Jan 9

Kalau kita mengenal sawah tadah hujan, yakni sawah yang sumber air utamanya dari air hujan, ternyata ada juga beberapa desa di Indonesia yang “hidup” hanya saat musim hujan. Mengapa demikian ? karena sumber air utama di desa tersebut adalah dari air hujan.

Bila musim hujan berlalu memasuki kemarau, warga desa terpaksa berhemat air karena tidak ada sumber air atau kalaupun ada tidak mencukupi kebutuhan warganya. Salah satunya adalah desa Giripurwo di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sudah puluhan tahun warga Desa Giripurwo, Gunungkidul terutama di dusun Dusun Tlogo Warak, Dusun Kacangan, Dusun Jlumbang krisis air bersih. Padahal ada sumber air yang melimpah di desa tersebut, sekitar 500 meter dari pemukiman penduduk Dusun Tlogo Warak terdapat aliran sungai bawah tanah yang airnya jernih.

Penemuan sungai bawah tanah ini terjadi pada tahun 1997 secara tidak sengaja, ketika seorang penduduk desa menyusuri Gua Pego untuk mencari sarang burung walet. Ditengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam. Temuan ini ditindaklanjuti oleh aparat desa dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat asal suara aliran air tersebut.
Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan airnya jernih. Namun sayang dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giripurwo belum bisa menikmati air bersih tersebut karena untuk mengaksesnya ke dasar gua cukup sulit. Dari mulut gua harus masuk dan menuruni tangga hingga kedalaman sekitar 50 meter.

Setelah itu, berjalan merunduk memasuki lorong yang ketinggiannya kurang dari satu meter sejauh 80 meter. Kemudian bisa berjalan lagi dengan berdiri tegak sekitar 20 meter berikutnya. Setelah itu, memasuki lubang yang menukik 90 derajat vertikal ke bawah sedalam 100 meter! Warga pun menggunakan tangga tali dan tambang agar bisa sampai di dasarnya. Di dasar gua inilah terdapat aliran sungai jernih yang mengalir menuju Pantai Selatan.Air dalam gua ini sangat segar dan bersih karena telah mengalami proses penyaringan secara alami.Dengan debit air sekitar 30 liter per detik, diprediksikan dapat mencukupi kebutuhan penduduk 3 dusun yang saat ini berpenghuni sekitar 800 KK tersebut.

“Airnya enak, bisa digunakan untuk kebutuhan tiga dusun,” ungkap Darminto, penanggung jawab project sarana air bersih, usai meminum air sungai itu saat survei ke lokasi pada 30 Oktober 2011 lalu. Untuk mengangkat air bersih ini agar bisa dinikmati oleh warga dengan mudah maka Badan Wakaf Al-Qur’an pun merencanakan project pembangunan sarana air bersih. Dengan langkah sebagai berikut.

Pertama, membangun tempat dudukan mesin pompa air submersible di dasar gua di tepi sungai bawah tanah tersebut, yakni dengan menggali dasar gua sedalam 2-3 m. Setelah itu mesin pompa diturunkan di pasang di tempatnya tersebut.

Kedua, mengalirkan air sungai ke dalam tempat pompa air submersible tersebut , agar diperoleh debit air yang cukup dan pompa air selalu dalam keadaan terendam maka dibangun semancam tanggul alami untuk menahan aliran air. “Bendungan ini diharapkan mampu menahan air secara alami dan membuat dasar gua penuh dengan air sehingga diperoleh volume yang cukup agar dapat di pompa ke atas menuju permukaan tanah,” ungkap Darminto.

Ketiga, pipanisasi dari pompa di dasar gua hingga ke permukaan tanah, selisih ketinggiannya antara keduanya mencapai 150 m.

Keempat, Air yang diangkat ini di alirkan ke bak penampungan dengan kapasitas 15.000 liter yang terdapat di dekat mulut gua. Sampai disini tahap pertama pembangunan sarana air bersih selesai, kemudian akan dilanjutkan ke tahap kedua yaitu :

Kelima, membangun bak penampungan air di atas bukit yang memiliki ketinggian 50 m dari bak penampungan dekat mulut gua, dengan kapasitas 15.000 liter. Tahap ini untuk memudahkan mengalirkan air ke bak-bak pembagi di tiga dusun Desa Giripurwo itu. Project Pengadaan Sarana Air Bersih ini, insya Allah, segera terlaksana dengan dukungan dana wakaf dari para wakif sekalian.

Partipasi anda dapat disalurkan dengan cara  mengklik di sini.

Dec 27

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Husna, KH Ahmad Zainuddin Qh, tak kuasa menahan haru saat peresmian wakaf sarana air bersih, Sabtu (17/12) pagi di Pondok Pesantren Al-Husna, Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

“Selama ini, waktu santri seringkali habis dipakai antri air di sumur tua yang debitnya sangat kecil. Bahkan, tidak jarang sudah lama antri malah tidak jadi mandi karena kehabisan air. Insya Allah, dengan wakaf ini kami tidak akan kesulitan air bersih lagi,” tutur Kyai Zain, demikian ia biasa disapa.

Wakaf sarana air bersih di Ponpes Al-Husna diberinama Badar 2, memiliki sumur dengan kedalaman 80 meter dan dilengkapi dengan 4 buah bak penampungan dengan kapasitas masing-masing 1.000 liter. Satu unit penampungan untuk pesantren dan 3 unit lagi untuk warga sekitar pondok.

Pada acara peresmian tersebut, Program Owner Water Action for People, Ustadz Hari Moekti, menyampaikan tausiyah agar warga memanfaatkan air bersih dari sumur Badar 2 ini dengan sebaik-baiknya dan yang lebih penting lagi adalah bersyukur kepada Allah SWT.

Hadir dalam peresmian sumur dan sarana air bersih tersebut sekitar 150 warga. Nampak pula Ketua MUI Cikampek Timur, KH Empud Syarifuddin, Ketua RW 10, Purwoedi, Ketua RT 02/10, Ajan, dan Ketua RT 03/10, Mamo.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Hari Moekti menyerahkan pula 1.000 eksemplar Alquran wakaf kepada Kyai Zain untuk didistribusikan ke berbagai pesantren, masjid, dan majelis taklim di sekitar Kecamatan Cikampek. Seperti halnya sarana air bersih, Alquran yang didistribusikan itu merupakan wakaf  dari kaum Muslimin yang dihimpun Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA). Jika anda tertarik untuk mengetahui program BWA, silakan klik: www.wakafquran.org

Dec 27
Keberadaan Gerai Wakaf BWA di pusat perbelanjaan Mega Bekasi Hypermall (MBH) merupakan salah satu bukti bahwa perusahaan pemilik mall, PT MBH Management, memang konsisten dengan misinya yang ingin memberikan nilai tambah kepada kota dan masyarakat Bekasi, khususnya bagi pengunjung dan penyewa toko Mega Bekasi Hypermall.
Maka tidak aneh, bila mall yang resmi beroperasi pada Juli 2003 ini langsung setuju ketika BWA mengajukan proposal pendirian Gerai BWA pada penghujung tahun 2009 lalu.
“Manajemen menilai keberadaan BWA sangat penting dan memberikan nilai lebih kepada pengunjung Mega Bekasi,” ujar Direktur MBH Gunarso Ismail, Selasa (8/11) ketika ditanya alasan persetujuannya dengan gerai yang berlokasi tepat di depan Masjid At Tijaaroh, Ground Floor, MBH tersebut.
Menurutnya, keberadaan gerai tersebut memudahkan pengunjung dalam menunaikan ibadah sunah wakaf. “Memudahkan pengunjung dalam melaksanakan wakaf dan membantu mensosialisasikan wakaf bagi para pengunjung umat Muslim yang masih awam dengan prosedurnya,” ungkapnya.
Di samping mendukung keberadaan gerai BWA, peran dan kepedulian hypermall yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani No 1 Kota Bekasi ini pun ditunjukkan dengan melakukan kegiatan sosial secara rutin.
Kegiatan tersebut di antaranya adalah: bakti sosial, kegiatan donor darah bekerjasama dengan instansi terkait, santunan anak yatim dan kaum dhuafa, sumbangan qurban untuk kaum dhuafa yang juga didukung oleh para penyewa toko-toko MBH, serta memberikan wadah bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk menjalankan usaha di MBH dengan sistem memberikan keuntungan bagi keduabelah pihak.[]

Keberadaan Gerai Wakaf BWA di pusat perbelanjaan Mega Bekasi Hypermall (MBH) merupakan salah satu bukti bahwa perusahaan pemilik mall, PT MBH Management, memang konsisten dengan misinya yang ingin memberikan nilai tambah kepada kota dan masyarakat Bekasi, khususnya bagi pengunjung dan penyewa toko Mega Bekasi Hypermall.

Maka tidak aneh, bila mall yang resmi beroperasi pada Juli 2003 ini langsung setuju ketika BWA mengajukan proposal pendirian Gerai BWA pada penghujung tahun 2009 lalu.

“Manajemen menilai keberadaan BWA sangat penting dan memberikan nilai lebih kepada pengunjung Mega Bekasi,” ujar Direktur MBH Gunarso Ismail, Selasa (8/11) ketika ditanya alasan persetujuannya dengan gerai yang berlokasi tepat di depan Masjid At Tijaaroh, Ground Floor, MBH tersebut.

Menurutnya, keberadaan gerai tersebut memudahkan pengunjung dalam menunaikan ibadah sunah wakaf. “Memudahkan pengunjung dalam melaksanakan wakaf dan membantu mensosialisasikan wakaf bagi para pengunjung umat Muslim yang masih awam dengan prosedurnya,” ungkapnya.

Di samping mendukung keberadaan gerai BWA, peran dan kepedulian hypermall yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani No 1 Kota Bekasi ini pun ditunjukkan dengan melakukan kegiatan sosial secara rutin.

Kegiatan tersebut di antaranya adalah: bakti sosial, kegiatan donor darah bekerjasama dengan instansi terkait, santunan anak yatim dan kaum dhuafa, sumbangan qurban untuk kaum dhuafa yang juga didukung oleh para penyewa toko-toko MBH, serta memberikan wadah bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk menjalankan usaha di MBH dengan sistem memberikan keuntungan bagi keduabelah pihak.[]

Dec 27
Karena tidak tahan mengalami kesulitan air bersih, Mak Uli, warga Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memutuskan pulang kampung ke Purwakarta, Jawa Barat.
Kemarau yang berkepanjangan membuat Mak Uli, penjaja kue keliling itu, dan juga warga dusun Sukamaju lainnya kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
Hujan yang hanya turun delapan kali sejak April 2011 lalu membuat lima sumur warga yang berada di dusun ini kering. “Air sumur kami sudah lama tidak ada airnya,” ungkap Ust Abdurrahim, Ketua Takmir Mushala Sukamaju pada pertengahan Oktober lalu.
Satu-satunya sumur tua yang masih mengeluarkan air ada di Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju, maka warga dan santri pun antri air di sumur tersebut. Karena tidak sebanding antara debit air dengan orang yang membutuhkannya, tidak jarang 24 santri Al Husna mengalah untuk tidak mandi.
Krisis air inilah yang menyebabkan Mak Uli yang juga anggota jamaah pengajian ibu-ibu  asuhan KH Ahmad Zainuddin Qh, Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna, berpamitan hendak pindah ke Purwakarta. Awalnya Kyai Zain mengira Mak Uli pindah lantaran dagangannya tidak laku.  “Henteu, dagangan mah hasilna lumayan, ngan iyeu caina teu aya, (Tidak, dagangan hasilnya lumayan, hanya saja tidak ada air),” jawab Mak Uli.
Sumur Pompa Air Dalam
Untuk mencari jalan keluar dari krisis air yang dialami pesantren dan warga di Sukamaju, Badan Wakaf Al-Qur’an melakukan survey geolistrik di sekitar tanah pesantren pada 19 Oktober lalu.
Menurut perhitungan tim survey BWA,  ada cadangan air yang cukup besar di kedalaman antara 70-100 meter di bawah tanah. Namun, untuk mengambilnya harus dibuat sumur bor hingga kedalaman 100 meter tersebut kemudian dipompakan kepermukaan dengan pompa air submersible.
Air sumur ini akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan. Masing-masing dengan kapasitas 1.000 liter yang di tempatkan 1 unit di pesantren dan 2 unit lainya di tengah-tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.
“Semoga dengan (wasilah sarana air bersih) ini warga semakin semangat dalam mempelajari Islam dan kesulitan santri selama ini bisa terselesaikan,” tutur Kyai Zain, pimpinan Ponpes Al Husna sekaligus nadzir wakaf untuk memelihara dan mengelola sarana air bersih yang segera dibangun ini.
Walaupun saat ini sudah memasuki musim hujan, namun pembangunan sarana air bersih ini Insya Allah akan tetap dilaksanakan, agar tidak terjadi krisis air yang selalu berulang saat memasuki musim kemarau.[]

Karena tidak tahan mengalami kesulitan air bersih, Mak Uli, warga Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memutuskan pulang kampung ke Purwakarta, Jawa Barat.

Kemarau yang berkepanjangan membuat Mak Uli, penjaja kue keliling itu, dan juga warga dusun Sukamaju lainnya kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Hujan yang hanya turun delapan kali sejak April 2011 lalu membuat lima sumur warga yang berada di dusun ini kering. “Air sumur kami sudah lama tidak ada airnya,” ungkap Ust Abdurrahim, Ketua Takmir Mushala Sukamaju pada pertengahan Oktober lalu.

Satu-satunya sumur tua yang masih mengeluarkan air ada di Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju, maka warga dan santri pun antri air di sumur tersebut. Karena tidak sebanding antara debit air dengan orang yang membutuhkannya, tidak jarang 24 santri Al Husna mengalah untuk tidak mandi.

Krisis air inilah yang menyebabkan Mak Uli yang juga anggota jamaah pengajian ibu-ibu  asuhan KH Ahmad Zainuddin Qh, Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna, berpamitan hendak pindah ke Purwakarta. Awalnya Kyai Zain mengira Mak Uli pindah lantaran dagangannya tidak laku.  “Henteu, dagangan mah hasilna lumayan, ngan iyeu caina teu aya, (Tidak, dagangan hasilnya lumayan, hanya saja tidak ada air),” jawab Mak Uli.

Sumur Pompa Air Dalam

Untuk mencari jalan keluar dari krisis air yang dialami pesantren dan warga di Sukamaju, Badan Wakaf Al-Qur’an melakukan survey geolistrik di sekitar tanah pesantren pada 19 Oktober lalu.

Menurut perhitungan tim survey BWA,  ada cadangan air yang cukup besar di kedalaman antara 70-100 meter di bawah tanah. Namun, untuk mengambilnya harus dibuat sumur bor hingga kedalaman 100 meter tersebut kemudian dipompakan kepermukaan dengan pompa air submersible.

Air sumur ini akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan. Masing-masing dengan kapasitas 1.000 liter yang di tempatkan 1 unit di pesantren dan 2 unit lainya di tengah-tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.

“Semoga dengan (wasilah sarana air bersih) ini warga semakin semangat dalam mempelajari Islam dan kesulitan santri selama ini bisa terselesaikan,” tutur Kyai Zain, pimpinan Ponpes Al Husna sekaligus nadzir wakaf untuk memelihara dan mengelola sarana air bersih yang segera dibangun ini.

Walaupun saat ini sudah memasuki musim hujan, namun pembangunan sarana air bersih ini Insya Allah akan tetap dilaksanakan, agar tidak terjadi krisis air yang selalu berulang saat memasuki musim kemarau.[]

Dec 27
Tri (23 tahun) merupakan salah seorang peserta program pendidikan untuk mencetak ulama dari Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII).  Jenjang pendidikan sarjana (S1) sampai tingkat doktoral (S3). Semua mahasiswa peserta program mendapatkan beasiswa dari DDII.
Namun setelah lulus sarjana (S1), para calon ulama ini harus menjalani program pengabdian dengan berdakwah ke pedalaman selama dua tahun baru boleh meneruskan pendidikan magisternya (S2). Lulus magister, mereka diterjunkan kembali ke desa terpencil selama dua tahun lagi.Setelah itu barulah mereka meneruskan ke jenjang doktoral.
Usai lulus sarjana, per Juni 2011 lalu Tri ditugaskan untuk berdakwah di daerah minoritas Muslim di Kecamatan Lolowau, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara.
Dengan sabar dan istiqamah, ia mendatangi dan membimbing sekitar 130-an minoritas Muslim yang rumahnya terpencar di berbagai desa di Kec. Lolowau. Tri mengajak mereka untuk memperdalam agama Islam yang dipusatkan di salah satu rumah warga di Desa Lolowau, Kecamatan Lolowau tersebut.
Di rumah sederhana ukuran 5 X 4 meter itulah setiap ba’da Zhuhur, ia mengajarkan tahsin kepada warga yang sudah bisa membaca Al-Qur’an. Ba’da Ashar, mengajarkan Iqra kepada anak-anak. Sedangkan pukul 17.00 WIB hingga Maghrib mengajarkan berbagai tsaqafah Islam lainnya seperti akidah, fikih, bahasa Arab, juga metode pengobatan herbal dan bekam.
Ternyata kekonsistenan da’i muda ini dalam membimbing warga setempat mendapatkan perhatian pula dari warga non Muslim. Melalui dakwah Tri inilah, Ferdius N Druru (18) warga Desa Hilikara pada 25 Agustus lalu menyatakan diri masuk Islam dan berganti nama menjadi Azzam Abdillah Ramadhani Druru.
Sedangkan pada 7 Oktober, seorang ayah dan anaknya warga Desa Sisara Hili Oyo yakni Sama Nudi Halawa (37)  dan Kasihani Halawa (10) menyambut hidayah tersebut dan berganti nama menjadi Umar Shalahuddin Halawa dan Naila Rahmatal Azza.
“Alhamdulillah, sejak Juni 2011 muslim di Lolowau sudah bertambah 3 orang sehingga sekarang menjadi 134 orang,” ujar Tri.
Distribusi Wakaf Al-Qur’an
Pada 21-22 Oktober lalu, Badan Wakaf Al-Qur’an bersilaturahmi dengan Tri dan Umar Shalahuddin, para nazir masjid, pimpinan ponpes, pengurus majelis taklim, kepala KUA Kecamatan, Ketua MUI, Pengurus Taman Pendidikan Al-Qur’an, serta beberapa kepala madrasah aliyah dan tsanawiyah se-Pulau Nias di Kantor Kementerian Agama Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, dalam rangka realisasi program Al-Qur’an Road Trip Nias, Oktober 2011.
Dalam kesempatan itu, BWA pun menyerahkan sekitar 2088 kitab Al-Qur’an kepada  Muslim  di Pulau Nias yang meliputi wilayah  Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Nias Selatan.
Amanah Al-Qur’an Wakaf ini diterima oleh koordinator distribusi Al-Qur’an dari pihak Kantor Kemenag Gunungsitoli Bapak Herman, dan disaksikan pula oleh Ketua Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kota Gunungsitoli Bapak Sabrani Zega.[]

Tri (23 tahun) merupakan salah seorang peserta program pendidikan untuk mencetak ulama dari Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII).  Jenjang pendidikan sarjana (S1) sampai tingkat doktoral (S3). Semua mahasiswa peserta program mendapatkan beasiswa dari DDII.

Namun setelah lulus sarjana (S1), para calon ulama ini harus menjalani program pengabdian dengan berdakwah ke pedalaman selama dua tahun baru boleh meneruskan pendidikan magisternya (S2). Lulus magister, mereka diterjunkan kembali ke desa terpencil selama dua tahun lagi. Setelah itu barulah mereka meneruskan ke jenjang doktoral.

Usai lulus sarjana, per Juni 2011 lalu Tri ditugaskan untuk berdakwah di daerah minoritas Muslim di Kecamatan Lolowau, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara.

Dengan sabar dan istiqamah, ia mendatangi dan membimbing sekitar 130-an minoritas Muslim yang rumahnya terpencar di berbagai desa di Kec. Lolowau. Tri mengajak mereka untuk memperdalam agama Islam yang dipusatkan di salah satu rumah warga di Desa Lolowau, Kecamatan Lolowau tersebut.

Di rumah sederhana ukuran 5 X 4 meter itulah setiap ba’da Zhuhur, ia mengajarkan tahsin kepada warga yang sudah bisa membaca Al-Qur’an. Ba’da Ashar, mengajarkan Iqra kepada anak-anak. Sedangkan pukul 17.00 WIB hingga Maghrib mengajarkan berbagai tsaqafah Islam lainnya seperti akidah, fikih, bahasa Arab, juga metode pengobatan herbal dan bekam.

Ternyata kekonsistenan da’i muda ini dalam membimbing warga setempat mendapatkan perhatian pula dari warga non Muslim. Melalui dakwah Tri inilah, Ferdius N Druru (18) warga Desa Hilikara pada 25 Agustus lalu menyatakan diri masuk Islam dan berganti nama menjadi Azzam Abdillah Ramadhani Druru.

Sedangkan pada 7 Oktober, seorang ayah dan anaknya warga Desa Sisara Hili Oyo yakni Sama Nudi Halawa (37)  dan Kasihani Halawa (10) menyambut hidayah tersebut dan berganti nama menjadi Umar Shalahuddin Halawa dan Naila Rahmatal Azza.

“Alhamdulillah, sejak Juni 2011 muslim di Lolowau sudah bertambah 3 orang sehingga sekarang menjadi 134 orang,” ujar Tri.

Distribusi Wakaf Al-Qur’an

Pada 21-22 Oktober lalu, Badan Wakaf Al-Qur’an bersilaturahmi dengan Tri dan Umar Shalahuddin, para nazir masjid, pimpinan ponpes, pengurus majelis taklim, kepala KUA Kecamatan, Ketua MUI, Pengurus Taman Pendidikan Al-Qur’an, serta beberapa kepala madrasah aliyah dan tsanawiyah se-Pulau Nias di Kantor Kementerian Agama Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, dalam rangka realisasi program Al-Qur’an Road Trip Nias, Oktober 2011.

Dalam kesempatan itu, BWA pun menyerahkan sekitar 2088 kitab Al-Qur’an kepada  Muslim  di Pulau Nias yang meliputi wilayah  Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Nias Selatan.

Amanah Al-Qur’an Wakaf ini diterima oleh koordinator distribusi Al-Qur’an dari pihak Kantor Kemenag Gunungsitoli Bapak Herman, dan disaksikan pula oleh Ketua Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kota Gunungsitoli Bapak Sabrani Zega.[]

Dec 27

Tanggal 30 Oktober 2011 lalu Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melakukan survey sarana air bersih di daerah Gunungkidul, tepatnya di desa Giri Purwo, Kecamatan Panggung, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini termasuk daerah yang mengalami krisis air bersih.
Namun ada yang unik di desa Giri Purwo tepatnya di dusun Telogo Warak, pada tahun 1997 seorang penduduk desa menyusuri gua untuk mencari sarang burung walet. Di tengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam.
Temuan ini dilaporkan kepada kepala desa dan ditindak lanjuti dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat suara aliran air tersebut.  Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan bersih airnya. Sayangnya dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giri Purwo belum bisa menikmati air bersih tersebut, padahal mereka sangat membutuhkannya.
Seperti apa sungai bawah tanah tersebut, saksikan videonya di  www.youtube.com/user/wakafquran

Tanggal 30 Oktober 2011 lalu Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melakukan survey sarana air bersih di daerah Gunungkidul, tepatnya di desa Giri Purwo, Kecamatan Panggung, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini termasuk daerah yang mengalami krisis air bersih.

Namun ada yang unik di desa Giri Purwo tepatnya di dusun Telogo Warak, pada tahun 1997 seorang penduduk desa menyusuri gua untuk mencari sarang burung walet. Di tengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam.

Temuan ini dilaporkan kepada kepala desa dan ditindak lanjuti dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat suara aliran air tersebut.  Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan bersih airnya. Sayangnya dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giri Purwo belum bisa menikmati air bersih tersebut, padahal mereka sangat membutuhkannya.

Seperti apa sungai bawah tanah tersebut, saksikan videonya di  www.youtube.com/user/wakafquran

Dec 12

Pembangunan sarana air bersih di Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, saat ini sudah memasuki proses pengeboran sumur.  “Sampai hari ini Selasa (6/12), pengeboran sudah sedalam 29 meter dari 80 meter yang direncanakan,” ujar Darminto, penanggung jawab proyek.

Pengeboran dimulai sejak Ahad (4/12) lalu dan diprediksikan akan selesai pada Jum’at (9/12).  “Setelah pengeboran segera akan diinstalasi pipa dan mesin pompa.”  tegasnya.

Lokasi pengeboran

Lokasi pengeboran berada di areal Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju Pimpinan KH Ahmad Zainuddin Qh. Rencananya air dari Al Husna akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan.

Masing-masing bak berkapasitas 1.000 liter. “Satu di tempatkan di Al Husna dua lagi di tengah warga yang kesulitan mendapatkan air bersih” ungkap  Darminto.

Sarana air bersih di Sukamaju merupakan wakaf yang dihimpun oleh Badan Wakaf Al-Qur’an dari kaum Muslim melalui program Water Action for People. Pimpinan Al Husna K.H. Zain, yang juga nadzir wakaf untuk sarana air bersih ini, berharap krisis air bisa terselesaikan dan warga pun semakin semangat dalam mempelajari Islam.

Kepada para donatur wakaf (wakif), K.H. Ahmad Zainuddin mengucapkan terima kasih. “Alhamdulillah, jazakumullah mewakili keluarga besar masyarakat Dusun Sukamaju, Desa  Cikampek Timur ini, saya menghaturkan ucapan terima kasih,” ujarnya.

Setelah project sarana air bersih di Sukamaju, Cikampek Timur ini tuntas selanjutnya program “Water Action for People” akan memulai project wakaf sarana air bersih di Gunungkidul. Silahkan kunjungi www.wakafquran.org

Dec 7

Iring-iringan sepeda ontel (gayuh) dan motor dengan membawa jerigen mengangkut air di sepanjang jalan desa Kepohkidul menuju Kedungadem adalah pemandangan yang biasa setiap hari. Itulah kesibukan warga desa Kepohkidul setiap musim kemarau tiba, dan tahun ini sejak bulan Juni baru 2 kali turun hujan, sehingga kolamkolam penampungan air wargapun kering.

Desa Kepohkidul, yang berjarak kira-kira 6 Km lebih, sebelah barat kota kecamatan Kedungadem, yang mayoritas penduduknya petani ini setiap musim kemarau hampir bisa dipastikan mengalami kekurangan air bersih, maklum di desa ini tidak terdapat sumber mata air atau aliran sungai, maka untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka harus mengangkut air dengan motor, atau sepeda ontel, bahkan sebagian masyarakat terpaksa harus memikul dengan melintasi pematang sawah

Ketika tim BWA (Badan Wakaf Al Qur’an) datang ke desa Kepohkidul (27/9) membantu pengadaan air bersih, masyarakat menyambut dengan gembira mereka membawa ember atau jerigen masing-masing “ Matur suwun terimakasih banyak atas bantuanya kepada warga kami, mudah-mudahan bantuan ini barokah, dan diganti oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda”, demikian sambutan Bapak Cunta, Kepala Desa Kepoh Kidul menyampaikan ucapan terima kasih mewakili warga penerima bantuan air bersih.

Sejak akhir September 2011 lalu, Tim BWA mendistribusikan bantuan air bersih, setiap harinya mampu mengirimkan 3 – 5 kali. Sekali angkut bisa membawa 100 jerigen air. Satu jerigen berisi 30 liter air. Untuk pemerataan pembagian setiap KK masing-masing mendapat bagian 2-3 jerigen. Walaupun bantuan ini tidak sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan air warga masyarakat, namun setidaknya mampu meringankan beban mereka.

“harapan kami pemerintah segera mencarikan jalan keluar permasalahan kekurangan air ini, dengan membuatkan sumur artesis atau membangunkan waduk penampung air”, demikian harapan Purwanto, Kepala Dusun Sumber Wungu yang merupakan dusun terparah, kepada Tim BWA. Desa Kepohkidul adalah salah satu desa yang mengalami kekeringan setiap musim kemarau dan masih banyak desadesa lainnya yang kondisinya sama.

Pemberian bantuan sifatnya hanya meringankan saja, bukan solusi. Tentu yang bisa mengatasi permasalahan ini adalah dengan kebijakan pemerintah. Sehingga kedepan tidak ada lagi cerita desadesa yang mengalami kekeringan karena musim kemarau,sehingga pergantian musim hujan dan kemarau bisa menjadi berkah bagi warga desa bukan menjadi bencana. www.wakafquran.org

Nov 29

Karena tidak tahan mengalami kesulitan air bersih, Mak Uli, warga Dusun Sukamaju, Desa Cikampek, Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memutuskan pulang kampung ke Purwakarta, Jawa Barat. 

Kemarau yang berkepanjangan membuat Mak Uli, penjaja kue keliling itu, dan juga warga dusun Sukamaju lainnya kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari. 

Hujan yang hanya turun delapan kali sejak April 2011 lalu membuat lima sumur warga yang berada di dusun ini kering. “Air sumur kami sudah lama tidak ada airnya,” ungkap Ust Abdurrahim, Ketua Takmir Mushala Sukamaju. 

Satu-satunya sumur tua yang masih mengeluarkan air ada di Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju, maka warga dan santri pun antri air di sumur tersebut. Karena tidak sebanding antara debit air dengan orang yang membutuhkannya, tidak jarang 24 santri Al Husna mengalah untuk tidak mandi. 

Krisis air inilah yang menyebabkan Mak Uli yang juga anggota jamaah pengajian ibu-ibu  asuhan KH Ahmad Zainuddin Qh, Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna, berpamitan hendak pindah ke Purwakarta. Awalnya Kyai Zain mengira Mak Uli pindah lantaran dagangannya tidak laku.  “Henteu, dagangan mah hasilna lumayan, ngan iyeu caina teu aya, (Tidak, dagangan hasilnya lumayan, hanya saja tidak ada air),” jawab Mak Uli. 

Sumur Pompa Air Dalam

Untuk mencari jalan keluar dari krisis air yang dialami pesantren dan warga di Sukamaju, Badan Wakaf Al-Qur’an melakukan survey geolistrik di sekitar tanah pesantren. Menurut perhitungan tim survey BWA (19/10) ada cadangan air yang cukup besar di kedalaman antara 70 – 100 m di bawah tanah dan untuk mengambilnya harus dibuat sumur bor hingga kedalaman 100 meter tersebut kemudian dipompakan kepermukaan dengan pompa air submersible. 

Air sumur ini akan di distribusikan melalui 3 bak penampungan masing-masing dengan kapasitas 1.000 liter yang di tempatkan 1 unit di pesantren dan 2 unit lainya di tengah-tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih. 

“Semoga dengan (wasilah sarana air bersih) ini warga semakin semangat dalam mempelajari Islam dan kesulitan santri selama ini bisa terselesaikan,” tutur Kyai Zain, pimpinan Ponpes Al Husna sekaligus nadzir wakaf untuk memelihara dan mengelola sarana air bersih yang akan segera dibangun ini, Insya Allah.

Walaupun saat ini sudah memasuki musim hujan, namun pembangunan sarana air bersih ini Insya Allah akan tetap dilaksanakan, agar tidak terjadi krisis air yang selalu berulang saat memasuki musim kemarau.

Anda ingin membantu mereka merealisasikan sarana air bersih yang sangat mereka harapkan ? Silakan klik: www.wakafquran.org

Nov 21

Ingkang mendet toyo teng mriki mboten namung tiang Islam mawon (yang ambil air di sini bukan hanya orang Islam saja),” ujar Bapak Sungkono, Ketua DKM Masjid Al Islam desa Gemampir, Klaten, sekaligus nadzir wakaf untuk bak penampungan air “Sad Qusaybah”. Bak penampungan air raksasa dengan kapasitas 84.000 liter ini dibangun dari dana wakaf kaum muslimin. Pembangunannya dimulai pada akhir tahun 2010 dan diresmikan pada tanggal 27 Januari 2011 oleh Prayudha Moeljo mewakili Danamon Syariah sebagai donatur utama pembangunan “Sad Qusaybah”.

Bulan September-Oktober merupakan puncak kemarau tahun ini di lereng Gunung Merapi, termasuk di Desa Gemampir, Kecamatan Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah. Kekeringan pun melanda. Semua sumur warga sudah tidak mengeluarkan air, sekali pun kedalamannya mencapai lebih dari 50 meter.

Biasanya saat kemarau warga membeli air bersih dari mobil tangki yang memasok air ke desa. Bagi warga yang mampu secara ekonomi dan memiliki bak penampungan di rumahnya, harga Rp 50.000 untuk satu tangki kapasitas 5.000 liter tidak menjadi masalah. Namun, bagaimana dengan warga yang tidak mampu dan tidak memiliki bak penampungan sendiri?

Di sinilah Sad Qusaybah berfungsi menjaga agar air bersih tetap tersedia, khususnya bagi warga yang kurang mampu. Dikoordinir oleh pengurus masjid Al Islam, warga patungan mengisi “Sad Qusaybah”, kemudian warga yang mengambil air dipungut biaya Rp 1.000 setiap dua jerigen atau sekitar 60  liter untuk kebutuhan dua hari saja. Volume ini jauh dari cukup mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan standar kebutuhan air bersih per orang adalah 100 liter per hari.

Maka, betapa girangnya warga ketika mendengar kabar bahwa selama 2-3 bulan ke depan akan mendapatkan bantuan air bersih dari kaum Muslim yang dananya dihimpun melalui Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA).  Alhamdulillah, bantuan pertama telah direalisasikan pada Kamis 22 September lalu.

Sebanyak 75.000 liter dari 15 truk tangki dicurahkan ke bak raksasa yang terletak di halaman  Masjid Al Islam, Gemampir, dimulai dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB keesokan harinya. Sehingga airnya pun bisa langsung dipakai wudhu shalat Jum’at bagi jamaah Masjid Al Islam.

Bantuan ini merupakan realisasi dari Program Water Action for People. “Air sebanyak ini dapat dimanfaatkan antara 14 sampai 21 hari untuk kebutuhan jama’ah masjid dan juga warga sekitar yang membutuhkan air bersih,” ujar  Ust Husain, partner lapangan BWA untuk daerah Klaten, Jawa Tengah.

Ingin berdonasi untuk membantu daerah yang kekurangan air bersih? Klik www.wakafquran.org

« Previous Entries Next Entries »