May 28

Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) truk tangki untuk merealisasikan proyek wakaf sarana air bersih di kecamatan Ile Ape, kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah ditandatangani Manager Marketing Badan Wakaf Al-Quran (BWA) Hazairin Hasan dan diserahkan kepada Marketing PT Ciwangi Berlian Motors, Jakarta Selatan, Dewi Wulandari (16/5).

Truk tangki yang dipesan adalah jenis Mitsubitshi FE 73 dengan enam ban dan tangki berkapasitas lima ribu liter. Modifikasi dan pengecatan truk tangki tersebut direncanakan akan rampung pada 16 Juni 2013 mendatang. Setelah itu truk tangki tersebut akan dipamerkan di kota-kota besar di Pulau Jawa untuk menggugah kaum Muslimin yang ada di sana sehingga mau berwakaf.

“Truk tangki ini akan diroadshowkan di berbagai kota besar di pulau Jawa; dimulai dari Tangerang, Jakarta, Bekasi, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Khusus kota-kota yang terdapat gerai BWA, truk tangki tersebut akan dipamerkan di sana,” ujar Hazairin setelah menandatangani SPK.

Setelah dana wakaf terkumpul, truk tangki akan dibawa ke NTT untuk beroperasi menyediakan air bersih bagi warga empat desa di kecamatan Ile Ape, NTT, yaitu desa Dulitukan, Palilolon, Kolipadang, dan Tagawiti. Warga di sana memerlukan air bersih karena ketiadaan sumber air tawar di hampir seluruh wilayah pesisir pantai Ile Ape. Oleh karena itu, truk tangki akan mengambil air dari sumber mata air yang jaraknya sekitar 30 km dari kecamatan Ile Ape dan kemudian mengisi lima bak penampungan yang masing-masingnya berkapasitas lima ribu liter dan tersebar di empat desa. Truk akan beroperasi setiap hari.

Untuk pengoperasian dan pemeliharaan sarana air bersih tersebut, warga akan membayar iuran mingguan yang tidak memberatkan. Adapun pengelolaan sarana menjadi tanggung jawab nadzir wakaf, yakni ust. Arifudin Anwar yang juga partner lapang BWA di Ile Ape dan Adonara NTT.

Mari berperan serta, semoga wakaf yang Anda tunaikan mendapat balasan berupa pahala yang mengalir seiring mengalirnya air bersih yang dinikmati dengan penuh rasa syukur oleh masyarakat Muslim Ile Ape, NTT.[]

Klik di sini untuk membantu warga Ile Ape, NTT.

Jun 6

Alhamdulillah, pembangunan Tahap I Sarana Air Bersih yang didambakan warga Dusun Trono, Desa Krinjing, Kecamatan Dukuh, Magelang, sudah rampung. Aliran air dari mata air di 2,5 Km puncak Gunung Merapi sudah berhasil dialirkan ke bak penangkap air (BPA) di hulu sungai Tlingsing.

Uniknya, BPA tersebut dikubur di dalam tanah. Mengapa? “Di sini rawan lahar dingin, setiap gawe (membuat) bak hancur terus makanya muncul ide gawe bak pendem (bak pendam), insya Allah tidak hancur saat lahar dingin menerjang,” ujar Kepala Dusun Trono Sumini.

Selain membangun bak penangkap air, pada pembangunan yang berlangsung pada 2-7 Mei 2012 tersebut dibangun pula pipanisasi dari BPA ke bak utama dusun (BUD) yang berkapasitas 5.000 liter.

 Pembangunan sarana air bersih ini dibagi empat tahap. Setelah Tahap I selesai maka di mulai Tahap II: distribusi air dari BUD ke bak distribusi RW. Tahap III: menyalurkan dari bak distribusi RW ke bak distribusi rumah. Tahap IV: disalurkan ke masing-masing rumah warga.[]

Apr 27

Satu setengah tahun sudah, sejak bencana Merapi pada akhir tahun 2010, kehidupan desa-desa yang terkena erupsi Merapi memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Berbeda dengan suasana tahap tanggap darurat yang hiruk-pikuk dan banyaknya bantuan dari lembaga maupun individu, tahap rehabilitasi dan recovery ini sepi dari keramaian tersebut.

Padahal saat penduduk desa kembali ke rumah, mereka mendapati infrastuktur desa mereka rusak. Salah satu yang teramat penting adalah air bersih.

Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) adalah satu dari sedikit lembaga yang masih berkiprah membantu penduduk desa di lereng Merapi mengatasi persoalan yang mereka hadapi, terutama dalam masalah air bersih. Salah satunya adalah membangun sarana air bersih untuk Dusun Trono, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Magelang. Warga Dusun Trono saat ini harus mengambil air yang mereka butuhkan dari sumber mata air yang berjarak 1.5 km dari desanya, karena erupsi Merapi telah menutup mata air lama dekat desa mereka di tepi sungai Senowo.

Mak Ari (40 tahun), warga Trono, dengan hati-hati menghindari tanah basah yang licin, menuruni tebing sedalam 100 meter menuju sumber mata air. Dengan tertib, ia berdiri di belakang warga lainnya yang juga antri untuk menimba air.

Setelah mendapatkan yang diinginkannya, ia bergegas, menaiki jalan yang sama. Namun perjalanan kali ini lebih berat dari sebelumnya, lantaran jalannya menanjak sembari memikul dua jerigen air bersih.

Perempuan usia 40 tahun lebih ini terpaksa memilih menggunakan jerigen kecil. Karena kalau terlalu besar akan sangat berat dan sulit menjaga keseimbangan, ketika mendaki tebing yang sangat terjal dan tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan dua anggota keluarganya, ia bisa naik turun 3 kali dalam sehari. Begitulah kehidupan sehari-hari Mak Ari dan sekitar 100 KK warga Trono lainnya.

Namun Alhamdulillah, sekitar 3 kilometer dari Trono ke arah puncak Merapi ada sumber mata air lain. “Karena debit airnya lebih besar dan tidak dilalui lahar dingin,” ungkap Darminto, penanggungjawab pembangunan sarana air bersih Badan Wakaf Al-Qur’an, Jum’at (30/3).

Wakaf Sarana Air Bersih

Untuk meringankan beban mereka, BWA bersama dengan Ust Yogi Apqari dan Ust. Pramono, partner lapang BWA di Magelang, menyusun rencana membangun sarana air bersih untuk kebutuhan warga dusun tersebut. Berupa pipanisasi dari mata air yang berjarak sekitar 3 km tersebut hingga ke dusun.

Pembangunan sarana air bersih ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena itulah, BWA mengajak kaum Muslim membantu pembangunan sarana air bersih Dusun Trono. Adapun rencana pelaksanaan project wakaf ini akan di mulai di akhir Mei atau awal Juni 2012.

Ingin bantu pembangunan sarana air bersih di Trono silahkan klik di sini.[]

Mar 20

Sudah puluhan tahun warga Desa Giripurwo, Gunungkidul krisis air bersih karena sumber utama air bersih mereka adalah dari air hujan, sementara di musim kemarau penduduk desa harus berhemat karena air yang tersedia tidak mencukupi bagi kebutuhan warga. Padahal ada sumber air yang melimpah di desa tersebut, sekitar 500 meter dari pemukiman penduduk Dusun Tlogo Warak terdapat aliran sungai bawah tanah yang airnya jernih.

Penemuan sungai bawah tanah ini terjadi pada tahun 1997 secara tidak sengaja, ketika seorang penduduk desa menyusuri Gua Pego untuk mencari sarang burung walet. Ditengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam. Temuan ini ditindaklanjuti oleh aparat desa dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat asal suara aliran air tersebut.

Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan airnya jernih. Namun sayang dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giripurwo belum bisa menikmati air bersih tersebut karena untuk mengaksesnya ke dasar gua cukup sulit. Dari mulut gua harus masuk dan menuruni tangga hingga kedalaman sekitar 50 meter.

Setelah itu, berjalan merunduk memasuki lorong yang ketinggiannya kurang dari satu meter sejauh 80 meter. Kemudian bisa berjalan lagi dengan berdiri tegak sekitar 20 meter berikutnya. Setelah itu, memasuki lubang yang menukik 90 derajat vertikal ke bawah sedalam 85 meter!

Warga pun menggunakan tangga tali dan tambang agar bisa sampai di dasarnya. Di dasar gua inilah terdapat aliran sungai jernih yang mengalir menuju Pantai Selatan.Air dalam gua ini sangat segar dan bersih karena telah mengalami proses penyaringan secara alami.Dengan debit air sekitar 30 liter per detik, diprediksikan dapat mencukupi kebutuhan penduduk 3 dusun yang saat ini berpenghuni sekitar 800 KK tersebut.

Tahap Survey

Survey tim BWA mencari sumber air bersih di dalam gua

“Airnya enak, bisa digunakan untuk kebutuhan tiga dusun,” ungkap Darminto, penanggung jawab project sarana air bersih, usai meminum air sungai itu saat survei ke lokasi pada 30 Oktober 2011 lalu.

 

Tahap Mengangkat Air Ke Permukaan Tanah

Untuk mengangkat air bersih ini agar bisa dinikmati oleh warga dengan mudah maka Badan Wakaf Al-Qur’an pun melaksanakan project wakaf pembangunan sarana air bersih. Dengan langkah sebagai berikut.

Pertama, membangun tempat dudukan mesin pompa air submersible di dasar gua di tepi sungai bawah tanah tersebut, yakni dengan menggali dasar gua sedalam 2-3 m. Setelah itu mesin pompa diturunkan di pasang di tempatnya tersebut.

Kedua, mengalirkan air sungai ke dalam tempat pompa air submersible tersebut , agar diperoleh debit air yang cukup dan pompa air selalu dalam keadaan terendam maka dibangun semancam tanggul untuk menahan aliran air. “Bendungan ini diharapkan mampu menahan air secara alami dan membuat dasar gua penuh dengan air sehingga diperoleh volume yang cukup agar dapat di pompa ke atas menuju permukaan tanah,” ungkap Darminto.

Ketiga, pipanisasi dari pompa di dasar gua hingga ke permukaan tanah, selisih ketinggiannya antara keduanya mencapai 150 m.

Keempat, Air yang diangkat ini di alirkan ke bak penampungan dengan kapasitas 48.000 liter yang terdapat di dekat mulut gua. Sampai disini tahap pertama pembangunan sarana air bersih selesai, kemudian akan dilanjutkan ke tahap kedua yaitu,

 

Tahap Distribusi

Membangun bak penampungan air di atas bukit yang memiliki ketinggian 50 m dari bak penampungan dekat mulut gua, dengan kapasitas 48.000 liter. Tahap ini untuk memudahkan mengalirkan air ke bak-bak pembagi di tiga dusun yang masing-masing berkapasitas 30.000 liter di Desa Giripurwo itu.

Pembangunan Bak Penampung

 

Insya Allah Project Wakaf Sarana Air Bersih ini akan selesai pada pertengahan April 2012, semoga dimudahkan oleh Allah SWT sehingga warga di desa Giripurwo tidak kesulitan air bersih di musim kemarau.

Jan 12

Byuuur… Alhamdulillah, setelah dibor selama empat hari hingga kedalaman 80 meter, akhirnya sumur bor itu mengeluarkan air. “Subhanallah, luar biasa,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna KH Ahmad Zainuddin Qh, Kamis (15/12/2011) di areal Ponpes Al Husna, Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Air bersih dari sumur tersebut akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan melalui pipa. Masing-masing bak berkapasitas 1000 liter. “Satu ditempatkan di Al Husna dua lagi di tengah warga yang kesulitan mendapatkan air bersih” ungkap
Darminto, penanggung jawab proyek.

Sarana air bersih di dusun yang warganya bekerja sebagai buruh tani tersebut merupakan wakaf yang dananya dikumpulkan oleh Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) dari kaum Muslim melalui program Water Action for People.

Mewakili warga yang penghasilannya rata-rata berkisar Rp 10.000-Rp 15.000 per hari itu, Ahmad Zainuddin mengucapkan terima kasih. “Nuhun ka para donatur nu tos ngawakafkeun melalui BWA,oge ka BWA nu tos gadugikeun amanah (Terima kasih kepada para donatur yang sudah berwakaf melalui BWA, juga kepada BWA yang telah menjalankan amanah), jazakumullah khairan katsira semoga salamet dunia akherat,” pungkasnya. Aamiiin

Jan 9

Kalau kita mengenal sawah tadah hujan, yakni sawah yang sumber air utamanya dari air hujan, ternyata ada juga beberapa desa di Indonesia yang “hidup” hanya saat musim hujan. Mengapa demikian ? karena sumber air utama di desa tersebut adalah dari air hujan.

Bila musim hujan berlalu memasuki kemarau, warga desa terpaksa berhemat air karena tidak ada sumber air atau kalaupun ada tidak mencukupi kebutuhan warganya. Salah satunya adalah desa Giripurwo di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sudah puluhan tahun warga Desa Giripurwo, Gunungkidul terutama di dusun Dusun Tlogo Warak, Dusun Kacangan, Dusun Jlumbang krisis air bersih. Padahal ada sumber air yang melimpah di desa tersebut, sekitar 500 meter dari pemukiman penduduk Dusun Tlogo Warak terdapat aliran sungai bawah tanah yang airnya jernih.

Penemuan sungai bawah tanah ini terjadi pada tahun 1997 secara tidak sengaja, ketika seorang penduduk desa menyusuri Gua Pego untuk mencari sarang burung walet. Ditengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam. Temuan ini ditindaklanjuti oleh aparat desa dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat asal suara aliran air tersebut.
Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan airnya jernih. Namun sayang dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giripurwo belum bisa menikmati air bersih tersebut karena untuk mengaksesnya ke dasar gua cukup sulit. Dari mulut gua harus masuk dan menuruni tangga hingga kedalaman sekitar 50 meter.

Setelah itu, berjalan merunduk memasuki lorong yang ketinggiannya kurang dari satu meter sejauh 80 meter. Kemudian bisa berjalan lagi dengan berdiri tegak sekitar 20 meter berikutnya. Setelah itu, memasuki lubang yang menukik 90 derajat vertikal ke bawah sedalam 100 meter! Warga pun menggunakan tangga tali dan tambang agar bisa sampai di dasarnya. Di dasar gua inilah terdapat aliran sungai jernih yang mengalir menuju Pantai Selatan.Air dalam gua ini sangat segar dan bersih karena telah mengalami proses penyaringan secara alami.Dengan debit air sekitar 30 liter per detik, diprediksikan dapat mencukupi kebutuhan penduduk 3 dusun yang saat ini berpenghuni sekitar 800 KK tersebut.

“Airnya enak, bisa digunakan untuk kebutuhan tiga dusun,” ungkap Darminto, penanggung jawab project sarana air bersih, usai meminum air sungai itu saat survei ke lokasi pada 30 Oktober 2011 lalu. Untuk mengangkat air bersih ini agar bisa dinikmati oleh warga dengan mudah maka Badan Wakaf Al-Qur’an pun merencanakan project pembangunan sarana air bersih. Dengan langkah sebagai berikut.

Pertama, membangun tempat dudukan mesin pompa air submersible di dasar gua di tepi sungai bawah tanah tersebut, yakni dengan menggali dasar gua sedalam 2-3 m. Setelah itu mesin pompa diturunkan di pasang di tempatnya tersebut.

Kedua, mengalirkan air sungai ke dalam tempat pompa air submersible tersebut , agar diperoleh debit air yang cukup dan pompa air selalu dalam keadaan terendam maka dibangun semancam tanggul alami untuk menahan aliran air. “Bendungan ini diharapkan mampu menahan air secara alami dan membuat dasar gua penuh dengan air sehingga diperoleh volume yang cukup agar dapat di pompa ke atas menuju permukaan tanah,” ungkap Darminto.

Ketiga, pipanisasi dari pompa di dasar gua hingga ke permukaan tanah, selisih ketinggiannya antara keduanya mencapai 150 m.

Keempat, Air yang diangkat ini di alirkan ke bak penampungan dengan kapasitas 15.000 liter yang terdapat di dekat mulut gua. Sampai disini tahap pertama pembangunan sarana air bersih selesai, kemudian akan dilanjutkan ke tahap kedua yaitu :

Kelima, membangun bak penampungan air di atas bukit yang memiliki ketinggian 50 m dari bak penampungan dekat mulut gua, dengan kapasitas 15.000 liter. Tahap ini untuk memudahkan mengalirkan air ke bak-bak pembagi di tiga dusun Desa Giripurwo itu. Project Pengadaan Sarana Air Bersih ini, insya Allah, segera terlaksana dengan dukungan dana wakaf dari para wakif sekalian.

Partipasi anda dapat disalurkan dengan cara  mengklik di sini.

Dec 27

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Husna, KH Ahmad Zainuddin Qh, tak kuasa menahan haru saat peresmian wakaf sarana air bersih, Sabtu (17/12) pagi di Pondok Pesantren Al-Husna, Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

“Selama ini, waktu santri seringkali habis dipakai antri air di sumur tua yang debitnya sangat kecil. Bahkan, tidak jarang sudah lama antri malah tidak jadi mandi karena kehabisan air. Insya Allah, dengan wakaf ini kami tidak akan kesulitan air bersih lagi,” tutur Kyai Zain, demikian ia biasa disapa.

Wakaf sarana air bersih di Ponpes Al-Husna diberinama Badar 2, memiliki sumur dengan kedalaman 80 meter dan dilengkapi dengan 4 buah bak penampungan dengan kapasitas masing-masing 1.000 liter. Satu unit penampungan untuk pesantren dan 3 unit lagi untuk warga sekitar pondok.

Pada acara peresmian tersebut, Program Owner Water Action for People, Ustadz Hari Moekti, menyampaikan tausiyah agar warga memanfaatkan air bersih dari sumur Badar 2 ini dengan sebaik-baiknya dan yang lebih penting lagi adalah bersyukur kepada Allah SWT.

Hadir dalam peresmian sumur dan sarana air bersih tersebut sekitar 150 warga. Nampak pula Ketua MUI Cikampek Timur, KH Empud Syarifuddin, Ketua RW 10, Purwoedi, Ketua RT 02/10, Ajan, dan Ketua RT 03/10, Mamo.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Hari Moekti menyerahkan pula 1.000 eksemplar Alquran wakaf kepada Kyai Zain untuk didistribusikan ke berbagai pesantren, masjid, dan majelis taklim di sekitar Kecamatan Cikampek. Seperti halnya sarana air bersih, Alquran yang didistribusikan itu merupakan wakaf  dari kaum Muslimin yang dihimpun Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA). Jika anda tertarik untuk mengetahui program BWA, silakan klik: www.wakafquran.org

Dec 27
Karena tidak tahan mengalami kesulitan air bersih, Mak Uli, warga Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memutuskan pulang kampung ke Purwakarta, Jawa Barat.
Kemarau yang berkepanjangan membuat Mak Uli, penjaja kue keliling itu, dan juga warga dusun Sukamaju lainnya kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
Hujan yang hanya turun delapan kali sejak April 2011 lalu membuat lima sumur warga yang berada di dusun ini kering. “Air sumur kami sudah lama tidak ada airnya,” ungkap Ust Abdurrahim, Ketua Takmir Mushala Sukamaju pada pertengahan Oktober lalu.
Satu-satunya sumur tua yang masih mengeluarkan air ada di Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju, maka warga dan santri pun antri air di sumur tersebut. Karena tidak sebanding antara debit air dengan orang yang membutuhkannya, tidak jarang 24 santri Al Husna mengalah untuk tidak mandi.
Krisis air inilah yang menyebabkan Mak Uli yang juga anggota jamaah pengajian ibu-ibu  asuhan KH Ahmad Zainuddin Qh, Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna, berpamitan hendak pindah ke Purwakarta. Awalnya Kyai Zain mengira Mak Uli pindah lantaran dagangannya tidak laku.  “Henteu, dagangan mah hasilna lumayan, ngan iyeu caina teu aya, (Tidak, dagangan hasilnya lumayan, hanya saja tidak ada air),” jawab Mak Uli.
Sumur Pompa Air Dalam
Untuk mencari jalan keluar dari krisis air yang dialami pesantren dan warga di Sukamaju, Badan Wakaf Al-Qur’an melakukan survey geolistrik di sekitar tanah pesantren pada 19 Oktober lalu.
Menurut perhitungan tim survey BWA,  ada cadangan air yang cukup besar di kedalaman antara 70-100 meter di bawah tanah. Namun, untuk mengambilnya harus dibuat sumur bor hingga kedalaman 100 meter tersebut kemudian dipompakan kepermukaan dengan pompa air submersible.
Air sumur ini akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan. Masing-masing dengan kapasitas 1.000 liter yang di tempatkan 1 unit di pesantren dan 2 unit lainya di tengah-tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.
“Semoga dengan (wasilah sarana air bersih) ini warga semakin semangat dalam mempelajari Islam dan kesulitan santri selama ini bisa terselesaikan,” tutur Kyai Zain, pimpinan Ponpes Al Husna sekaligus nadzir wakaf untuk memelihara dan mengelola sarana air bersih yang segera dibangun ini.
Walaupun saat ini sudah memasuki musim hujan, namun pembangunan sarana air bersih ini Insya Allah akan tetap dilaksanakan, agar tidak terjadi krisis air yang selalu berulang saat memasuki musim kemarau.[]

Karena tidak tahan mengalami kesulitan air bersih, Mak Uli, warga Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memutuskan pulang kampung ke Purwakarta, Jawa Barat.

Kemarau yang berkepanjangan membuat Mak Uli, penjaja kue keliling itu, dan juga warga dusun Sukamaju lainnya kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Hujan yang hanya turun delapan kali sejak April 2011 lalu membuat lima sumur warga yang berada di dusun ini kering. “Air sumur kami sudah lama tidak ada airnya,” ungkap Ust Abdurrahim, Ketua Takmir Mushala Sukamaju pada pertengahan Oktober lalu.

Satu-satunya sumur tua yang masih mengeluarkan air ada di Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju, maka warga dan santri pun antri air di sumur tersebut. Karena tidak sebanding antara debit air dengan orang yang membutuhkannya, tidak jarang 24 santri Al Husna mengalah untuk tidak mandi.

Krisis air inilah yang menyebabkan Mak Uli yang juga anggota jamaah pengajian ibu-ibu  asuhan KH Ahmad Zainuddin Qh, Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna, berpamitan hendak pindah ke Purwakarta. Awalnya Kyai Zain mengira Mak Uli pindah lantaran dagangannya tidak laku.  “Henteu, dagangan mah hasilna lumayan, ngan iyeu caina teu aya, (Tidak, dagangan hasilnya lumayan, hanya saja tidak ada air),” jawab Mak Uli.

Sumur Pompa Air Dalam

Untuk mencari jalan keluar dari krisis air yang dialami pesantren dan warga di Sukamaju, Badan Wakaf Al-Qur’an melakukan survey geolistrik di sekitar tanah pesantren pada 19 Oktober lalu.

Menurut perhitungan tim survey BWA,  ada cadangan air yang cukup besar di kedalaman antara 70-100 meter di bawah tanah. Namun, untuk mengambilnya harus dibuat sumur bor hingga kedalaman 100 meter tersebut kemudian dipompakan kepermukaan dengan pompa air submersible.

Air sumur ini akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan. Masing-masing dengan kapasitas 1.000 liter yang di tempatkan 1 unit di pesantren dan 2 unit lainya di tengah-tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.

“Semoga dengan (wasilah sarana air bersih) ini warga semakin semangat dalam mempelajari Islam dan kesulitan santri selama ini bisa terselesaikan,” tutur Kyai Zain, pimpinan Ponpes Al Husna sekaligus nadzir wakaf untuk memelihara dan mengelola sarana air bersih yang segera dibangun ini.

Walaupun saat ini sudah memasuki musim hujan, namun pembangunan sarana air bersih ini Insya Allah akan tetap dilaksanakan, agar tidak terjadi krisis air yang selalu berulang saat memasuki musim kemarau.[]

Dec 27

Tanggal 30 Oktober 2011 lalu Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melakukan survey sarana air bersih di daerah Gunungkidul, tepatnya di desa Giri Purwo, Kecamatan Panggung, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini termasuk daerah yang mengalami krisis air bersih.
Namun ada yang unik di desa Giri Purwo tepatnya di dusun Telogo Warak, pada tahun 1997 seorang penduduk desa menyusuri gua untuk mencari sarang burung walet. Di tengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam.
Temuan ini dilaporkan kepada kepala desa dan ditindak lanjuti dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat suara aliran air tersebut.  Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan bersih airnya. Sayangnya dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giri Purwo belum bisa menikmati air bersih tersebut, padahal mereka sangat membutuhkannya.
Seperti apa sungai bawah tanah tersebut, saksikan videonya di  www.youtube.com/user/wakafquran

Tanggal 30 Oktober 2011 lalu Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melakukan survey sarana air bersih di daerah Gunungkidul, tepatnya di desa Giri Purwo, Kecamatan Panggung, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini termasuk daerah yang mengalami krisis air bersih.

Namun ada yang unik di desa Giri Purwo tepatnya di dusun Telogo Warak, pada tahun 1997 seorang penduduk desa menyusuri gua untuk mencari sarang burung walet. Di tengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam.

Temuan ini dilaporkan kepada kepala desa dan ditindak lanjuti dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat suara aliran air tersebut.  Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan bersih airnya. Sayangnya dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giri Purwo belum bisa menikmati air bersih tersebut, padahal mereka sangat membutuhkannya.

Seperti apa sungai bawah tanah tersebut, saksikan videonya di  www.youtube.com/user/wakafquran

Dec 12

Pembangunan sarana air bersih di Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, saat ini sudah memasuki proses pengeboran sumur.  “Sampai hari ini Selasa (6/12), pengeboran sudah sedalam 29 meter dari 80 meter yang direncanakan,” ujar Darminto, penanggung jawab proyek.

Pengeboran dimulai sejak Ahad (4/12) lalu dan diprediksikan akan selesai pada Jum’at (9/12).  “Setelah pengeboran segera akan diinstalasi pipa dan mesin pompa.”  tegasnya.

Lokasi pengeboran

Lokasi pengeboran berada di areal Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju Pimpinan KH Ahmad Zainuddin Qh. Rencananya air dari Al Husna akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan.

Masing-masing bak berkapasitas 1.000 liter. “Satu di tempatkan di Al Husna dua lagi di tengah warga yang kesulitan mendapatkan air bersih” ungkap  Darminto.

Sarana air bersih di Sukamaju merupakan wakaf yang dihimpun oleh Badan Wakaf Al-Qur’an dari kaum Muslim melalui program Water Action for People. Pimpinan Al Husna K.H. Zain, yang juga nadzir wakaf untuk sarana air bersih ini, berharap krisis air bisa terselesaikan dan warga pun semakin semangat dalam mempelajari Islam.

Kepada para donatur wakaf (wakif), K.H. Ahmad Zainuddin mengucapkan terima kasih. “Alhamdulillah, jazakumullah mewakili keluarga besar masyarakat Dusun Sukamaju, Desa  Cikampek Timur ini, saya menghaturkan ucapan terima kasih,” ujarnya.

Setelah project sarana air bersih di Sukamaju, Cikampek Timur ini tuntas selanjutnya program “Water Action for People” akan memulai project wakaf sarana air bersih di Gunungkidul. Silahkan kunjungi www.wakafquran.org

« Previous Entries