Masyarakat di Kepulauan Maluku Utara Sulit Mendapatkan Al-Qur'an
Lima tahun telah berlalu sejak tim BWA berhasil menghimpun dan mendistribusikan 50.000 eksemplar Al-Qur'an di kepulauan Maluku Utara – Halmahera. Menurut Ustadz Supri, Da’i Pedalaman Halmahera, sejak akhir 2019 hingga akhir 2023 belum ada lagi bantuan pembagian Al-Qur'an secara merata bagi saudara muslim di sana, khususnya yang tinggal di pulau-pulau terpencil dan masyarakat pedalaman Halmahera. Dalam kurun waktu lima tahun, banyak Al-Qur'an yang dibagikan sudah rusak dan tak layak pakai.
Secara geografis, Maluku Utara merupakan gugusan kepulauan dengan rasio daratan dan perairan sebesar 24:76. Dari 395 pulau yang ada, sekitar 83% atau 331 pulau belum berpenghuni. Terdapat beragam suku yang mendiami wilayah Maluku Utara, termasuk Suku Madole, Suku Pagu, Suku Ternate, Suku Makian Barat, dan banyak lagi.

(Muslim di Maluku Utara Membutuhkan Al-Qur’an)
Perekonomian daerah Maluku Utara sebagian besar bersumber dari sektor pertanian, perikanan, dan jenis hasil laut lainnya. Menurut BPS, jumlah penduduk Maluku Utara mencapai 1.232.632 jiwa, dengan mayoritas penduduknya beragama Islam sebesar 75.34%. Sementara, Kristen Protestan sebanyak 23.96%, Katolik 0.68%, Hindu 0.01%, dan Buddha 0.01% menurut data BPS 2017. Di wilayah ini terdapat 1055 masjid dan 28 pondok pesantren.
Bagi masyarakat perkotaan, memenuhi kebutuhan akan Al-Qur'an bukanlah hal yang sulit karena toko-toko yang menjual Al-Qur'an sangat mudah ditemui. Namun, situasi berbeda dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Mereka seringkali harus menempuh jarak yang jauh untuk membeli Al-Qur'an karena jarangnya toko yang menjualnya. Dengan kondisi ini, dibutuhkan perhatian dan bantuan lebih lanjut untuk memastikan masyarakat di kepulauan Maluku Utara mendapatkan Al-Qur'an.
Perjalanan BWA ke Pulau Morotai
Pulau Morotai, pulau terluar dari Kepulauan Maluku Utara yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik di sebelah utara, terdiri dari 33 pulau kecil dengan 7 pulau berpenghuni dan 26 pulau tidak berpenghuni. Kedatangan tim BWA di Pulau Morotai disambut hangat oleh beberapa da’i lokal yang pada tahun 2019 lalu turut membantu dalam distribusi Al-Qur’an.
Meskipun tim BWA hanya membawa 40 mushaf Al-Qur’an wakaf, Ustadz Suaib segera mengajak untuk melakukan survei ke beberapa pulau kecil di sekitar Pulau Morotai. Salah satunya adalah Pulau Ngele-Ngele, yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dengan speedboat dari Pulau Morotai.
Setibanya di Pulau Ngele-Ngele, tim BWA dikenalkan kepada Ustadz Isra Rajak, kepala Madrasah Jamiatul Khairat. Beliau menyampaikan rasa senangnya atas kunjungan tim BWA. Ia juga mengutarakan bahwa sejak tahun 2019, mushaf Al-Qur’an BWA yang tersisa hanya tinggal satu buah karena pada waktu itu mereka hanya menerima empat mushaf. Padahal, kebutuhan Al-Qur’an di sekolah ini masih sangat tinggi.
“Al-Qur’an sangat dibutuhkan di sini karena sulit didapatkan. Jika ingin membeli, biasanya harus menitip kepada keluarga atau tetangga yang sedang berada di kota,” kata Ustadz Isra Rajak.
Hasil perjalanan ini menyoroti betapa mendesaknya kebutuhan akan Al-Qur’an yang layak bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil seperti Ngele-Ngele. Dengan akses yang sulit dan distribusi yang terbatas, banyak penduduk yang kesulitan mendapatkan Al-Qur’an untuk kegiatan ibadah dan pendidikan.
Perjalanan BWA ke Halmahera Timur
Perjalanan menuju pedalaman Halmahera Timur dimulai dari Ternate, menyebrangi lautan dengan speedboat menuju ibu kota Sofifi. Setelah itu, tim melanjutkan perjalanan darat selama 8 jam menuju Kecamatan Tobelo. Setibanya di pelabuhan Tobelo, alhamdulillah terdapat kapal KM Illahi sehingga tim langsung memesan kamar untuk melanjutkan perjalanan laut ke Wasileo, desa Patlean, yang memakan waktu sekitar 16 jam.

(Anak-anak di Halmahera)
Wasileo menjadi titik awal perjalanan tim menuju pedalaman Halmahera, dengan rute survei ke desa-desa Tatam, Pololo, Jara-Jara, Dorosago, Way Ampli, dan Buli. Secara umum, masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Halmahera Timur bekerja sebagai petani kopra. Namun, di luar rencana, harga kopra yang turun drastis menyebabkan penurunan jumlah penumpang yang menuju Buli, sehingga kapal harus sering singgah di beberapa dermaga untuk mencari penumpang, meskipun tetap sepi.
Di tengah perjalanan, ombak besar membuat hampir semua anggota tim mengalami mabuk laut, meski untungnya tidak ada yang muntah. Suara kayu kapal yang berderak akibat hantaman gelombang musim barat cukup keras, menambah tantangan perjalanan ini.
Setibanya di Wasileo Patlean, tim beristirahat di rumah Pak Aman Ahsan, Kepala Desa setempat. Dari sini, tim dikenalkan oleh Pak Anshar, seorang penduduk asli Wasileo yang bisa berbahasa Tobelo, untuk membantu komunikasi dengan suku Togotil.
Untuk mencapai lokasi suku Togotil, yang sebagian anggotanya sudah menjadi muslim, tim melanjutkan perjalanan ke daerah Dokot-Dokot, dekat dengan SP 1 (Satuan Pemukiman 1) daerah Transmigrasi. Tim menggunakan 4 motor karena kondisi pedalaman yang sulit dijangkau. Mereka juga membawa sembako dan beberapa dus Al-Qur’an untuk dibagikan.

(Distribusi Al-Qur’an, 2018)
Dalam perjalanan, tim singgah di desa Tukur-Tukur dan bertemu dengan keluarga Pak Adam, seorang mualaf dari suku Togotil. Pak Adam dan keluarganya mengalami intimidasi bahkan ancaman pembunuhan karena keputusannya menjadi mualaf, berbeda dengan keluarganya yang lain. Tim berusaha menguatkan hati mereka untuk bersabar dan banyak beribadah kepada Allah SWT agar intimidasi tersebut tidak mengganggu pikiran mereka.
Saat Pak Adam berkomunikasi dengan Ustadz Hazairin, dia menunjukkan tempatnya untuk sholat dan menyatakan bahwa dia hanya takut kepada Allah SWT. Ustadz Hazairin menegaskan bahwa sebagai muslim, kita hanya takut kepada Allah. Pak Adam menegaskan keyakinannya dengan takbir yang heroik, “Allahu Akbar”.
Lokasi yang sangat terpencil inilah menjadikan daerah ini sangat layak untuk mendapatkan bantuan Al-Qur’an. BWA berencana mendistribusikan 100.000 Eksemplar Al-Quran ke wilayah Kabupaten Jailolo, Kabupaten Weda, Kabupaten Maba, Kabupaten Labuha, Kabupaten Tobelo, Kabupaten Sanana Kepulauan Sula, Kepulauan Morotai, Kepulauan Taliabu, Kepulauan Ternate, Kepulauan Tidore, Kepulauan Joronga.
Mari bersama BWA membantu saudara-saudara muslim kita di Maluku Utara agar mendapatkan mushaf yang layak, semoga menjadi amal jariyah bersama.
Nilai Wakaf yang Dibutuhkan:
Rp.15.000.000.000 (100.000 Al-Qur’an @Rp.150.000 & 25.000 Iqra)
Partner Lapang:
Ustadz Supri
#BWA #InovasiWakaf #WakafAlQuran #RoadTrip #MalukuUtara #Halmahera