Jul 11

Dewasa ini sebagian kaum Muslimin masih mengalami kebingungan seputar bagaimana berniat puasa Ramadhan; apakah cukup berniat sekali di awal bulan atau berniat setiap malam, dan bagaimanakah lafaz niat yang benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kami ingin menjelaskan terlebih dahulu asal muasal melafazkan niat.

Menurut keteranan yang kami dapat, munculnya anjuran melafalkan niat ketika beribadah, berawal dari kesalah-pahaman terhadap pernyataan Imam As-Syafi’i terkait tata cara salat. Imam As-Syafi’i pernah menjelaskan:

الصَّلَاةِ لَا تَصِحُّ إلَّا بِالنُّطْقِ

“….salat itu tidak sah kecuali dengan al-nuthq.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 3:277)

Al-nuthqu artinya berbicara atau mengucapkan. Sebagian pengikut madzhab syafi’i memaknai al-nuthqu di sini dengan melafalkan niat. Padahal ini adalah salah paham terhadap maksud beliau rahimahullah. Dijelaskan oleh Imam al-Nawawi bahwa yang dimaksud dengan al-nuthq di sini bukanlah mengeraskan bacaan niat, tetapi maksudnya adalah mengucapkan takbiratul ihram. An-Nawawi mengatakan:

قَالَ أَصْحَابُنَا غَلِطَ هَذَا الْقَائِلُ وَلَيْسَ مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِالنُّطْقِ فِي الصَّلَاةِ هَذَا بَلْ مُرَادُهُ التَّكْبِيرُ

“Ulama kami yang bermazhab Syafi’i mengatakan, ‘Orang yang memaknai demikian adalah keliru. Yang dimaksud As Syafi’i dengan al-nuthqu ketika salat bukanlah melafalkan niat, tetapi mengucapkan takbiratul ihram’.” (Al Majmu’, 3:277).

Kesalahpahaman ini juga dibantah oleh Abu al-Hasan al-Mawardi al-Syafi’i, beliau mengatakan,

فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ – الزُّبَيْرِيُّ – عَلَى وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ النُّطْق بِالتَّكْبِيرِ

“Az Zubairi telah salah dalam menakwil ucapan Imam Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika salat. Ini adalah pemahaman yang salah, karena yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Imam al-Syafi’i adalah wajibnya mengucapkan takbiratul ihram.” (Al-Hawi Al-Kabir, 2:204).

Karena kesalah-pahaman ini, banyak kiai yang mengklaim bermadzhab Syafi’i yang mengajarkan keharusan melafalkan niat ketika akan menunaikan salat. Selanjutnya masyarakat memahami bahwa itu juga berlaku untuk semua amal ibadah. Sehingga muncullah lafal niat wudhu, niat tayamum, niat mandi besar, niat puasa, niat zakat, niat sedekah, dan seterusnya. Sayangnya, pak kiai tersebut tidak mengajarkan lafal niat untuk semua bentuk ibadah. Di saat itulah, banyak masyarakat yang kebingungan, bagaimana cara niat ibadah yang belum dia hafal lafalnya?

Itu artinya, anjuran melafalkan niat yang diajarkan sebagian dai, telah menjadi sebab timbulnya keraguan bagi masyarakat dalam kehidupan beragamanya. Padahal ragam ibadah dalam Islam sangat banyak. Tentu saja, masyarakat akan kerepotan jika harus menghafal semua lafal niat tersebut. Padahal bukankah Islam adalah agama yang sangat mudah? Jika demikian, berarti itu bukan bagian dari syariat Islam.

Niat Adalah Amalan Hati

Siapapun ulama sepakat dengan hal ini. Niat adalah amal hati, dan bukan amal lisan.

Imam al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

النية في جميع العبادات معتبرة بالقلب ولا يكفي فيها نطق اللسان مع غفلة القلب ولا يشترط

“Niat dalam semua ibadah yang dinilai adalah hati, dan tidak cukup dengan ucapan lisan sementara hatinya tidak sadar. Dan tidak disyaratkan dilafalkan,…” (Raudhah al-Thalibin, 1:84)

Dalam buku yang sama, beliau juga menegaskan:

لا يصح الصوم إلا بالنية ومحلها القلب ولا يشترط النطق بلا خلاف

“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhah at-Thalibin, 1:268)

Dalam kitab I’anah al-Thalibin–salah satu buku rujukan bagi syafiiyah di Indonesia–Imam Abu Bakr ad-Dimyathi As-Syafii juga menegaskan:

إن النية في القلب لا باللفظ، فتكلف اللفظ أمر لا يحتاج إليه

“Sesungguhnya niat itu di hati bukan dengan diucapkan. Memaksakan diri untuk mengucapkan niat, termasuk perbuatan yang tidak dibutuhkan.” (I’anatut Thalibin, 1:65).

Tentu saja keterangan para ulama dalam hal ini sangat banyak. Semoga tiga keterangan dari ulama mazhab Syafi’i di atas bisa mewakili. Mengingat niat tempatnya di hati, maka memindahkan niat ini di lisan berarti memindahkan amal ibadah bukan pada tempatnya. Dan tentu saja, ini bukan cara yang benar dalam beribadah.

Inti Niat

Mengingat niat adalah amal hati, maka inti niat adalah keinginan. Ketika Anda menginginkan untuk melakukan sesuatu maka Anda sudah dianggap berniat. Baik amal ibadah maupun selain ibadah. Ketika Anda ingin makan, kemudian Anda mengambil makanan sampai Anda memakannya, maka Anda sudah dianggap niat makan. Demikian halnya ketika Anda hendak salat zhuhur, Anda mengambil wudhu kemudian berangkat ke masjid di siang hari yang panas, sampai Anda melaksanakan salat, tentu Anda sudah dianggap berniat.

Artinya, modal utama niat adalah kesadaran. Ketika Anda sadar dengan apa yang akan Anda kerjakan, kemudian Anda berkeinginan untuk mengamalkannya maka Anda sudah dianggap berniat. Ketika Anda sadar bahwa besok Ramadhan, kemudian Anda bertekad besok akan puasa maka Anda sudah dianggap berniat. Apalagi jika malam harinya Anda menunaikan salat tarawih dan makan sahur. Tentu ibadah semacam ini tidak mungkin Anda lakukan, kecuali karena Anda sadar bahwa esok pagi Anda akan berpuasa Ramadhan. Itulah niat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya seperti berikut:

Bagaimana penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang niat puasa Ramadhan; apakah kita harus berniat setiap hari atau tidak?

Jawaban beliau:

كُلُّ مَنْ عَلِمَ أَنَّ غَدًا مِنْ رَمَضَانَ وَهُوَ يُرِيدُ صَوْمَهُ فَقَدْ نَوَى صَوْمَهُ سَوَاءٌ تَلَفَّظَ بِالنِّيَّةِ أَوْ لَمْ يَتَلَفَّظْ . وَهَذَا فِعْلُ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ كُلُّهُمْ يَنْوِي الصِّيَامَ

“Setiap orang yang tahu bahwa esok hari adalah Ramadhan dan dia ingin berpuasa, maka secara otomatis dia telah berniat berpuasa. Baik dia lafalkan niatnya maupun tidak. Ini adalah perbuatan kaum muslimin secara umum; setiap muslim berniat untuk berpuasa.” (Majmu’ Fatawa, 6:79)

Niat Puasa Ramadhan

Untuk puasa wajib, seorang muslim wajib berniat sebelum masuk waktu subuh. Hal ini berdasarkan hadis dari Hafshah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يُبَيِّتِ الصيامَ من الليل فلا صيامَ له

“Barangsiapa yang belum berniat puasa di malam hari (sebelum subuh) maka puasanya batal.” (HR. An Nasa’i dan dishahihkan Al Albani)

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud, Ibnu khuzaimah, baihaqi)

Ketentuan ini berbeda dengan puasa sunah. Berdasarkan riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui Aisyah di siang hari di luar Ramadhan, kemudian beliau bertanya:

هَلْ عِنْدَكُمْ غَدَاءٌ؟ وَإِلَّا , فَإِنِّي صَائِمٌ

“Apa kamu punya makanan untuk sarapan? Jika tidak, saya tak puasa.” (HR. al-Nasai, al-daruquthni, dan Ibnu Khuzaimah)

Apakah boleh berniat puasa langsung sebulan penuh, ataukah harus tiap malam mengulang niat?

Pada prinsipnya, ketika Anda sadar bahwan besok pagi mau puasa, maka Anda sudah dianggap berniat. Apalagi jika Anda makan sahur. Bisa dipastikan Anda sudah niat.

Namun bolehkah seseorang melakukan niat di awal Ramadhan untuk berpuasa penuh satu bulan? Sehingga Andaipun dia lupa atau ada faktor lainnya, sehingga tidak sempat berkeinginan puasa, Anda tetap sah puasanya.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cukup dalam seluruh bulan Ramadhan kita berniat sekali di awal bulan, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika puasanya terputus di tengah bulan, baik karena bepergian, sakit dan sebagainya, maka dia harus berniat lagi, karena dia telah memutus bulan Ramadhan itu dengan meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

May 28

Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) truk tangki untuk merealisasikan proyek wakaf sarana air bersih di kecamatan Ile Ape, kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah ditandatangani Manager Marketing Badan Wakaf Al-Quran (BWA) Hazairin Hasan dan diserahkan kepada Marketing PT Ciwangi Berlian Motors, Jakarta Selatan, Dewi Wulandari (16/5).

Truk tangki yang dipesan adalah jenis Mitsubitshi FE 73 dengan enam ban dan tangki berkapasitas lima ribu liter. Modifikasi dan pengecatan truk tangki tersebut direncanakan akan rampung pada 16 Juni 2013 mendatang. Setelah itu truk tangki tersebut akan dipamerkan di kota-kota besar di Pulau Jawa untuk menggugah kaum Muslimin yang ada di sana sehingga mau berwakaf.

“Truk tangki ini akan diroadshowkan di berbagai kota besar di pulau Jawa; dimulai dari Tangerang, Jakarta, Bekasi, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Khusus kota-kota yang terdapat gerai BWA, truk tangki tersebut akan dipamerkan di sana,” ujar Hazairin setelah menandatangani SPK.

Setelah dana wakaf terkumpul, truk tangki akan dibawa ke NTT untuk beroperasi menyediakan air bersih bagi warga empat desa di kecamatan Ile Ape, NTT, yaitu desa Dulitukan, Palilolon, Kolipadang, dan Tagawiti. Warga di sana memerlukan air bersih karena ketiadaan sumber air tawar di hampir seluruh wilayah pesisir pantai Ile Ape. Oleh karena itu, truk tangki akan mengambil air dari sumber mata air yang jaraknya sekitar 30 km dari kecamatan Ile Ape dan kemudian mengisi lima bak penampungan yang masing-masingnya berkapasitas lima ribu liter dan tersebar di empat desa. Truk akan beroperasi setiap hari.

Untuk pengoperasian dan pemeliharaan sarana air bersih tersebut, warga akan membayar iuran mingguan yang tidak memberatkan. Adapun pengelolaan sarana menjadi tanggung jawab nadzir wakaf, yakni ust. Arifudin Anwar yang juga partner lapang BWA di Ile Ape dan Adonara NTT.

Mari berperan serta, semoga wakaf yang Anda tunaikan mendapat balasan berupa pahala yang mengalir seiring mengalirnya air bersih yang dinikmati dengan penuh rasa syukur oleh masyarakat Muslim Ile Ape, NTT.[]

Klik di sini untuk membantu warga Ile Ape, NTT.

May 24

Siapa di antara umat Islam yang tidak mengenal ummul mukminin, Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha? Beliau adalah  istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan putri khalifah Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai ahli fikih dan ahli hadits. Beliau adalah salah satu wanita yang menjadi tempat rujukan agama di masanya.

Adalah pasangan suami-istri Said Samaroa (46) dan Murniasih Karyani (45), yang menginginkan salah satu putrinya memiliki sifat-sifat terpuji seperti Aisyah radhiyallahu ‘anha. Oleh karena itu, keduanya menamai putri bungsunya dengan nama Aisyah Khairunnida (12) yang berarti ‘Aisyah sebaik-baik panggilan’. Semoga senantiasa menjadi doa yang akan mewujudkan harapan keduanya.

Tidak hanya sekedar memberi nama yang baik, ikhtiar agar Aisyah tumbuh menjadi wanita salehah pun dilakukan oleh kedua orangtuanya dengan memasukkan Aisyah ke dalam lembaga pendidikan islami. Namun, cita-cita yang mulia tersebut terkendala oleh biaya yang tak mampu ditanggung oleh Said Samaroa, sang ayah.

Said mencari nafkah dengan menjadi buruh serabutan. Pendapatannya yang kecil dan tak menentu  membuat Said kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk kebutuhan pendidikan putrinya. Tak patah semangat, Said tetap berusaha agar putrinya bersekolah. Alhamdulillah, di tengah kerja kerasnya mencari uang, datang sejumlah dana bantuan hasil iuran teman-teman Said yang kemudian digunakan untuk membayar biaya pendaftaran Aisyah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) An-Najah Bojong Gede, Bogor.

Biaya pendaftaran terselesaikan, tetapi di belakang hari muncul masalah baru, yaitu sulitnya Said dalam membiayai pendidikan Aisyah, seperti SPP bulanan, uang ujian semester, dan lembar kerja siswa (LKS) tiap semesternya. Melalui informasi yang didapat, akhirnya Said mengajukan permohonan bantuan dana kepada Badan Wakaf Al-Quran (BWA).

Dan, Alhamdulillah, biaya pendidikan Aisyah Khairunnida (12) selama 1 semester telah dilunasi oleh program Indonesia Belajar BWA pada Jumat (3/5). Aisyah pun berterima kasih kepada para donatur yang telah menyalurkan sebagian hartanya kepada BWA.

“Saya ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih kepada para donatur yang telah membantu saya. Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik. Semoga para donatur tetap memberikan bantuannya dengan ikhlas kepada kami yang kekurangan ekonominya agar bisa terus bersekolah,” harap Aisyah dalam suratnya kepada BWA.

Terima kasih kepada donatur yang telah membantu, semoga Allah SWT membalas amal baik para donatur dengan pahala setimpal. Aamiin.[]

Salurkan donasi Anda untuk membantu membiayai pendidikan sesama di sini!

May 23

Ani Handayani (18), putri sulung dari lima bersaudara pasangan Daman (45) dan Nur Hasanah (40) lahir dari keluarga tidak mampu. Keadaan tersebut membuat Ani, demikian sapaan akrabnya, sejak kelas III Sekolah Dasar (SD) terpaksa tinggal bersama kakek dan nenek karena kedua orangtuanya berangkat mengadu nasib di Jakarta dengan berjualan cilok (salah satu jajanan khas Sunda mirip bakso yang terbuat dari tepung tapioka dan berbumbu kacang). Sejak itu, Ani kehilangan kontak dengan kedua orangtuanya.

Setamat SD, sang ayah pulang menjemput Ani untuk bersekolah di Jakarta. Namun, lantaran tak mampu membayar biaya ujian semester, cicilan uang bangunan, uang pangkal dan SPP, Ani terpaksa putus sekolah. Usaha kedua orangtua yang tak bisa mengangkat nasib keluarga menjadi lebih baik membuat kedua orangtua Ani memutuskan kembali ke Sukabumi. Di sana, Ani meneruskan sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Musthafa. Namun, malang, begitu lulus ia tidak bisa memeroleh ijazah karena masih memiliki tunggakan uang bangunan dan SPP.

Alhamdulillah, sikap Ani yang tegar dan kemauan kerasnya untuk belajar membuat seorang guru terketuk hatinya sehingga bersedia membantu Ani meneruskan pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Al-Islamiyah Persatuan Umat Islam (PUI), Jakarta. Meski tanpa ijazah, Ani tetap dizinkan untuk bersekolah di sana hingga kini. Dan untuk memenuhi kebutuhannya, Ani bekerja sebagai tukang cuci pakaian teman-temannya dan bersih-bersih asrama sekolah.

Dari pekerjaan itu, Ani memperoleh upah sebesar Rp 60 ribu per bulan. Meski tidak mencukupi keperluannya sehari-hari ditambah kondisi fisik yang tak memungkinkannya bekerja berat secara terus menerus, tetapi Ani tetap mengambilnya. Akibatnya, penyakit bonchitis yang diidapnya pun kambuh sehingga memaksanya untuk beristirahat dan tidak bekerja selama tiga bulan.

Melalui program Indonesaia Belajar (IB), Badan Wakaf Alquran (BWA) berusaha mendongkrak optimisme Ani untuk terus melanjutkan sekolahnya. Saat ditemui tim BWA, Ani berkeyakinan bahwa nasibnya akan berubah dengan tetap bersekolah.

“Hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan kami nanti, yang pasti kami ingin merubah nasib keluarga kami,” pungkas Ani dengan sikap tawakal yang tinggi.

Total dana yang dibutuhkan Ani untuk membiayai pendidikan selama setahun di MA PUI Jakarta mencapai Rp 4.950.000,- (empat juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah). Mari meringankan beban Ani, semoga sebagian dari rezeki yang Anda donasikan kepada Ani mendapat balasan berlipat ganda dari Sang Pencipta, Allah SWT. Aamiin.[]

Klik di sini untuk membantu saudari Ani!

May 16

Putra keempat pasangan Wage Wahyudi (38) dan Efi Asnawati (38) tak henti-hentinya menangis di hari pertama pascalahir (18/1). Di hari kedua sang bayi mengalami pendarahan saat buang air besar. Setelah diperiksa oleh tim medis Rumah Sakit (RS) Sukmul, Tanjung Priuk, diketahui bahwa sang bayi mengalami iritasi lambung yang parah.

Tim medis RS Sukmul segera melakukan penanganan. Mula-mula dilakukan persiapan transfusi darah. Namun, begitu dilakukan pengecekan golongan darah, sampel darah langsung membeku sehingga membuat tim medis menyarankan keluarga agar sang bayi segera dirujuk ke rumah sakit lain.

Saat itu juga Wahyudi mencari rumah sakit yang sekiranya mampu menangani sakit putranya. Awalnya, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Hermina Podomoro, tetapi penuh. Beralih ke RS Mitra kemayoran, juga penuh. Lalu ke RS Satya Negara, RS Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), RS MH Thamrin Salemba, RS Islam Jakarta Pusat, RS Angkatan Darat, dan terakhir RS Cikini, juga penuh. Dengan demikian, untuk sesaat, bayi yang lahir caesar itu pun terpaksa harus tetap berada di RS Sukmul.

Di tengah kepanikan dan hampir datangnya keputusasaan pihak keluarga, akhirnya datang berita gembira. Pihak RS Sukmul memberitahukan bahwa sang bayi bisa dibawa ke RS Hermina Bekasi dengan catatan bahwa pihak keluarga harus menyiapkan uang muka sebesar Rp 15 juta.

Sebagai staf sebuah media, Wahyudi merasa bahwa biaya sebesar itu sangat membebani dirinya. Namun, ia tidak berkecil hati—ia tahu Allah tidak akan membebani hambanya dengan beban di luar kesanggupannya—oleh karena itu, ia berusaha agar sang buah hati cepat mendapatkan perawatan yang berarti. Tanpa membuang waktu, Wahyudi segera menghubungi sejumlah teman sejawat dan akhirnya, Alhamdulillah, diperoleh dana pinjaman sebesar Rp 5 juta.

Dengan membayar sebagian uang muka kepada pihak rumah sakit sebesar Rp 5 juta dan perjanjian bahwa Wahyudi akan membayar sisa biaya keesokan harinya, akhirnya sang bayi diizinkan untuk dirawat di RS Hermina Bekasi. Sesuai janji, keesokan harinya Wahyudi membayar sisa uang muka sebesar Rp 10 juta yang lagi-lagi merupakan hasil pinjaman.

Pada Selasa (5/2), kondisi bayi terlihat membaik, kotorannya tidak lagi bercampur darah. Air susu yang dikonsumsi sudah mencapai mencapai titik normal 40 cc. Melihat hal itu pihak keluarga pun berencana membawa sang bayi pulang ke rumah. Namun, ketika infus dilepas, suhu badan sang bayi naik dan trombosit darahnya menurun. Akhirnya, dokter tidak mengizinkan bayi tersebut pulang.

Pada Rabu (6/02), dokter mulai melalukan pemeriksaan terhadap darah bayi untuk mengetahui apa penyakit yang diderita sebenarnya. Dan menurut dokter, hasil pemeriksaan baru bisa diketahui sepuluh hari lagi. Selama menunggu keluarnya hasil pemeriksaan, Wahyudi pun berikhtiar mencari dana tambahan untuk membiayai pengobatan putranya yang sudah mencapai hampir Rp 50 juta.

Setelah menjalani perawatan selama 41 hari, akhirnya pada Jumat (1/3), sang bayi pun diperbolehkan oleh dokter untuk pulang ke rumah setelah biaya pengobatan dilunasi dengan menggunakan dana zakat dan sedekah kaum Muslimin yang dihimpunoleh Badan Wakaf Al-Quran (BWA) melalui program Zakat Peer to Peer.

“Saya berterima kasih dan mudah-mudahan kebaikan mereka (yang membantu pengobatan putra saya, red) dibalas oleh Allah SWT dengan berlipat ganda, dilimpahkan rezekinya, dan dijauhkan dari musibah,” tutur Wahyudi kepada tim BWA.[]

Ingin turut membantu sesama? Salurkan zakat dan sedekah Anda di sini!

May 8

Nia Shania (21), putri pertama pasangan Nur Hasan (43) dan Yanah (40), kelahiran Bogor, 8 Desember 1991 ini sebenarnya sudah lulus dari jurusan Manajemen Bisnis SMK An-Nur Depok dua tahun silam. Namun, karena menunggak biaya administrasi sebesar Rp 1.384.000,-, ijazah Nia terpaksa harus ditahan oleh pihak sekolah.

Ketiadaan ijazah membuat sulung dari tiga bersaudara ini kesulitan memperoleh kerja, sehingga ia tidak bisa membantu banyak dalam meringankan beban kedua orangtuanya yang hanya bekerja sebagai buruh pekerja berat dan ibu rumah tangga. Namun, sejak awal 2012 sebuah TK Islam berkenan menerimanya sebagai tenaga honorer dengan honor sebesar Rp 200 ribu per bulan.

Dengan pendapatan hanya sebesar Rp 200 ribu, tentu Nia tidak bisa menabung sehingga bisa melunasi tunggakannya di sekolah. Akhirnya, Nia pun meminjam uang sebesar Rp 540.000,- untuk menyicil pelunasan tunggakannya tersebut. Melihat kondisi Nia, Badan Wakaf Al-Quran (BWA) melalui program Indonesia Belajar berkenan membantu melunasi tunggakan pendidikannya.

Alhamdulillah, tunggakan biaya administrasi saudari Nia di SMK An-Nur Depok sebesar Rp 844.000,- dan hutang kepada pihak lain sebesar Rp 540.000,- sudah dilunasi oleh program Indonesia BWA pada awal Februari lalu.

Dengan lunasnya biaya administrasi, Nia berhak mengambil ijazahnya. Dengan ijazah di tangan, mudahlah bagi Nia untuk menjadi pengajar TK tetap di dekat rumahnya. Nia pun bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada para donatur yang telah membantu.

“Nia mengucapkan terimakasih kepada para donatur, semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan dan surga,” doa Nia dalam suratnya yang ditujukan kepada BWA (24/2).[]

Salurkan donasi Anda untuk membantu membiayai pendidikan sesama di sini.

May 8

Wulan, panggilan akrab muslimah kelahiran Jakarta, 2 Juni 1995 ini adalah langganan juara umum sejak bersekolah di SMPN 148 Jakarta hingga sekarang. Sekalipun berprestasi, Wulan tidak mendapatkan bantuan keringanan biaya pendidikan dari pihak sekolah. Adalah ibu Prihapsari Tejorukmi, seorang guru Tata Busana di SMP 25 Jakarta dan Yurnita, seorang guru SMP lainnya yang berbaik hati menanggung biaya pendidikan Wulan selama ini. Namun, dana yang terbatas membuat ibu Prihapsari dan Yurnita menghentikan bantuan sejak awal 2013 lalu.

Terhentinya bantuan tidak membuat Wulan berputus asa. Untuk membayar biaya pendidikannya, ia mencoba melamar kerja kesana-kemari, tetapi tetap tidak juga mendapat panggilan. Ia akhirnya sadar bahwa statusnya yang masih pelajar membuat orang enggan mempekerjakannya.

Siswi kelas XII jurusan Administrasi Perkantoran SMK Muara Indonesia ini pun begitu khawatir karena dana untuk membayar berbagai ujian seperti uji kompetensi praktek, ujian praktek, dan ujian sekolah belum ada, padahal waktunya sudah dekat. Ia pun berpikir keras bagaimana agar bisa memperoleh uang secepatnya. Akhirnya, dengan terpaksa ia meminta kepada Budenya agar mau melunasi biaya-biaya yang dibutuhkannya. Alhamdulillah, budenya menyanggupi dan kemudian memberikan sejumlah dana.

Beberapa hari setelah melunasi SPP bulan Maret, Wulan mendapat bantuan dana dari program Indonesia Belajar Badan Wakaf Al-Quran (BWA). Dana tersebut kemudian digunakan untuk melunasi sisa biaya sekolah Wulan yang belum terbayarkan sekaligus mengganti uang budenya. Selain itu, dana hasil donasi para donatur melalui BWA tersebut juga akan digunakan untuk melunasi seluruh biaya sekolah Wulan hingga lulus.

“Alhamdulillah, syukron (terima kasih, red) saya kepada para donatur yang telah membantu saya, dan yang telah bersedia membantu biaya pendidikan saya. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan belum bisa membalas budi. Namun, saya selalu berdoa kepada Allah agar yang telah membantu saya selama ini agar selalu dilimpahkan rezeki, nikmat, dan sehat serta selalu dilindungi Allah SWT dari kejahatan serta godaan setan, sehingga tetap istiqomah dijalan-Nya,” tulis Wulan dalam suratnya kepada BWA.

Terima kasih kepada para donatur yang telah membantu, semoga Allah SWT membalas amal baik Anda dengan sebaik-baik pahala. Aamiin.[]

Salurkan bantuan Anda untuk membantu membiayai pendidikan sesama di sini.

Apr 23

“Siapa sih yang tidak mau untung besar?” demikian kira-kira jawaban manusia ketika diberikan pertanyaan seperti judul di atas. Dan faktanya memang demikian, yaitu bahwa manusia akan menjual barang dagangan yang menghasilkan keuntungan dan manusia akan mengerjakan apa pun yang menguntungkan dirinya.

Jika memang seperti itu, maka sudah seharusnya setiap Muslim dan Muslimah gemar bersedekah karena Allah SWT sudah berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak, dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245).

Para mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan memberikan pinjaman kepada Allah adalah berinfak di jalan Allah. Tujuan Allah SWT mengumpamakan demikian, menurut Wahbah al-Zuhaili dalam kitab al-Tafsîr al-Munîr fî al-Manhaj wa al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah, adalah untuk memotivasi manusia agar berinfak di jalan-Nya. Selain itu, Allah SWT juga memotivasi manusia untuk berinfak dengan menjanjikan pahala berlipat ganda yang kelipatannya tidak ada yang mengetahui kecuali Dia semata.

Berbeda dengan al-Zuhaili, Mutawalli al-Sya’rawi (w. 1418 H) menjelaskan dalam kitab Tafsîr al-Sya’râwî bahwa mengapa infak diumpamakan dengan memberikan pinjaman, adalah karena meminjamkan termasuk aktivitas yang sulit dilakukan manusia. Dengan demikian, melalui ayat ini, Allah SWT ingin menjelaskan bahwa infak sebenarnya berat dilakukan manusia sebagaimana beratnya manusia ketika akan meminjamkan sesuatu kepada orang lain. Meski begitu, melalui ayat ini, Allah SWT juga menjelaskan betapa besar pahala yang akan didapat oleh manusia yang berinfak. Sebab, semakin besar kesulitan suatu amal semakin besar pula pahalanya.

Jika orang yang berinfak di jalan Allah akan mendapatkan “untung” (baca: pahala) berlipat ganda yang kelipatannya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah SWT semata, maka masihkah ada di antara umat Islam yang enggan berinfak di jalan-Nya? Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita merasa ringan berinfak di jalan-Nya. Aamiin.[]

Infakkan sebagian harta Anda untuk membantu membiayai pendidikan sesama di sini.

Apr 23

Allah SWT menjanjikan pahala bagi hamba-hamba-Nya yang mengerjakan amal saleh. Di antara amal saleh yang berpahala besar adalah berinfak di jalan Allah SWT. Dalam Al-Quran disebutkan:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92).

Ahmad bin Musthafa al-Maraghi (w. 1371 H) dalam kitab Tafsîr al-Marâghî menjelaskan bahwa kita tidak akan memperoleh kebaikan dari Allah SWT—berupa mendapatkan rahmat-Nya, memperoleh pahala dari-Nya, masuk ke dalam surge-Nya, dan terhindar dari azab-Nya—kecuali kita telah menginfakkan harta yang disukai oleh diri kita di jalan-Nya.

Imam al-Bukhari dan Muslim menuturkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas radhiyallâhu ‘anhu:

كان أبو طلحة أكثر الأنصار نخلا بالمدينة، وكان أحب أمواله إليه بيرحاء (موضع) وكانت مستقبلة المسجد، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يدخلها ويشرب من ماء طيب فيها، فلما نزلت (لَنْ تَنالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ) قال أبو طلحة يا رسول الله: إن أحبّ أموالى إلىّ بيرحاء.

وإنها صدقة لله تعالى أرجو برّها وذخرها عند الله تعالى، فضعها يا رسول الله حيث أراك الله تعالى، فقال عليه السلام: بخ بخ (كلمة تقال عند الرضا والإعجاب بالشيء) ذاك مال رابح، وقد سمعت ما قلت، وإنى أرى أن تجعلها في الأقربين، فقال أفعل يا رسول الله، فقسمها أبو طلحة في أقاربه وبنى عمه.

Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat Nabi dari kaum Anshar yang paling kaya.

Diantara kekayaan yang sangat disukai oleh Abu Thalhah adalah kebun yang bernama Bairaha. Kebun ini menghadap masjid Nabawi dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam biasa masuk ke dalamnya untuk meminum airnya. Ketika turun ayat “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai,” (QS Ali Imran [3]:92).

Abu Thalhah langsung datang menghadap Rasulullah Saw, lalu berkata bahwa harta yang paling ia cintai adalah kebun Bairaha, dan ia mau menyedekahkan hartanya yang paling berharga itu kepada Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw lalu bersabda, “Bagus! itu adalah harta yang paling menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan mengenai kebun itu. Dan aku berpendapat, hendaknya kebun itu engkau berikan kepada kaum kerabatku,” Lalu Abu Thalhah membagi-bagi kebun itu kepada kaum kerabat dan anak-anak paman Rasulullah Saw. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Demikian perilaku salah seorang sahabat Nabi Saw ketika mendengar ayat 92 surah Ali ‘Imran. Sebagai Muslim, sudah sepatutnya kita mencontoh beliau. Jika kita ingin menginginkan surga-Nya, maka infakkanlah harta kita yang paling kita cintai. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita hidayah-Nya sehingga kita selalu termotivasi untuk menginfakkan harta kita yang terbaik, harta yang paling kita cintai. Aamiin.[]

Infakkan sebagian harta yang paling Anda cintai untuk membantu membiayai pendidikan sesama di sini.

 

Apr 23

Sedekah adalah pemberian dari seorang Muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah. Sedekah bisa berbentuk uang, bantuan, dakwah, bahkan menahan diri dari bermaksiat pun juga termasuk sedekah. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَائِنِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ يَعْتَمِلُ بِيَدَيْهِ فَيَأْكُلُ مِنْهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا أَفَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا أَفَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ يَأْمُرُ بِالْخَيْرِ قَالُوا أَفَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ يُمْسِكُ عَنْ الشَّرِّ فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ

“Setiap Muslim wajib bersedekah.” Para Sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mempunyai sesuatu untuk disedekahkan?” Nabi Saw menjawab, “Hendaklah ia bekerja hingga dapat mencukupi kebutuhannya sendiri dan dapat pula bersedekah.” Para Sahabat bertanya lagi, “Jika ia tidak dapat bekerja, bagaimana?” Nabi Saw menjawab, “Hendaklah ia menolong orang yang memerlukan pertolongan.” Para Sahabat bertanya pula, “Jika ia masih tidak juga, bagaimana?” Nabi Saw menjawab, “Hendaklah ia menyuruh orang lain berbuat baik.” Para sahabat masih bertanya lagi, “Jika beramar makruf pun ia tidak dapat, bagaimana?” Nabi menjawab: “Hendaklah ia menahan diri dari keburukan. Sungguh menahan diri dari keburukan itu merupakan sedekah baginya.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Dengan demikian, apa pun kondisi kita, selama kita Muslim, kita pasti bisa bersedekah. Bila Allah SWT mengaruniakan rezeki harta kepada kita, kita bisa bersedekah dalam bentuk harta. Bila tidak dapat, kita bisa bersedekah dengan mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. Bila tidak dapat pula, maka kita bisa menahan diri dari berbuat dosa dan itulah sedekah bagi kita. Semoga Allah SWT berkenan menetapkan hati kita agar senantiasa condong kepada keimanan dan ketakwaan, sehingga kita mampu bersedekah dalam kondisi apa pun, kapan pun.[]

Sedekahkan sebagian rezeki Anda untuk membantu membiayai pendidikan sesama di sini.

« Previous Entries Next Entries »