Feb 20

Harapan Ferick Rinaldy “Muhammad” Hutapea (43 tahun) untuk membuka warung sate kelinci semakin jelas di pelupuk mata. Pasalnya, lima puluh persen dana dari proposal yang diajukannya sudah cair.

Dengan ditemani istri tercinta Siti Hazami, ia mendatangi kantor Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA), Senin (3/2) di Tebet, Jakarta Selatan. “Alhamdulillah, terima kasih,
saya akan menjaga amanah dari donatur untuk mewujudkan
warung sate kelinci ini,” ungkapnya saat menerima dana Rp 15 juta.

Saat Tim BWA menyerahkan bantuan kepada Ferik Hutapea

Menurutnya, uang tersebut akan digunakan untuk membeli sepeda motor bekas dan sewa tempat untuk membuka warung sate di salah satu lokasi strategis di Cijantung, Jakarta Timur. Serta bila dana yang separuhnya lagi sudah cair, akan ia gunakan untuk biaya operasional warung.

Dana yang diterima Ferick merupakan zakat dari kaum Muslimin yang dihimpun oleh Badan Wakaf Al-Qur’an melalui program Zakat Peer to Peer (ZPtP). “Saya yang
sekarang mendapat bantuan zakat, berharap di masa mendatang bisa
berzakat untuk membantu saudara-saudara yang lain yang
membutuhkan,” ungkapnya.

Ferick adalah mantan penganut Kristen yang pernah menjadi sekretaris Badan Pengawas Perbendaharaan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Setelah masuk Islam pada 9 April 2009, ia diusir keluarga besar dan bisnisnya diboikot teman-teman. Ia pun memulai hidup baru dengan  kerja serabutan dengan penghasilan yang minim dan menikah dengan seorang Muslimah.[]

Feb 11

Susah membangunkan anak untuk shalat shubuh? Tak perlu kesal apalagi marah-marah. Ada beberapa cara yang bisa diterapkan dengan penuh kasih sayang dan cukup mudah. Cara ini pula berhasil diterapkan di Pondok Pesantren Takwinul Muballighin, DIY kepada santri-santri barunya —seperti yang telah diceritakan Edi Gunarto, alumnus 2006. Berikut tipsnya.

Pertama, awali aktivitas membangunkan dengan sentuhan lembut supaya anak tidak terkejut.

Kedua, jika cara pertama tidak berhasil, lakukan pemijatan pada ujung ibu jari kaki anak. Lakukan selama beberapa kali hingga anak terbangun. Jika anak sudah bangun, suruhlah anak untuk segera duduk supaya rasa kantuk perlahan hilang.

Ketiga, jika cara kedua masih tidak berhasil, siapkan air hangat/dingin, lalu usapkanlah di wajahnya. Sama seperti cara kedua, setelah anak terbangun langsung diminta duduk selama beberapa saat.  Pastikan anak tidak berbaring kembali di tempat tidur. Perintahkan sang anak untuk segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Insya Allah jika sudah berwudhu, maka rasa kantuknya akan hilang.

Keempat, jika ketiga cara di atas tetap saja tidak berhasil, sekali-kali percikkanlah air ke wajah anak, atau bahkan guyurlah si anak dengan volume tertentu hingga terbangun (diawali dengan satu sendok air, bila belum bangun bisa ditambah kelipatannya). Kemudian peringatkan si anak bahwa jika esok hari tidak segera bangun akan diguyur kembali.

Sebenarnya untuk membangunkan anak, cara yang pertama hingga ketiga adalah cara yang paling ideal. Tak perlu ‘menyiksa’ anak dengan menyiram seperti itu. Untuk itu, selain beberapa tips di atas, perlu juga ditanamkan kepada anak niat untuk bangun shubuh. Sebab tanpa adanya niat, sekeras apapun usaha kita hasilnya hanya sia-sia belaka.

Sekali waktu perlu  diterangkan kepada anak mengenai keutamaan-keutamaan bangun shubuh.  Juga perlu adanya pengawasan kepada anak supaya tidak tidur terlalu larut. Rata-rata waktu tidur untuk anak adalah sekitar 7-8 jam. Usahakan waktu tidur bagi mereka tidak lebih dari pukul 21.30 WIB.[]

Jan 22

Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) menyalurkan bantuan bahan makanan pokok dan pompa air kepada korban banjir di bantaran kali Ciliwung, Jum’at (17/1) di RT 05/01 Kelurahan Cawang Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

BWA mengirimkan bantuan untuk korban banjir di Cawang
BWA mengirimkan bantuan untuk korban banjir di Cawang

“Warga yang mengungsi mengeluhkan kekurangan bahan makanan pokok dan kurangnya air bersih,” ungkap Agus Salim dari tim BWA, menirukan keluhan warga yang menginformasikan ke BWA.

Mendengar keluhan itu, tim BWA langsug menyalurkan beras 125 Kg, telor dua krat, mie instan sebelas karton, minyak goreng 10 Kg dan pompa air. “Terima kasih banyak, semoga amal shalih donator dibalas kebaikan yang berlipat ganda oleh Allah SWT,” doa Ketua RT 05 Iyan Susanto saat serah terima bantuan.

Iyan menyatakan ketinggian banjir di beberapa titik pemukiman sampai empat meter sehingga merendam ratusan rumah warga. “Masih ada 150 rumah lagi yang masih terendam banjir,” ungkapnya.

Saat ini sekitar 500 KK dari RT 04 dan 05 mengungsi di Aula Puskesmas dan depan Graha Nindya.[]

Jan 10

Dai mantan rocker Ustadz M Khoir Hari Moekti menjelaskan keunikan wakaf dibanding zakat dan sedekah. “Wakaf berbeda  dengan zakat, berbeda pula dengan sedekah, wakaf itu unik,” ungkapnya, Jum’at (10/1) melalui surat elektronik.

Menurutnya, zakat meskipun hukumnya wajib, hanya dapat dilakukan setahun sekali dan diberikan kepada delapan golongan yang berhak menerima zakat. “Sedangkan wakaf, seperti umumnya sedekah, bisa dilakukan sesering mungkin dan dapat diberikan kepada orang yang berada di luar delapan golongan tersebut,” bebernya.

Namun wakaf pun berbeda dengan sedekah. Karena orang yang menerima sedekah atau pun zakat berhak memiliki dan memanfaatkan bendanya. “Sedangkan orang yang menerima wakaf, hanya berhak menggunakan dan memanfaatkan benda tersebut tanpa berhak memilikinya,” tutur dai yang akrab disapa Kang Hari tersebut.

Memang setiap Muslim akan mendapat pahala di sisi Allah SWT saat menunaikan zakat atau pun bersedekah. “Namun Muslim yang berwakaf bukan saja mendapatkan pahala saat memberikan wakaf, tetapi akan terus mendapat kucuran pahala selama benda yang diwakafkannya dimanfaatkan orang lain meskipun pewakaf  tersebut sudah meninggal dunia!” tegas Kang Hari.

Wakaf adalah menahan benda milik seseorang dan menyedahkan kemanfaatan dari benda tersebut di jalan yang tidak diharamkan Allah SWT. Hukumnya sunah dan merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang sangat disukai dan dianjurkan dalam Islam. Menurut Imam Asy Syafi’iy, wakaf merupakan kekhususan bagi umat Islam dan belum pernah dikenal pada masa jahiliyah.

Berwakaf merupakan kebiasaan Nabi Muhammad SAW dan shalafush shalih. Harta yang boleh diwakafkan adalah setiap harta mubah yang dapat diambil manfaatnya serta tidak mudah rusak atau habis jika dimanfaatkan. []

Dec 20

Ada banyak kado yang dapat diberikan kepada ibu, sebagai ungkapan sayang kita kepadanya, bisa perhiasan, voucher belanja, kendaraan, rumah atau barang lain yang memang ibu sukai.

Namun, ada kado yang bisa jadi tidak pernah dibayangkan sebelumnya, tapi akan memberikan kebahagiaan yang sangat luar biasa kepada ibu bila kita berikan. Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Memberikan minuman kesukaannya dengan diiringi permintaan maaf yang tulus. Ibu yang baik pasti akan sangat bahagia jika anaknya dengan penuh hormat menyajikan segelas minuman kesukaannya sembari menyatakan permintaan maaf yang tulus atas segala kesalahan yang pernah diperbuat baik disadari atau pun tidak.

2. Mendoakan Ibu dalam setiap sholat kita. Doa adalah senjatanya orang-orang, Allah SWT menyukai orang yang berdoa kepada-Nya. Bahkan dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa doa anak kepada orang tuanya akan mengalirkan pahala kepada mereka sekalipun sudah meninggal dunia.

3. Menunaikan ibadah wakaf atas nama ibu. Kado yang satu ini mungkin belum umum dilakukan. Padahal hakikatnya kado ini sangat dibutuhkan oleh ibu. Karena berwakaf atas nama ibu artinya, setiap project Wakaf yang dibangun atas nama ibu, pahalanya Insya Allah terus mengalir kepada Ibu. Pahala sangat diperlukan oleh setiap manusia agar mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak.

Gabungkan ketiga tips di atas, maka setelah senyum bahagia atau menangis terharu atas sikap anak yang dengan tulus meminta maaf, ibu kita pun akan semakin tentram jiwanya karena anaknya tercinta memberikan memberikan ‘passif income’ berupa pahala yang mengalir tiada akhir dari wakaf yang ditunaikan atas nama ibu.[]

Silahkan pilih project-project wakaf di www.wakafquran.org untuk Anda bangun atas nama Ibu tercinta!

 

Sep 19

 

Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) merupakan salah satu dari 18 Lembaga Filantropi termasuk Palang Merah Indonesia yang mendapat penyaluran dana kebajikan dari program CSR CIMB Niaga Syariah. Secara simbolik penyaluran dana tersebut telah diterima masing-masing Lembaga yang hadir di Gedung Financial Hall, CIMB Niaga Tower,  Sudirman-Jakarta.

Acara dengan tema “Unifying Spirit for Humanity” itu dihelat dalam rangka menjalin kerjasama serta sosialisasi rekening ponsel CIMB Niaga Syariah. Program kerjasama seperti ini telah dilaksanakan sejak tahun 2010. Kali ini CSR CIMB Niaga Syariah menggelontorkan dana cukup besar, yakni Rp 2,7 miliar.

Muhammad Fardiansyah, Marketing Officer BWA, yang turut hadir mewakili BWA berharap kerja sama ini terus berlanjut. “Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan kami ingin mengajak manajemen CIMB Niaga Syariah turut melihat langsung proyek-proyek wakaf yang digagas BWA,” ujarnya.

times new roman

cimb niaga wakaf quran

Untuk Desa Bacu-Bacu

Rencananya, lanjut Fardiansyah, bantuan dana dari CIMB Niaga Syariah senilai Rp 165 juta tersebut akan di alokasikan pada program Tebar Cahaya Indonesia Terang (TCIT) pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di dusun Ampiri, Bacu-bacu, kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.  

Proyek wakaf yang diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 308 juta tersebut akan segera direalisasikan dengan adanya bantuan dana kebajikan dari CIMB Niaga Syariah ini. “Alhamdulillah, Insya Allah kami akan segera merealisasikan proyek pembangunan PLTMH di Bacu-Bacu dengan dana ini,” ungkap Hazairin, manejer Fundraising BWA, sangat bersyukur.

Masih ada kesempatan kepada wakif dan donatur untuk menggenapkan yang setengahnya lagi dari biaya project ini. Ayo berpartisipasi, selamat berwakaf. klik disini!  

Jul 11

Dewasa ini sebagian kaum Muslimin masih mengalami kebingungan seputar bagaimana berniat puasa Ramadhan; apakah cukup berniat sekali di awal bulan atau berniat setiap malam, dan bagaimanakah lafaz niat yang benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kami ingin menjelaskan terlebih dahulu asal muasal melafazkan niat.

Menurut keteranan yang kami dapat, munculnya anjuran melafalkan niat ketika beribadah, berawal dari kesalah-pahaman terhadap pernyataan Imam As-Syafi’i terkait tata cara salat. Imam As-Syafi’i pernah menjelaskan:

الصَّلَاةِ لَا تَصِحُّ إلَّا بِالنُّطْقِ

“….salat itu tidak sah kecuali dengan al-nuthq.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 3:277)

Al-nuthqu artinya berbicara atau mengucapkan. Sebagian pengikut madzhab syafi’i memaknai al-nuthqu di sini dengan melafalkan niat. Padahal ini adalah salah paham terhadap maksud beliau rahimahullah. Dijelaskan oleh Imam al-Nawawi bahwa yang dimaksud dengan al-nuthq di sini bukanlah mengeraskan bacaan niat, tetapi maksudnya adalah mengucapkan takbiratul ihram. An-Nawawi mengatakan:

قَالَ أَصْحَابُنَا غَلِطَ هَذَا الْقَائِلُ وَلَيْسَ مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِالنُّطْقِ فِي الصَّلَاةِ هَذَا بَلْ مُرَادُهُ التَّكْبِيرُ

“Ulama kami yang bermazhab Syafi’i mengatakan, ‘Orang yang memaknai demikian adalah keliru. Yang dimaksud As Syafi’i dengan al-nuthqu ketika salat bukanlah melafalkan niat, tetapi mengucapkan takbiratul ihram’.” (Al Majmu’, 3:277).

Kesalahpahaman ini juga dibantah oleh Abu al-Hasan al-Mawardi al-Syafi’i, beliau mengatakan,

فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ – الزُّبَيْرِيُّ – عَلَى وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ النُّطْق بِالتَّكْبِيرِ

“Az Zubairi telah salah dalam menakwil ucapan Imam Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika salat. Ini adalah pemahaman yang salah, karena yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Imam al-Syafi’i adalah wajibnya mengucapkan takbiratul ihram.” (Al-Hawi Al-Kabir, 2:204).

Karena kesalah-pahaman ini, banyak kiai yang mengklaim bermadzhab Syafi’i yang mengajarkan keharusan melafalkan niat ketika akan menunaikan salat. Selanjutnya masyarakat memahami bahwa itu juga berlaku untuk semua amal ibadah. Sehingga muncullah lafal niat wudhu, niat tayamum, niat mandi besar, niat puasa, niat zakat, niat sedekah, dan seterusnya. Sayangnya, pak kiai tersebut tidak mengajarkan lafal niat untuk semua bentuk ibadah. Di saat itulah, banyak masyarakat yang kebingungan, bagaimana cara niat ibadah yang belum dia hafal lafalnya?

Itu artinya, anjuran melafalkan niat yang diajarkan sebagian dai, telah menjadi sebab timbulnya keraguan bagi masyarakat dalam kehidupan beragamanya. Padahal ragam ibadah dalam Islam sangat banyak. Tentu saja, masyarakat akan kerepotan jika harus menghafal semua lafal niat tersebut. Padahal bukankah Islam adalah agama yang sangat mudah? Jika demikian, berarti itu bukan bagian dari syariat Islam.

Niat Adalah Amalan Hati

Siapapun ulama sepakat dengan hal ini. Niat adalah amal hati, dan bukan amal lisan.

Imam al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

النية في جميع العبادات معتبرة بالقلب ولا يكفي فيها نطق اللسان مع غفلة القلب ولا يشترط

“Niat dalam semua ibadah yang dinilai adalah hati, dan tidak cukup dengan ucapan lisan sementara hatinya tidak sadar. Dan tidak disyaratkan dilafalkan,…” (Raudhah al-Thalibin, 1:84)

Dalam buku yang sama, beliau juga menegaskan:

لا يصح الصوم إلا بالنية ومحلها القلب ولا يشترط النطق بلا خلاف

“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhah at-Thalibin, 1:268)

Dalam kitab I’anah al-Thalibin–salah satu buku rujukan bagi syafiiyah di Indonesia–Imam Abu Bakr ad-Dimyathi As-Syafii juga menegaskan:

إن النية في القلب لا باللفظ، فتكلف اللفظ أمر لا يحتاج إليه

“Sesungguhnya niat itu di hati bukan dengan diucapkan. Memaksakan diri untuk mengucapkan niat, termasuk perbuatan yang tidak dibutuhkan.” (I’anatut Thalibin, 1:65).

Tentu saja keterangan para ulama dalam hal ini sangat banyak. Semoga tiga keterangan dari ulama mazhab Syafi’i di atas bisa mewakili. Mengingat niat tempatnya di hati, maka memindahkan niat ini di lisan berarti memindahkan amal ibadah bukan pada tempatnya. Dan tentu saja, ini bukan cara yang benar dalam beribadah.

Inti Niat

Mengingat niat adalah amal hati, maka inti niat adalah keinginan. Ketika Anda menginginkan untuk melakukan sesuatu maka Anda sudah dianggap berniat. Baik amal ibadah maupun selain ibadah. Ketika Anda ingin makan, kemudian Anda mengambil makanan sampai Anda memakannya, maka Anda sudah dianggap niat makan. Demikian halnya ketika Anda hendak salat zhuhur, Anda mengambil wudhu kemudian berangkat ke masjid di siang hari yang panas, sampai Anda melaksanakan salat, tentu Anda sudah dianggap berniat.

Artinya, modal utama niat adalah kesadaran. Ketika Anda sadar dengan apa yang akan Anda kerjakan, kemudian Anda berkeinginan untuk mengamalkannya maka Anda sudah dianggap berniat. Ketika Anda sadar bahwa besok Ramadhan, kemudian Anda bertekad besok akan puasa maka Anda sudah dianggap berniat. Apalagi jika malam harinya Anda menunaikan salat tarawih dan makan sahur. Tentu ibadah semacam ini tidak mungkin Anda lakukan, kecuali karena Anda sadar bahwa esok pagi Anda akan berpuasa Ramadhan. Itulah niat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya seperti berikut:

Bagaimana penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang niat puasa Ramadhan; apakah kita harus berniat setiap hari atau tidak?

Jawaban beliau:

كُلُّ مَنْ عَلِمَ أَنَّ غَدًا مِنْ رَمَضَانَ وَهُوَ يُرِيدُ صَوْمَهُ فَقَدْ نَوَى صَوْمَهُ سَوَاءٌ تَلَفَّظَ بِالنِّيَّةِ أَوْ لَمْ يَتَلَفَّظْ . وَهَذَا فِعْلُ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ كُلُّهُمْ يَنْوِي الصِّيَامَ

“Setiap orang yang tahu bahwa esok hari adalah Ramadhan dan dia ingin berpuasa, maka secara otomatis dia telah berniat berpuasa. Baik dia lafalkan niatnya maupun tidak. Ini adalah perbuatan kaum muslimin secara umum; setiap muslim berniat untuk berpuasa.” (Majmu’ Fatawa, 6:79)

Niat Puasa Ramadhan

Untuk puasa wajib, seorang muslim wajib berniat sebelum masuk waktu subuh. Hal ini berdasarkan hadis dari Hafshah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يُبَيِّتِ الصيامَ من الليل فلا صيامَ له

“Barangsiapa yang belum berniat puasa di malam hari (sebelum subuh) maka puasanya batal.” (HR. An Nasa’i dan dishahihkan Al Albani)

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud, Ibnu khuzaimah, baihaqi)

Ketentuan ini berbeda dengan puasa sunah. Berdasarkan riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui Aisyah di siang hari di luar Ramadhan, kemudian beliau bertanya:

هَلْ عِنْدَكُمْ غَدَاءٌ؟ وَإِلَّا , فَإِنِّي صَائِمٌ

“Apa kamu punya makanan untuk sarapan? Jika tidak, saya tak puasa.” (HR. al-Nasai, al-daruquthni, dan Ibnu Khuzaimah)

Apakah boleh berniat puasa langsung sebulan penuh, ataukah harus tiap malam mengulang niat?

Pada prinsipnya, ketika Anda sadar bahwan besok pagi mau puasa, maka Anda sudah dianggap berniat. Apalagi jika Anda makan sahur. Bisa dipastikan Anda sudah niat.

Namun bolehkah seseorang melakukan niat di awal Ramadhan untuk berpuasa penuh satu bulan? Sehingga Andaipun dia lupa atau ada faktor lainnya, sehingga tidak sempat berkeinginan puasa, Anda tetap sah puasanya.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cukup dalam seluruh bulan Ramadhan kita berniat sekali di awal bulan, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika puasanya terputus di tengah bulan, baik karena bepergian, sakit dan sebagainya, maka dia harus berniat lagi, karena dia telah memutus bulan Ramadhan itu dengan meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

May 28

Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) truk tangki untuk merealisasikan proyek wakaf sarana air bersih di kecamatan Ile Ape, kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah ditandatangani Manager Marketing Badan Wakaf Al-Quran (BWA) Hazairin Hasan dan diserahkan kepada Marketing PT Ciwangi Berlian Motors, Jakarta Selatan, Dewi Wulandari (16/5).

Truk tangki yang dipesan adalah jenis Mitsubitshi FE 73 dengan enam ban dan tangki berkapasitas lima ribu liter. Modifikasi dan pengecatan truk tangki tersebut direncanakan akan rampung pada 16 Juni 2013 mendatang. Setelah itu truk tangki tersebut akan dipamerkan di kota-kota besar di Pulau Jawa untuk menggugah kaum Muslimin yang ada di sana sehingga mau berwakaf.

“Truk tangki ini akan diroadshowkan di berbagai kota besar di pulau Jawa; dimulai dari Tangerang, Jakarta, Bekasi, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Khusus kota-kota yang terdapat gerai BWA, truk tangki tersebut akan dipamerkan di sana,” ujar Hazairin setelah menandatangani SPK.

Setelah dana wakaf terkumpul, truk tangki akan dibawa ke NTT untuk beroperasi menyediakan air bersih bagi warga empat desa di kecamatan Ile Ape, NTT, yaitu desa Dulitukan, Palilolon, Kolipadang, dan Tagawiti. Warga di sana memerlukan air bersih karena ketiadaan sumber air tawar di hampir seluruh wilayah pesisir pantai Ile Ape. Oleh karena itu, truk tangki akan mengambil air dari sumber mata air yang jaraknya sekitar 30 km dari kecamatan Ile Ape dan kemudian mengisi lima bak penampungan yang masing-masingnya berkapasitas lima ribu liter dan tersebar di empat desa. Truk akan beroperasi setiap hari.

Untuk pengoperasian dan pemeliharaan sarana air bersih tersebut, warga akan membayar iuran mingguan yang tidak memberatkan. Adapun pengelolaan sarana menjadi tanggung jawab nadzir wakaf, yakni ust. Arifudin Anwar yang juga partner lapang BWA di Ile Ape dan Adonara NTT.

Mari berperan serta, semoga wakaf yang Anda tunaikan mendapat balasan berupa pahala yang mengalir seiring mengalirnya air bersih yang dinikmati dengan penuh rasa syukur oleh masyarakat Muslim Ile Ape, NTT.[]

Klik di sini untuk membantu warga Ile Ape, NTT.

May 24

Siapa di antara umat Islam yang tidak mengenal ummul mukminin, Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha? Beliau adalah  istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan putri khalifah Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai ahli fikih dan ahli hadits. Beliau adalah salah satu wanita yang menjadi tempat rujukan agama di masanya.

Adalah pasangan suami-istri Said Samaroa (46) dan Murniasih Karyani (45), yang menginginkan salah satu putrinya memiliki sifat-sifat terpuji seperti Aisyah radhiyallahu ‘anha. Oleh karena itu, keduanya menamai putri bungsunya dengan nama Aisyah Khairunnida (12) yang berarti ‘Aisyah sebaik-baik panggilan’. Semoga senantiasa menjadi doa yang akan mewujudkan harapan keduanya.

Tidak hanya sekedar memberi nama yang baik, ikhtiar agar Aisyah tumbuh menjadi wanita salehah pun dilakukan oleh kedua orangtuanya dengan memasukkan Aisyah ke dalam lembaga pendidikan islami. Namun, cita-cita yang mulia tersebut terkendala oleh biaya yang tak mampu ditanggung oleh Said Samaroa, sang ayah.

Said mencari nafkah dengan menjadi buruh serabutan. Pendapatannya yang kecil dan tak menentu  membuat Said kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk kebutuhan pendidikan putrinya. Tak patah semangat, Said tetap berusaha agar putrinya bersekolah. Alhamdulillah, di tengah kerja kerasnya mencari uang, datang sejumlah dana bantuan hasil iuran teman-teman Said yang kemudian digunakan untuk membayar biaya pendaftaran Aisyah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) An-Najah Bojong Gede, Bogor.

Biaya pendaftaran terselesaikan, tetapi di belakang hari muncul masalah baru, yaitu sulitnya Said dalam membiayai pendidikan Aisyah, seperti SPP bulanan, uang ujian semester, dan lembar kerja siswa (LKS) tiap semesternya. Melalui informasi yang didapat, akhirnya Said mengajukan permohonan bantuan dana kepada Badan Wakaf Al-Quran (BWA).

Dan, Alhamdulillah, biaya pendidikan Aisyah Khairunnida (12) selama 1 semester telah dilunasi oleh program Indonesia Belajar BWA pada Jumat (3/5). Aisyah pun berterima kasih kepada para donatur yang telah menyalurkan sebagian hartanya kepada BWA.

“Saya ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih kepada para donatur yang telah membantu saya. Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik. Semoga para donatur tetap memberikan bantuannya dengan ikhlas kepada kami yang kekurangan ekonominya agar bisa terus bersekolah,” harap Aisyah dalam suratnya kepada BWA.

Terima kasih kepada donatur yang telah membantu, semoga Allah SWT membalas amal baik para donatur dengan pahala setimpal. Aamiin.[]

Salurkan donasi Anda untuk membantu membiayai pendidikan sesama di sini!

May 23

Ani Handayani (18), putri sulung dari lima bersaudara pasangan Daman (45) dan Nur Hasanah (40) lahir dari keluarga tidak mampu. Keadaan tersebut membuat Ani, demikian sapaan akrabnya, sejak kelas III Sekolah Dasar (SD) terpaksa tinggal bersama kakek dan nenek karena kedua orangtuanya berangkat mengadu nasib di Jakarta dengan berjualan cilok (salah satu jajanan khas Sunda mirip bakso yang terbuat dari tepung tapioka dan berbumbu kacang). Sejak itu, Ani kehilangan kontak dengan kedua orangtuanya.

Setamat SD, sang ayah pulang menjemput Ani untuk bersekolah di Jakarta. Namun, lantaran tak mampu membayar biaya ujian semester, cicilan uang bangunan, uang pangkal dan SPP, Ani terpaksa putus sekolah. Usaha kedua orangtua yang tak bisa mengangkat nasib keluarga menjadi lebih baik membuat kedua orangtua Ani memutuskan kembali ke Sukabumi. Di sana, Ani meneruskan sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Musthafa. Namun, malang, begitu lulus ia tidak bisa memeroleh ijazah karena masih memiliki tunggakan uang bangunan dan SPP.

Alhamdulillah, sikap Ani yang tegar dan kemauan kerasnya untuk belajar membuat seorang guru terketuk hatinya sehingga bersedia membantu Ani meneruskan pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Al-Islamiyah Persatuan Umat Islam (PUI), Jakarta. Meski tanpa ijazah, Ani tetap dizinkan untuk bersekolah di sana hingga kini. Dan untuk memenuhi kebutuhannya, Ani bekerja sebagai tukang cuci pakaian teman-temannya dan bersih-bersih asrama sekolah.

Dari pekerjaan itu, Ani memperoleh upah sebesar Rp 60 ribu per bulan. Meski tidak mencukupi keperluannya sehari-hari ditambah kondisi fisik yang tak memungkinkannya bekerja berat secara terus menerus, tetapi Ani tetap mengambilnya. Akibatnya, penyakit bonchitis yang diidapnya pun kambuh sehingga memaksanya untuk beristirahat dan tidak bekerja selama tiga bulan.

Melalui program Indonesaia Belajar (IB), Badan Wakaf Alquran (BWA) berusaha mendongkrak optimisme Ani untuk terus melanjutkan sekolahnya. Saat ditemui tim BWA, Ani berkeyakinan bahwa nasibnya akan berubah dengan tetap bersekolah.

“Hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan kami nanti, yang pasti kami ingin merubah nasib keluarga kami,” pungkas Ani dengan sikap tawakal yang tinggi.

Total dana yang dibutuhkan Ani untuk membiayai pendidikan selama setahun di MA PUI Jakarta mencapai Rp 4.950.000,- (empat juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah). Mari meringankan beban Ani, semoga sebagian dari rezeki yang Anda donasikan kepada Ani mendapat balasan berlipat ganda dari Sang Pencipta, Allah SWT. Aamiin.[]

Klik di sini untuk membantu saudari Ani!

« Previous Entries Next Entries »