Aug 18

Inna lillahi wa inna ilahi raji’un, Amrudin Kamil (20) telah meninggalkan kita semua setelah sempat di rawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta selama 10 hari.  Tumor yang dideritanya ternyata tumor ganas yang telah menjalar ke organ tubuh vital di sekitar lehernya.

Sebelum dirawat

Saat di RSCM

Kondisinya sempat membaik setelah mendapat perawatan dari dokter di RSCM, wajahnya sudah terlihat lebih segar. Kakinya yang selama ini tidak bisa digerakan, sudah kembali bisa bergerak walau belum kuat dipakai berjalan.  Telapak kaki yang sebelumnya terasa sakit bila disentuh, sudah bisa ditapakkan.  Namun Allah SWT berkehendak yang terbaik bagi hambaNya.

“Ya Allah, berikan hamba nikmat tidur, walau hanya dua jam,” begitulah salah satu doa yang dipanjatkan Amruddin Kamil, karena rasa sakit yang dirasakan di lehernya membuat ia tidak bisa terlelap, sebelum akhirnya berpulang ke Rahmatullah, Senin (15/8) pukul 18.10 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Jenazahnya langsung dibawa ke Serang dan tiba di rumah duka pukul 23.00 kemudian sekitar pukul satu dini hari jenazahnya pun dimakamkan di salah satu tempat pemakaman Muslim di dekat kediamannya di Serang, Banten.  Pemuda lulusan pesantren Darussalam Pipitan, Serang ini sejak 5 Agustus lalu dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Tumor sudah ada di leher Kamil sejak 2009. Namun karena masih berupa benjolan kecil ia tidak curiga. Akhirnya benjolan tersebut semakin besar, ia pun berobat ke RS daerah setempat.  Pada Maret 2011, ia merasakan benjolan di lehernya sakit kembali. RS setempat menegaskan bahwa Kamil harus segera dioperasi karena penyakitnya sangat berbahaya dan merujuknya ke RSCM.

Karena kehabisan biaya, anak penjual roti setiap pagi di salah satu pasar tradisonal di Serang, ini urung dibawa ke RSCM. Melihat penyakitnya semakin parah, teman-teman Kamil pun mendorong pihak keluarga untuk membawanya ke RSCM. Ada pun masalah biaya, salah satu temannya, meminta bantuan Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) untuk menggalang dana dari kaum Muslim yang terketuk hatinya.

Melalui situs ini, BWA pun menggalang dana dengan program Zakat Peer to Peer untuk biaya berobat Kamil.  Keluarga almarhum mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur kaum muslimin yang telah membantu untuk pengobatan Amruddin Kamil, semoga Allah SWT membalas kebaikan para donatur yang budiman.

Selamat jalan saudaraku, semoga Allah SWT menjadikan sakitmu sebagai kifarat dosa dan menempatkanmu di surga-Nya. Aamiin.[]

Aug 4

Di pagi yang cerah itu, seluruh warga Muslim Muara Taikako baik laki-laki maupun perempuan, tua-muda bahkan anak-anak berkumpul di Masjid At Taqwa Muara Taikako Desa Sikakap Kecamatan Pagai Utara Selatan Kabupaten Mentawai Provinsi Sumatera Barat. Dengan antusias mereka mendengarkan tausiah yang disampaikan Ust Hari Moekti, Rabu (11/5) pagi.

“Kami warga Muslim Muara Taikako sangat menghargai kedatangan Kang Hari dan BWA yang tidak kami duga-duga,” ujar Bapak Nofrizal, Ketua DKM Masjid At Taqwa dalam sambutannya. Karena sudah belasan tahun silam, Nofrizal meminta Kecamatan Cikakap mengirimkan dai-dainya untuk membina Muslim Muara Taikako,  tapi tidak kunjung dikabulkan. Namun, Alhamdulillah, pasca tsunami Mentawai Oktober 2010 lalu, relawan salah satu organisasi Islam dari Padang, secara rutin sepekan sekali datang membina warga.

Menurutnya dari 120 kepala keluarga (KK) Muara Taikako yang beragama Islam hanya 23 KK. Itu pun  8 KK di antaranya yang Muslim hanya suaminya. Muslim Muara Taikako selain penduduk asli yang sudah masuk Islam, umum-nya adalah pendatang dari Medan dan Padang, yang bekerja sebagai karyawan dan sangat butuh pengajian agama Islam.

Usai memberikan tausiah, Kang Hari Moekti menyerahkan beberapa boks yang berisi mushaf Al- Qur’an wakaf dari wakif BWA. Mengharukan ketika mendengar Ibu Roslina, ketua majlis taklim setempat mengungkapkan perasaannya.

“Alhamdulillah kami mendapatkan Al-Qur’an. Insya Allah akan kami pelajari. Tetapi jamaah kami ini semuanya masih belajar Iqra, paling tinggi baru sampai Iqra empat,” ujar penduduk asli Mentawai yang sudah masuk Islam sepuluh tahun lalu itu sambil tersipu malu.

Namun dengan antusias, wanita berkerudung ungu dan jilbab biru ini berkata, “Tapi kami ingin tinggi kaji (terus mem-perdalam pemahaman Islam),  Kami ingin dukungan dari semua kalangan terutama dari kota besar seperti  Jakarta, setidaknya datanglah ke tempat kami setahun dua kali, biar kami tambah semangat mengkaji!”

Mendengar betapa besarnya keinginan warga mengkaji Islam hilanglah rasa letih Tim BWA selama perjalanan 12 jam menaiki kapal ferry dari Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, kemudian berganti sampan bermesin meliuk-liuk di Pulau Pagai Utara.

Kedatangan Tim BWA ke Mentawai merupakan rangkaian dari pendistribusian Al-Qur’an wakaf realisasi dari Program Al-Qur’an Road Trip. Dalam kesempatan tersebut, sekitar 700 Al-Qur’an didistribusikan ke berbagai masjid dan mushala di dusun di Desa Sikakap serta Dusun Pasapuat Desa Saumanganyak Kecamatan Pagai Utara Selatan.[]

Aug 4

Dengan penuh keramahan, pimpinan Pondok Pesantren Ad Dalhariyah Nyai Hj Nur Hannah, sambut kedatangan Tim BWA, Jum’at (18/3) siang di Ponpes Ad Dalhariyah, Dukuh Watucongol, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Nyai Hj Nurhannah

Nyai Hj Nurhannah

Kedatangan Tim BWA bersama  Ust Hari Moekti itu dalam rangka melaksanakan Program Al-Qur’an Road Trip, mendis-tribusikan sekitar 5.150 Al-Qur’an wakaf yang berlangsung  pada 17-20 Maret 2011 ke berbagai pesantren, masjid, dan panti asuhan di sekitar lereng Gunung Merapi.

Sedangkan ponpes yang memiliki sekitar 500 santri putri ini menerima sekitar 500 Al-Qur’an wakaf. “Sering-seringlah datang ke pesantren sehingga bisa sambung silaturahim,” ujar Nyai Hannah saat melepas rombongan untuk meneruskan pendistribusian Al-Qur’an ke tempat lain.

Didirikan oleh gerilyawan pasukan Diponegoro, ponpes yang umurnya sudah ratusan tahun ini merupakan pesantren tertua di Muntilan. Didirikan pada masa perang Diponegoro oleh kakek buyut Nyai Hannah yakni Kyai Abdurrauf bin Raden Bagus Kemuning Hasan Tuqo.

Abdurrauf adalah salah seorang gerilyawan andalan Pangeran Diponegoro. Dalam perangnya, pasukan Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Maka dari itu, Pangeran Diponegoro membutuhkan sosok yang dapat membantu perjuangannya melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad di masyarakat.

Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di Dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan.

Di sana, ia membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kyai Abdurrauf. Kemudian, semasa pimpinan Abdurrahman, kakek Nyai Hannah,  ponpes tersebut dipindah ke Dukuh Santren, Gunung Pring.

Abdurrahaman memiliki anak yang bernama Dalhar Nahrawi (1870-1959), ayah Nyai Hannah. Semasa Dalhar beranjak dewasa, ponpes  dipindah ke Watucongol. Setelah Abdurrahman berpulang, kepemimpinan pesantren beralih ke Dalhar.

Sepeninggal Kyai Dalhar, pesantren pun dipimpin oleh Nyai Hamimmah Zainab, ibunya Nyai Hannah.  Untuk mengenang jasa Dalhar yang besar untuk kemajuan ponpes, maka ponpes tersebut diberi nama Ad Dalhariyah.

Sedangkan Nyai Hannah  memimpin ponpes meng-gantikan ibunya, sejak sang ibu berpulang  pada 17 Oktober 2010 di usia ke-90 tahun.[]

Jun 3

BWA bekerjasama dengan STIE Hamfara Yogyakarta, membangun penyediaan sarana air bersih untuk pesantren Mahasiswa Hamfara yang terletak di Dusun Kenalan, Desa Bangun Jiwo, Kasihan, Bantul.

Pesantren mahasiswa tersebut didirikan sebagai fasilitas bagi mahasiswa dalam tahfidziyyah al-Qur’an (menghafal ayat-ayat al-Qur’an) yang menjadi bagian dari kompetensinya.

Berikut sarana air bersih yang telah dibangun:

Pembuatan sumur gali dengan kedalaman kurang lebih 15 meter

Pembuatan penampungan air (gronteng) dengan kapasitas 8 kubik sebanyak 1 buah

Pembuatan kamar mandi asrama dan penanaman pipa air

Pengadaan pompa air sebanyak 2 buah

Apr 13

Badan Wakaf Al-Qur’an menyalurkan sekitar 400 Al-Qur’an dan 326 kerudung ke Yayasan Pendidikan Islam Pondok Pesantren Miftahul Jannah, Jatiragas Kaum Desa Jatibaru Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang, Selasa (12/4) siang di Ponpes Miftahul Jannah.

Ust H Ade Rosi Fauzan, pengasuh Muftahul Jannah, menyatakan terima kasihnya saat Abu Hamzah dari Badan Wakaf Al-Quran menyerahkan Al-Qur’an dari para wakif (orang yang berwakaf) tersebut. “Alhamdulillah senang sekali, di saat daya beli masyarakat sedang menurun ternyata masih ada juga yang mewakafkan Al-Qur’an.”

Menurut Ust Ade, yang juga sebagai menantu pendiri dan pimpinan Miftahul Jannah, hanya sekitar 120 Al-Qur’an saja yang akan digunakan untuk pengajian sehari-hari di ponpesnya. Sisanya akan didistribusikan ke tiga belas masjid yang menjadi jaringan Miftahul Jannah.

Salah satu ketua dewan keluarga masjid jaringan yang hadir dalam penyerahan Al-Qur’an pun menyatakan terima kasihnya. “Senang sekali, Alhamdulillah, Al-Qur’an ini untuk inventaris masjid, soalnya Al-Qur’an yang ada sudah lama sararoek (sobek-sobek), rata-rata juz pertama dan terakhir sudah hilang,” ujar Ust Ahmad Zaeni, Ketua DKM Masjid Baitul Rahman Ponpes Mandiri Bambu Raki, Desa Jatiwangi Kecamatan Jatisari.

Sedangkan kerudung diserahterimakan oleh mitra lapang BWA Ustadzah Nur Azmina kepada Ustadzah Hj Nunung Nurul Huda, pengasuh santri putri.”Terima kasih kepada para wakif, semoga bermanfaat dipakai ibadah para santri putri dan jamaah istighasah,” ujar putri pendiri ponpes itu.

Menurut Ustadzah Nunung, yang juga istri dari Ust Ade, dari 110 santri Miftahul Jannah hanya 40 orang santri putri, jadi hanya 40 kerudung saja yang akan diberikan kepada santrinya, sisanya akan diberikan kepada jamaah istighasah bulanan di ponpes ini yang hadir dari lima kecamatan sekitar.

Pesantren yang mayoritas dari kalangan dhuafa ini, didirikan oleh KH Jejen Nashirul Hajin dan istrinya Ustadzah Hj Aisyah Maelasari pada tahun 1984. Namun sayangnya pemerintah setempat seakan tidak menunjukkan kepeduliaannya.

“Tos sababaraha kali proposal diajeungkeun ka pamarentah, tapi pamarentah teu aya masihan! (sudah beberapa kali proposal diajukan kepada pemerintah tetapi tidak pernah diberi!)” ujar Ustadzah Aisyah. Tapi Alhamdulillah ada saja Muslim agniya yang bersedia mewakafkan tanah, bangunan, dan menyedekahkan beras untuk keberlangsungan ponpes ini. []

Mar 24

Berikut beberapa liputan media (khususnya online) terkait aksi kampanye air bersih memperingati hari air se-dunia yang dilakukan BWA di Bundaran HI, Jakarta pada Selasa, (22/03) lalu.

Detik.com

http://www.detiknews.com/read/2011/03/22/100439/1598164/10/bundaran-hi-jadi-pusat-aksi-hari-air-sedunia

Rri.co.id

http://www.rri.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3986

Eramuslim.com

http://www.eramuslim.com/berita/foto/satu-dari-dua-warga-kesulitan-akses-air-bersih.htm

Tribunnews.com

http://www.tribunnews.com/2011/03/22/badan-wakaf-al-quran-aksi-air-bersih-dunia

Jan 29

Peresmian bak penampungan air bersih “Sad Qusaybah”, sekaligus serah terima dari donatur utama Danamon Syariah diwakili oleh Bp. Prayudha Moeljo kepada Nadzir Wakaf Bp. Sungkono mewakili pengurus masjid Al Islam.  Peresmian ini dilakukan pada Kamis, 27 Januari 2011 yang disaksikan Bp.Bambang Tri Haryanto, S.Sos., M.Si., Camat Karangnongko, Klaten.

Bak penampungan “Sad Qusaybah”

Jan 21

Warga padha semangat, amerga banyu resik sing tak butuhake bakal mili maneh” (Seluruh warga bersemangat, karena air bersih yang kami butuhkan akan mengalir lagi)” ujar seorang laki-laki warga dusun Pule, disela-sela pengerjaan pipanisasi dan pembangunan instalasi air baru, di dusun Pule, desa Tegal Randu, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Ketika di barak pengungsian, ia mengaku meski kekurangan masih bisa dapatkan air bersih untuk minum, masak ataupun mandi. Namun, masalah baru timbul saat warga kembali ke kampungnya. Warga kehilangan akses terhadap sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Karena semuanya telah rusak tersapu wedhus gembel dan lahar dingin, termasuk mata air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan air bersih sehari-hari hilang tertutup material erupsi Merapi.

Padahal air bersih termasuk salah satu kebutuhan pokok yang harus tersedia segera, sementara biaya untuk memperbaiki tidak sedikit. Selain itu, warga pun harus mengeluarkan biaya memperbaiki rumah ataupun sarana kehidupan pribadi mereka.

“Maka bantuan wakaf dari saudara-saudara mereka yang memiliki kelebihan harta sangat berarti dan akan memberi manfaat besar baik untuk penerima maupun wakif,” ujar Heru Binawan, CEO & Founder BWA, saat mempresentasikan program Water Action for People untuk mengatasi krisis air bersih warga lereng Merapi di hadapan komunitas “Pengusaha Rindu Syariah” di Jakarta.

BWA bahu membahu dengan warga, telah menemu-kan mata air baru dekat aliran sungai Kali Putih. Selanjut-nya bergotong royong membangun instalasi air bersih mulai dari mata air hingga ke bak pembagi RT dan dari bak ini penduduk menyalurkan ke rumah masing-masing.
“Pengerjaannya sejak 1 Januari 2011, sekarang  (8/1/2011) pipanisasi ke bak induk sudah selesai, dan air sudah mengalir ke bak induk, kita perkirakan pekerjaan  dalam 14 hari ke depan sudah selesai sampai bak pembagi RT,” ujar Mitra Lapang BWA, Abu Hasan.

Warga dusun Pule pun senang, mereka bisa memulai lembaran baru dengan mata air baru. “BWA cekatan, tidak banyak bicara, langsung realisasi,” ujar Suroto, Kepala Dusun Pule, Desa Tegal Randu yang mengaku sudah mengajukan permohonan bantuan ke berbagai instansi tapi baru diberi janji padahal kebutuhan akan air mendesak, tidak bisa ditunda lagi.[]

Jan 3
Rabu (1/12/2010) siang di atas rumah panggung berdinding anyaman bilik, seorang wanita gempal berkerudung hitam dengan riang menerima tim Al Qur’an Road Trip BWA. Wajahnya nampak lebih muda 20 tahun dari usianya yang kini sudah 67 tahun. Ia adalah Ustadzah Aizah Chodijah pimpinan Ponpes Nurul Falah Desa Wates Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Banten.
Ma Ijah, begitulah panggilan akrab warga setempat kepadanya. Di samping membimbing 40-an santri yang mondok di ponpes yang diamanahi ayahnya Ust H Surya, ibu yang hafal nama ke-16 anaknya ini tetap semangat mengkaji dan mengajarkan ilmu agama di berbagai majelis ta’lim dengan peserta bisa mencapai lebih dari 1000 orang yang tersebar dari Menes hingga Sumur, Ujung Kulon.
Di ponpes ini tim Al-Qur’an Road Trip BWA menyerahkan 100 Kitab Suci Al-Qur’an amanah dari wakif kepada Ma Ijah untuk keperluan pondok dan di berikan kepada jamaahnya yang kurang mampu.
“Alhamdulillah, semoga sadayana barokah atas wasilah BWA, ieu Al-Quran insya Allah bermanfaat dunia akhirat,” ujarnya.[]
www.wakafquran.org
ma ijah

ma ijah

Rabu (1/12/2010) siang di atas rumah panggung berdinding anyaman bilik, seorang wanita gempal berkerudung hitam dengan riang menerima tim Al Qur’an Road Trip BWA. Wajahnya nampak lebih muda 20 tahun dari usianya yang kini sudah 67 tahun. Ia adalah Ustadzah Aizah Chodijah pimpinan Ponpes Nurul Falah Desa Wates Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Banten.
Ma Ijah, begitulah panggilan akrab warga setempat kepadanya. Di samping membimbing 40-an santri yang mondok di ponpes yang diamanahi ayahnya Ust H Surya, ibu yang hafal nama ke-16 anaknya ini tetap semangat mengkaji dan mengajarkan ilmu agama di berbagai majelis ta’lim dengan peserta bisa mencapai lebih dari 1000 orang yang tersebar dari Menes hingga Sumur, Ujung Kulon.
Di ponpes ini tim Al-Qur’an Road Trip BWA menyerahkan 100 Kitab Suci Al-Qur’an amanah dari wakif kepada Ma Ijah untuk keperluan pondok dan di berikan kepada jamaahnya yang kurang mampu.
“Alhamdulillah, semoga sadayana barokah atas wasilah BWA, ieu Al-Quran insya Allah bermanfaat dunia akhirat,” ujarnya.[]
www.wakafquran.org
mengantarkan Al Quran dengan motor
mengantarkan Al Qur’an dengan motor
jalan setapak menuju pondok nurul falah
jalan setapak menuju pondok nurul falah
susun Al Quran di ruang majelis taklim nurul falah

susun Al Qur'an di ruang majelis taklim nurul falah

Jan 3

Malam itu udara seakan menusuk tulang, ditambah lagi rintik sisa hujan semakin mempertajam dinginnya hujaman angin. Namun warga Kasepuhan Adat Banten Kidul tetap berduyun-duyun menuju pekarangan rumah Ki Mahdi, tokoh masyarakat setempat.
Mereka begitu antusias mengikuti tabligh akbar yang disampaikan oleh Ust Hari Moekti. Dalam tabligh yang bertema ‘Menggapai Cahaya Iman’,  Kang Hari menyitir ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia bisa lebih hina dari hewan ternak bila menuruti hawa nafsu.
Seperti kambing yang mendengar suara adzan, hatinya tidak tergerak untuk menunaikan shalat. Kambing cuek saja cuma mengembik ketika mendengar adzan. “Mbeeek… mbeeek… mbeeek…” ujar dai mantan artis itu menirukan suara kambing yang kontan disambut gelak tawa hadirin.
Warga pun kompak berteriak  “Tidaak…!” ketika Kang Hari menanyakan apakah warga desa mau disamakan dengan kambing. “Embung disaruakeun jeung embe tapi naha atuh cicing wae, lain geura solat? (tidak mau disamakan dengan kambing tapi mengapa diam saja, tidak segera shalat)?” seru ust. Hari Moekti dengan gaya yang khas sehingga warga kembali tertawa.
Serius Berdakwah
Sebelum acara dimulai, tadinya warga menyambut dingin ketika diumumkan bahwa pada malam Ahad, 4 Desember 2010 akan diadakan acara tabligh akbar Ust Hari Moekti. Mereka bukannya tidak kenal atau tidak mau mendengarkan tausiyah dariprogram owner Water Action for People itu.
Keengganan mereka mengikuti acara puncak dari program Al Qur’an Road Trip yang diselenggarakan sejak 1 Desember itu lantaran di desa tersebut kerap kali terjadi persiapan tabligh dan ceramah umum, tetapi sebanyak itu pula pembicara selalu berhalangan hadir dan akhirnya diganti bahkan ada yang dibatalkan dengan alasan yang sama: beratnya medan.
Keraguan warga semakin menjadi ketika mendung berbuah hujan yang baru berhenti beberapa saat sebelum Hari Moekti datang. Hari Moekti sendiri mengaku tidak mudah menuju lokasi yang dimaksud.
Ia dijemput Tim Al Qur’an Road Trip di Pelabuhan Ratu pukul 10.00 WIB. Namun baru sampai lokasi pukul 20.40 WIB. Artinya, ia menghabiskan waktu hampir 11 jam ke lokasi yang berjarak sekitar 40 km dari Pelabuhan Ratu itu.
Karena jalan yang terjal ditambah cuara buruklah yang menyebabkan perjalanan menjadi alot, namun tak setitik pun terbersit dalam hati untuk membatalkannya. Keseriusan ust. Hari Moekti dalam berdakwah, menjadikan ia sebagai dai nasional pertama yang sampai ke Cipta Gelar. Allahu Akbar![]

Malam itu udara seakan menusuk tulang, ditambah lagi rintik sisa hujan semakin mempertajam dinginnya hujaman angin. Namun warga Kasepuhan Adat Banten Kidul tetap berduyun-duyun menuju pekarangan rumah Ki Mahdi, tokoh masyarakat setempat.

Mereka begitu antusias mengikuti tabligh akbar yang disampaikan oleh Ust Hari Moekti. Dalam tabligh yang bertema ‘Menggapai Cahaya Iman’,  Kang Hari menyitir ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia bisa lebih hina dari hewan ternak bila menuruti hawa nafsu.

Read the rest of this entry »

« Previous Entries