atas masih ada beberapa desa seperti Desa patingke ini,” ujar beliau.
“Merupakan hal yang kita tunggu (Al-Qur’an BWA) dan sangat membantu saya khususnya dalam berdakwah ke mualaf ini. Karena tanpa ada nya Al-Qur’an fisik ini akan sulit untuk saya sebagai dai pedalaman untuk mengajarkan baca tulis Al-Qur’an,” tambah beliau.

(Ustadz Ramli Sedang Mengajarkan Anak-anak Desa Patingke)
“Dari segi biaya sendiri juga, ini sangat membantu saya karena saya sendiri tidak mungkin membelikan mereka (para mualaf) Al-Qur’an. Sekali lagi saya sangat berterima kasih kepada teman-teman dari jakarta (BWA) yang sudah mau mendatangai kami ini. Semoga Allah SWT memudahkan segala urusan teman-teman (BWA) dan para wakif khususnya yang telah mewakafkan Al-Qur’an nya untuk kami ini. Aamiin,” tutup Ustadz Ramli.
Dengan terdistribusinya 20.000 Al-Qur’an ini berarti BWA telah mendistribusikan total 120.000 Al-Qur’an di Sulawesi Tengah. Masih ada kesempatan, karena dari target saat ini yaitu 100.000 Al-Qur’an baru terhimpun 20.000 Al-Qur’an yang saat ini telah di distribusikan pada bulan November ini. Oleh karena itu, yuk mari berwakaf di BWA.
Update #7: Semoga Dengan Adanya Pesantren dan Al-Qur’an ini Melahirkan Banyak Generasi Muda Qur’ani
Setelah mengunjungi beberapa titik destinasi distribusi Al-Qur’an di Sulawesi Tengah, tim BWA berencana kembali dari Wakai menuju Ampana, Sebelum tiba ke pelabuhan, tim menyempatkan singgah di kantor kecamatan Una-una Kepulauan Wakai.
Di sela-sela pertemuan dengan Pak Camat, beliau mengutarakan harapannya kepada tIm BWA untuk dapat segera bersinergi agar kegiatan kegiatan keagamaan di kepulauan Wakai dapat berlangsung secara rutin sehingga tidak ada masyarakat yang buta huruf Al-Qur'an. karena memang disini sulit untuk mendapatkan Al-Qur'an dan tidak ada juga yang jual di pulau ini. Di kepulauan Wakai sendiri terdapat 8.000 jiwa dan 2.000an KK mayoritas beragama Islam.
Kondisi cuaca mendung gerimis menemani tim BWA sepanjang perjalanan laut selama 3 jam dengan kondisi ombak cukup kencang. Alhamdulillah bakda dhuhur tim akhirnya tiba di pelabuhan Ampana.
Survei Kebutuhan Al-Qur’an di Dataran Bulan
Dataran Bulan merupakan sebutan daerah transmigrasi yang dibuka pada tahun 1995 yang pada saat itu masih masuk ke dalam kabupaten Poso. namun seiring berjalannya waktu, Sulawesi tengah berkembang dan menambah kabupaten baru yang bernama Kab. Ampana Tojo una-una yang salah satu daerah pedalaman disebut sebagai Dataran bulan.
(Bantu Muslim Sulawesi Tengah dengan Wakaf Al-Qur’an)
Sepanjang malam Ustadz Hasanain, tokoh muslim di Dataran Bulan, bercerita ke tim BWA terkait kondisi dakwah di pedalaman.
“Semenjak saya ke daerah transmigrasi ini bahkan ada 1 desa yang belum teraliri listrik, untuk sinyal di sana sangat susah. Baru tahun 2021 ini ada sinyal itupun hanya bisa dipakai untuk telepon saja klo untuk internetan tidak ada bandwithnya,” tutur Ustadz Hasanain
“Saya membangun pesantren di sana, sempat saya mengira tidak akan ada tanggapan masyarakat. Ternyata masyarakat banyak yang berantusias dan ini menjadi satu-satunya pesantren yang ada di sana. Saya berharap dengan adanya pesantren ini akan melahirkan banyak generasi muda qur’ani,” tutup beliau.
Update #6: Tidak Ada Al-Qur’an, Ibu-ibu Desa Sampobae Kesulitan Mengadakan Pengajian
Kembali melanjutkan kegiatan survery kebutuhan Al-Qur’an di Sulawesi Tengah, tim BWA mengunjungi beberapa lokasi di Pulau Wakai. Ketiga lokasi yang dikunjungi adalah Desa Sampobae, Desa Kololio, dan Desa Bambu.
Tim BWA menggunakan kapal ketinting milik salah satu warga lokal di sana untuk mengunjungi ketiga desa di Pulau Wakai.
Perjalanan pertama, tim menyusuri selat antara pulau Wakai dan pulau Togean sekitar 30 menit perjalanan laut akhirnya tim BWA sampai di Desa Sampobae. Di pulau tersebut terdapat sebanyak 120 kk, 470 jiwa yang terdiri dari suku Taa, Bugis & Salua, yang menghuni pulau Togean. Mayoritas masyarakat di sana bekerja sebagai nelayan dan bertani kebun. Partner lapangan kami Ustadz Harmoko, mengajak tim BWA ke Masjid Al Hidayah untuk melihat kondisi Al-Qur'an yang ternyata sudah pada rusak.

(Ustadz Harmoko, Partner Lapangan BWA)
Untuk menghidupkan aktivitas keagamaan di Desa Sampobae masyarakat khususnya ibu-ibu mengadakan pengajian pekanan tiap hari Jumat. namun karena tidak ada Al-Qur'an mereka kesulitan untuk mempelajarinya, dalam perjalanan survey ini tim BWA memberikan 5 mushaf Al-Qur'an untuk anak-anak mengaji di Masjid. Mereka berharap BWA dapat kembali lagi dengan membawa Al-Qur'an yang lebih banyak bagi muslim di Desa Sampobae.
Perjalanan menuju Desa Kololio, tim bertemu dengan pak Kades Arif Nugroho. Beliau berharap ada Al-Qur’an yang cukup untuk dibagikan ke warga-warganya. “Ada 4 TPA di Desa Kololio yang meminta Al-Qur'an ke saya untuk anak mengaji. Di Desa Kololio ini mayoritas suku Bobongko, Kaili, Bugis yang 100% beragama Islam,” terang Pak Kades.

(Kegiatan Survey Tim BWA)
Melanjutkan perjalanan, setelah sekitar 3 jam perjalanan laut tim BWA sampai di Desa Bambu. Di sana kami bertemu dengan salah satu tokoh dari suku Taa. Beliau menceritakan tentang kehidupan suku Taa di masa lalu. Suku Taa saat itu masih beragama animisme namun semenjak tahun 1982 banyak suku Taa yang mulai berbaur ke masyarakat nelayan suku Una-una. Alhamdulillah semenjak itu mulai masuk ke agama Islam secara bertahap.
Kehidupan suku Taa di Desa Bambu jauh dari perhatian pemerintah. Bahkan di Desa ini pegawai Puskesmas saja tidak betah untuk tinggal karena sulit air. Untuk tenaga pengajar sangat minim apalagi guru ngaji. Di sana pun Al-Qur'an hanya ada satu buah itu pun di masjid.
Beliau berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat di desa pedalaman ini, di pulau terluar kepulauan Wakai.
Update #5: Banyak Mualaf Pedalaman Ampana yang Membutuhkan Al-Qur’an
Dalam kegiatan survey kebutuhan Al-Qur’an untuk wilayah Sulawesi Tengah, tim BWA berangkat dari Kota Luwuk Banggai menuju Ampana. Perjalanan ke Ampana kurang lebih memakan waktu 5 jam jalur darat atau sekitar 229 km dari kota Luwuk Banggai. Di Ampana tim bertemu dengan Ustadz Heruddin Ketua Forum peduli mualaf Kab.Tojo Una-una.
“Alhamdulillah semenjak tahun 2019 ada 165 orang yang bersyahadat masal dari pedalaman Ampana Masyarakat Dataran Bulan. Semenjak itu saya berkonsentrasi untuk melaksanakan pembinaan bagi keluarga mualaf dan muslim Pedalaman dengan mengirimkan da'i dan mensuport kebutuhan dai pedalaman,” tutur Ustadz Heruddin.

(Ustadz Heruddin)
Keprihatinan ini bermula dari ketika ada mualaf yang kembali ke agama asal dengan mengajak anak istrinya. Hal ini terjadi karena tidak adanya atau kurangnya pembinaan akidah dan kurangnya perhatian terhadap para mualaf yang baru masuk Islam.
Ustad Haeruddin mulai mengenal BWA sejak distribusi Al-Qur'an Roadtrip palu tahun 2020 lalu, di mana beliau diamanahi untuk membagikan 200 Al-Qur'an untuk wilayah Ampana.
Alhamdulillah meskipun jumlah Al-Qur’an yang telah didistribusikan sedikit namun permintaan semakin bertambah banyak dari masyarakat, sehingga besar harapannya BWA dapat menginisiasi kembali program pengadaan Al-Quran terutama untuk daerah-daerah pedalaman yang sulit di jangkau apalagi yang belum ada akses jalannya. seperti di dataran bulan Tojo una-una, di kepulauan Wakai, Togean, Parigi, Moutong dan daerah Sulawesi Tengah lainnya.
Update #4: Antusias dan Harapan Masyarakat Desa Kololio Pulau Togean
Pada saat Tim BWA melakukan survey kebutuhan Al Quran untuk masyarakat Kep. Togean, Sulawesi Tengah akhir 2021 lalu selain mengunjungi Desa Pulau Bamboe yang terisolir, ada beberapa desa yang dikunjungi atas rekomendasi Ustadz Harmoko yang merupakan tokoh muda disana. Salah satu desa yang dikunjungi adalah Desa Kololio, Kec. Togean, Kab. Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.
Desa Kololio tergolong berada di Pelosok Pulau Togean. Untuk kesana tim harus menggunakan kapal nelayan dari Pelabuhan Wakai selama kurang lebih 45 menit. Tim harus melanjutkan dengan menggunakan sepeda motor milik masyarakat sekitar 1 jam dengan kondisi jalan yang bebatuan dan tanah tanpa ada aspal sama sekali dengan pemandangan hutan sebelum akhirnya memasuki desa.

(Tim BWA tiba di Desa Kololio)
Tim BWA disambut oleh Kepala Desa Kololio yaitu Bapak Arif Nugroho. Di desa ini terdapat 185 kk & 535 jiwa. Desa Kololio ini mayoritas suku Bobongko, Kaili, Bugis yang 100% warga beragama Islam. Tim BWA membawa sedikit Al Quran survey yang kemudian dibagikan langsung oleh beliau bersama dengan Ustadz Harmoko. Di sekitar Desa Kololio terdapat 4 Desa sekitar yang ternyata jarak antar desa tersebut cukup jauh. Alhamdulillah, melihat masyarakat Pulau Togean yang antusias membuat Bapak Arif Nugroho dan Ustadz Harmoko dengan penuh semangat membagikan Al Quran tersebut.
Ada cerita tak terlupakan yang tim jumpai, yaitu pada saat selesai membagikan Al-Qur'an rupanya beliau Bapak Kades terlupa untuk membagikan Al-Qur'an di desanya sendiri jadi untuk warganya tidak kebagian. Banyak warganya yang berharap untuk mendapatkan Al Quran karena kalau dipikir bisa jadi di satu rumah belum tentu memiliki Al Quran. Apalagi ternyata di Desa Kololio ini terdapat 4 TPA yang meminta Al-Qur'an untuk kegiatan anak mengaji.

(Bapak Kepala Desa Kololio Arif Nugroho)
Karena memang Wilayah Desa Kololio yang berada hingga masuk kedalam hutan pastinya sangat sulit untuk mendapatkan maupun membeli Al Quran. Bapak Arif Nugroho berharap memang kedatangan Tim BWA kesini bukanlah untuk terakhir kalinya karena selain warga desa beliau masih banyak desa-desa lain di Pulau Togean ini yang membutuhkan Al Quran untuk mengaji di TPA/TPQ yang berada di desa-desa tersebut.
Dari survey terkait kebutuhan di Desa Kololio, Kec. Togean. Kab. Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah ini Tim BWA mengajak masyarakat untuk melihat bahwa masih banyak saudara muslim kita di pelosok yang sulit mendapatkan Al Quran untuk mereka mengaji agar generasi-generasi penerusnya tetap paham akan apa itu Islam dan pentingnya mempelajari Al Quran. Yuk, mari Berwakaf di BWA dalam Program 100.000 Al Quran untuk Masyarakat Pedalaman dan Kepulauan di Sulawesi Tengah.
Update #3: Desa Terisolir di Kepulauan Togean Butuh Al Qur’an
Pada kegiatan survey terkait kebutuhan Al Qur’an di Provinsi Sulawesi Tengah pada akhir 2021 lalu menjadi suatu pengalaman yang luar biasa bagi tim BWA. Bagaimana tidak, pada saat tim mengunjungi Pulau Wakai yang merupakan bagian dari Kepulauan Togean ternyata ada pulau kecil di sana yang sangat terisolir berdasarkan informasi dari warga yang kemudian menyarankan tim BWA untuk kesana.
Pulau Bamboe merupakan salah satu desa yang menurut warga sekitar merupakan desa yang bisa dibilang “tertinggal” dan terisolir menurut mereka. Jika diurut dari perjalanan tim dari Pelabuhan Ampana, waktu yang kami tempuh untuk bisa tiba di sana memakan waktu dua jam perjalanan untuk menuju ke Wakai menggunakan boat lalu kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kapal nelayan dengan waktu tempuh kurang lebih sama, yakni dua jam perjalanan, jika di total waktu yang dibutuhkan selama perjalanan yaitu sekitar lebih dari empat jam.
Perjalanan menuju desa Bamboe terasa sangat menegangkan. Untuk menuju kesana jika dari Wakai diperlukan orang asli yang sangat paham dengan jalurnya, karena di sekitar pulau banyak terdapat karang-karang yang cukup tinggi yang bisa merusak kapal. Selain itu, kondisi desa Bamboo yang merupakan pulau yang berada di hilir membuat banyaknya buaya yang terdapat di sekitar pulau.
Alhamdulillah, tim BWA akhirnya tiba di desa Bamboe. Tim mengunjungi masjid kecil di sana yang kelihatannya baru diperbaiki.
“Saat tiba di desa Bamboe ini kami langsung ke masjid. Dan terrnyata di sini sulit air dan belum ada penerangan listrik PLTD maupun PLN, ada beberapa masyarakat yang menggunakan solar cell untuk penerangan lampu. Sangat menyedihkan jika melihat kondisinya, membuat kami menjadi sangat bersyukur,” cerita Nabil saat survey di Togean.

(Anak-anak antri mengambil air bersih di Masjid yang baru di renovasi)
Tim BWA berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Ustadz Harmoko, salah satu tokoh masyarakat di sana. Beliau menceritakan tentang kehidupan suku Taa di masa lalu. Suku Taa pada saat itu masih animisme, namun semenjak tahun 1982 banyak suku Taa yang mulai berbaur ke masyarakat nelayan suku una-una. “Alhamdulillah, sejak saat itu mulai banyak yang masuk agama Islam secara bertahap dan sekarang ini mayoritas penduduk disini sudah beragama Islam,” tutur Ustadz Harmoko.

(Ustadz Harmoko, Tokoh Masyarakat desa Bamboe Bersama Tim BWA)
Kehidupan suku Taa di desa Bamboe jauh dari perhatian pemerintah. Bahkan di desa ini pegawai puskesmasnya saja tidak betah untuk tetap tinggal dikarenakan sulit air. Tenaga pengajar sangat minim apalagi guru agama maupun da’i. Dikhawatirkan akan terjadi pendangkalan akidah di sana apabila hal ini tidak segera diselesaikan masalahnya.
Al Qur’an hanya ada di masjid dan itupun jumlahnya hanya satu sampai dua buah aja. Beliau berharap ada perhatian dari pemerintah maupun masyarakat untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat di desa pedalaman ini di salah satu pulau di kep. Togean yaitu Pulau Bambu atau biasa warga sana menyebut desa Bamboe.

(Kondisi Rumah Masyarakat di Desa Bamboe)
Melihat masih banyaknya daerah dengan kondisi seperti ini, BWA dalam program Wakaf Al Qur’an dan Pembinaan (WAP) Sulawesi Tengah mengajak untuk bersama-sama mensukseskan program 100.000 Al Qur’an untuk masyarakat pelosok dan kepulauan di Sulawesi Tengah. Semoga amal para wakif dan pihak-pihak yang telah mensupport kagiatan ini di balas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipatganda. Aamiin.
Update #2: Banyak Mualaf di Pedalaman Tinombo Parigi Moutong Rindu Memiliki Alqur’an
Pada tanggal 11-14 Februari 2022, Tim Indonesia Ngaji BWA melakukan pembinaan ke wilayah Sulawesi Tengah. Kegiatan yang bertema Indonesia Ngaji BWA Road To Sulawesi Tengah ini meliputi pelatihan cara cepat bisa baca Alqur’an, pelatihan Tahsin Al Fatihah bersanad, dauroh qur’an dan tabligh akbar.
Pada kesempatan pembinaan itu, Tim Indonesia Ngaji BWA dikunjungi oleh Ustadz Ramli seorang pembina mualaf dari pedalaman Tinombo Parigi Moutong Sulawesi tengah. Beliau meminta Tim Indonesia Ngaji BWA bisa memberikan pembinaan untuk para mualaf binaan di pedalaman Tinombo. Di pedalaman Tinombo, jumlah mualaf sampai saat ini berjumlah 780 jiwa dari 7 desa di kawasan kecamatan Tinombo, Tomini, Palasa, Sidoan dan Mepangah.

(Ustadz Ramli)
Ustadz Ramli banyak cerita keadaan para mualaf di pedalaman yang dibinanya. Mereka hidup dalam keadaan kekurangan sehingga mereka tidak mampu untuk membeli Alqur’an. Pedalaman Tinombo mebutuhkan Alqur’an kurang lebih 2000 mushaf. Semoga BWA dengan program Wakaf Alqur’an dan pembinaan bisa mewujudkan kerinduan para mualaf di pedalaman Tinombo untuk memiliki Alqur’an. Demikian disampaikan Ustadz Ramli.
Selain kerinduan memiliki Alqur’an, Ustadz Ramli juga mengutarakan bahwa para mualaf di pedalaman Tinombo membutuhkan pembinaan berupa pengetahuan dasar agama islam. Beliau juga mengharapkan adanya guru atau ustadz yang bisa tinggal beberapa bulan di pedalam Tinombo untuk mengajar cara baca Alqur’an yang benar dan membina mental motivasi islami para mualaf pedalaman.
Tim Indonesia Ngaji BWA dibentuk untuk terus mensupport program Wakaf Alqur’an dan pembinaan, dan akan terus melakukan pembinaan di seluruh pelosok nusantara.
Update #1: BWA Gelar Indonesia Ngaji Road To Sulawesi Tengah
REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- BWA (Badan Wakaf Al Qur’an) melalui program Wakaf Al-Quran dan Pembinaan (WAP) telah mendistribusikan lebih dari 1 juta Al-Quran wakaf ke seluruh pelosok Nusantara, terutama ke daerah-daerah yang mengalami rawan pendangkalan akidah. Distribusi Al-Quran wakaf tersebar dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam hingga ke Papua. Untuk mewujudkan Program WAP, maka BWA selain mendistribusikan Al-Quran juga melakukan pembinaan untuk umat islam yang telah menerima Al-Quran wakaf.
Tim Indonesia Ngaji dibentuk oleh BWA Inovasi Wakaf mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan ke seluruh pelosok Nusantara. Pembinaan dilakukan dengan berbagai program seperti Pelatihan Cara Cepat Baca Al-Quran Metode Abyan, Pelatihan Al fatihah Bersanad, Dauroh Quran dan Tabligh Akbar.
Setelah sukses melakukan pembinaan di Jawa Timur dengan tema Indonesia Ngaji BWA Road to Jawa Timur pada bulan desember 2021, kini Tim Indonesia Ngaji BWA melakukan pembinaan ke wilayah Sulawesi Tengah. Kegiatan yang bertema Indonesia Ngaji BWA Road To Sulawesi Tengah berlangsung pada tanggal 11-14 Februari 2022.
Kegiatan Indonesia Ngaji BWA diawali dengan mengadakan Kajian Ba’da Shubuh di Masjid Baiturrahim Lolu, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (11/2). Kemudian Tim Indonesia Ngaji BWA melakukan perjalan ke Masjid At Taqwa yang beralamat di Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutung, Sulawesi Tengah.
.jpeg)
(Cara Cepat Baca Quran Metode Abyan)
Pembinaan berlangsung selama tiga sesi dari pagi hari hingga malam hari. Sesi pertama di pagi hari adalah pembinaan berupa pelatihan Al Fatihah Bersanad. Sesi kedua dilakukan sore hari berupa Dauroh Quran. Sesi terakhir yang berlangsung setelah shalat Maghrib yaitu pembinaan berupa khataman Quran bersama 30 santri yang berasal dari pesantren-pesantren sekitar kabupaten Parigi Moutong. Kegiatan dilanjutkan dengan Tabligh Akbar setelah shalat Isya berjamaah.
“Semoga dengan rangkaian acara pembinaan dari pagi hari hingga malam hari, bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan ummat muslim sekitar Parigi Moutong,” kata Ustadz Muhammad Marsi dari Tim Indonesia Ngaji BWA dalam rilis yang diterima Republika.co.id.
Salah satu kegiatan pembinaan oleh BWA Inovasi Wakaf kepada masyarakat penerima Al-Quran wakaf adalah Pelatihan Cara Cepat Baca Al-Quran Metode Abyan.
Hari berikutnya, Sabtu (12/2), Tim Indonesia Ngaji berangkat ke Desa Lobu, Kecamatan Parigi Barat. Pada hari itu, pembinaan yang dilakukan Tim Indonesia Ngaji BWA berupa Pelatihan Cara Cepat Baca Al-Quran Metode Abyan.
“Pembinaan ini dilakukan dikarenakan masih banyak warga di Desa Lobu yang belum bisa membaca Al-Quran. Bahkan banyak yang belum sama sekali mengenal huruf Al-Quran,” kata Deni Rahman dari perwakilan Masjid Al Furqan, Desa Lobu Mandiri pada saat pelatihan berlangsung.
.jpeg)
(Kegiatan Pembinaan BWA)
Pada kesempatan yang sama, Ustadz Hasyim Mustofa dari Tim Indonesia Ngaji BWA berharap dengan adanya pelatihan ini akan dapat memberantas buta huruf Al-Quran di Desa Lobu ini. “Alhamdulillah, warga antusias untuk hadir di pelatihan ini,” ujarnya.
.jpeg)
(Peserta Kegiatan Metode Cepat Baca Quran)
Ustadz Muhammad Marsi mengemukakan, Tim Indonesia Ngaji BWA akan terus melakukan pembinaan untuk mewujudkan Program Wakaf Al-Quran dan Pembinaan. “Insya Allah bulan depan, kegiatan pembinaan akan dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Sumber:
https://republika.co.id/berita/r7cooc374/bwa-inovasi-wakaf-gelar-indonesia-ngaji-bwa-road-to-sulawesi-tengah