Feb 6

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan Indonesia Belajar.

Bocah yang biasa dipanggil Kiki berasal dari Ciracas, Jakarta Timur, sudah enam bulan menunggak uang SPP dan uang makan yang perbulannya sebesar Rp 425.000, sebenarnya dia anak yang periang namun sejak orang tuanya tidak mampu membayar biaya sekolahnya kelihatan air wajahnya sedikit murung. Maklumlah, Nur Salim, sang ayah 6 bulan lalu di PHK oleh perusahaan tempat bekerja, sekarang hanya menjadi supir mobil rental, yang penghasilannya sangat minim.

Kiki bercita-cita menjadi ustadz dan pengusaha, setamat SD, ia pun melanjutkan pendidikan ke Ponpes Panatagama.

Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melalui program Indonesia Belajar mencoba membantu agar Kiki tetap bersekolah dengan menghimpun donasi dari kaum muslimin. “Alhamdulillah, bukan hanya terkumpul dana untuk membayar tunggakan selama enam bulan, tetapi terkumpul pula dana untuk membayar dimuka uang SPP dan uang makan untuk enam bulan ke depan,” ungkap Yatno, penanggung jawab program Indonesia Belajar.

Maka, pada tanggal 30 Januari 2012 BWA bersilahturahmi ke sekolah Kiki dan  menyerahkan uang sebesar Rp 5.100.000  bantuan dari kaum muslimin kepada Ustadz Tindyo Prasetyo, Kepala Sekolah SMP Ponpes Panatagama.  “Umar anaknya periang dan prestasi akademiknya cukup baik. Kami terbantu sekali dengan program  Indonesia Belajar ke pesantren kami, mudah-mudahan anak didik kami dapat menyelesaikan pendidikannya seluruhnya” ujar Ustadz Yoyo, sapaan akrab Tindyo, Senin (30/1) di Ponpes Panatagama.

Indonesia Belajar, adalah program BWA yang bertujuan mengembalikan anak-anak Indonesia yang kesulitan biaya pendidikan agar mereka bisa kembali bersekolah.

Kini Umar Faruq sudah dapat tenang mengikuti pendidikan di pesantren demikian pula dengan orangtuanya, semoga Allah SWT memudahkan rejeki bagi mereka sehingga kehidupannya kembali normal.

Jan 12

Byuuur… Alhamdulillah, setelah dibor selama empat hari hingga kedalaman 80 meter, akhirnya sumur bor itu mengeluarkan air. “Subhanallah, luar biasa,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna KH Ahmad Zainuddin Qh, Kamis (15/12/2011) di areal Ponpes Al Husna, Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Air bersih dari sumur tersebut akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan melalui pipa. Masing-masing bak berkapasitas 1000 liter. “Satu ditempatkan di Al Husna dua lagi di tengah warga yang kesulitan mendapatkan air bersih” ungkap
Darminto, penanggung jawab proyek.

Sarana air bersih di dusun yang warganya bekerja sebagai buruh tani tersebut merupakan wakaf yang dananya dikumpulkan oleh Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) dari kaum Muslim melalui program Water Action for People.

Mewakili warga yang penghasilannya rata-rata berkisar Rp 10.000-Rp 15.000 per hari itu, Ahmad Zainuddin mengucapkan terima kasih. “Nuhun ka para donatur nu tos ngawakafkeun melalui BWA,oge ka BWA nu tos gadugikeun amanah (Terima kasih kepada para donatur yang sudah berwakaf melalui BWA, juga kepada BWA yang telah menjalankan amanah), jazakumullah khairan katsira semoga salamet dunia akherat,” pungkasnya. Aamiiin

Jan 9

Tahap demi tahap pembangunan kapal Dakwah Nelayan, NTT dijalni,  saat ini sudah memasuki proses pemasangan mesin utama di lambung kapal setelah sebelumnya modif ikasi palka kapal untuk kebutuhan instalasi mesin pembeku dan pendingin nantinya.

Bial tidak ada aral melintang, dengan dukungan dana wakaf yang terhimpun dari wakif, akhir Januari 2012 ini ditargetkan pemasangan mesin rampung. Kemudian kapal akan diberangkatkan ke Jakarta untuk di instalasi mesin pembeku ikan dan pendingin (cold storage).  Proses instalasi mesin pembeku dan pendingin ini diperkirakan memakan waktu hingga pertengahan Maret 2012 mendatang.

Pada April 2012 kapal Dakwah Nelayan NTT tersebut diharapkan sudah dapat beroperasi di sekitar laut Flores , menampung ikan-ikan yang berahasil ditangkap nelayan Muslim NTT. Sehingga perekonomian mereka pun meningkat, dakwah pun disambut hangat. Insya Allah.

Untuk berpartisipasi pada pengadaan kapal dakwah nelayan NTT ini bisa klik di sini.

Jan 9

Meski sehari-hari sebagai seorang aktivis sosial, tokoh Aisyiyah Kabupaten Cilacap, ibu Ratnaningsih, benar-benar terharu ketika membaca majalah Amazing Wakaf yang didapat dari anaknya menjelang Ramadhan 1432 Hijriyah lalu. Setelah membuka lembar demi lembar majalah yang diterbitkan Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) itu, terbetik dalam hatinya ternyata masih banyak orang yang membutuhkan air bersih. “Kita Alhamdulillah, sudah pakai air PAM, setiap butuh tinggal dinyalakan, tetapi mereka?

Masya Allah benar-benar sangat kesulitan,” ungkap Ketua I Aisyiyah Kecamatan Cilacap Selatan itu. Hati Ketua Umum Aisyiyah Cilacap Selatan Periode 2000-2005 dan 2005-2010 ini senang dan terharu ketika membaca betapa gigihnya para relawan BWA menembus berbagai pelosok daerah untuk menyalurkan wakaf Al-Qur’an, sarana air bersih, bahkan kapal dakwah.“Alhamdulillah berarti masih ada anak-anak muda yang peduli,” ujar nenek yang kini berusia 68 tahun itu.
Bahkan pensiunan guru yang sudah puluhan tahun aktif membantu sesama yang terkena musibah ini merasa salut kepada solusi yang dijalankan BWA. “Tadinya tidak terpikir sama sekali ada kegiatan wakaf sarana air bersih, sarana listrik, bahkan kapal dakwah seperti yang dijalankan BWA,” ungkap alumnus diploma guru IKIP Serang, Banten ini. Maka di bulan Ramadhan itu juga istri dari Hendromartono ini langsung berwakaf melalui BWA. “Insya Allah, ketika ada rizkinya lagi ibu mau berwakaf melalui BWA kembali,” tekad ibu dari tiga anak dan satu cucu tersebut.

Jan 9

Kalau kita mengenal sawah tadah hujan, yakni sawah yang sumber air utamanya dari air hujan, ternyata ada juga beberapa desa di Indonesia yang “hidup” hanya saat musim hujan. Mengapa demikian ? karena sumber air utama di desa tersebut adalah dari air hujan.

Bila musim hujan berlalu memasuki kemarau, warga desa terpaksa berhemat air karena tidak ada sumber air atau kalaupun ada tidak mencukupi kebutuhan warganya. Salah satunya adalah desa Giripurwo di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sudah puluhan tahun warga Desa Giripurwo, Gunungkidul terutama di dusun Dusun Tlogo Warak, Dusun Kacangan, Dusun Jlumbang krisis air bersih. Padahal ada sumber air yang melimpah di desa tersebut, sekitar 500 meter dari pemukiman penduduk Dusun Tlogo Warak terdapat aliran sungai bawah tanah yang airnya jernih.

Penemuan sungai bawah tanah ini terjadi pada tahun 1997 secara tidak sengaja, ketika seorang penduduk desa menyusuri Gua Pego untuk mencari sarang burung walet. Ditengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam. Temuan ini ditindaklanjuti oleh aparat desa dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat asal suara aliran air tersebut.
Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan airnya jernih. Namun sayang dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giripurwo belum bisa menikmati air bersih tersebut karena untuk mengaksesnya ke dasar gua cukup sulit. Dari mulut gua harus masuk dan menuruni tangga hingga kedalaman sekitar 50 meter.

Setelah itu, berjalan merunduk memasuki lorong yang ketinggiannya kurang dari satu meter sejauh 80 meter. Kemudian bisa berjalan lagi dengan berdiri tegak sekitar 20 meter berikutnya. Setelah itu, memasuki lubang yang menukik 90 derajat vertikal ke bawah sedalam 100 meter! Warga pun menggunakan tangga tali dan tambang agar bisa sampai di dasarnya. Di dasar gua inilah terdapat aliran sungai jernih yang mengalir menuju Pantai Selatan.Air dalam gua ini sangat segar dan bersih karena telah mengalami proses penyaringan secara alami.Dengan debit air sekitar 30 liter per detik, diprediksikan dapat mencukupi kebutuhan penduduk 3 dusun yang saat ini berpenghuni sekitar 800 KK tersebut.

“Airnya enak, bisa digunakan untuk kebutuhan tiga dusun,” ungkap Darminto, penanggung jawab project sarana air bersih, usai meminum air sungai itu saat survei ke lokasi pada 30 Oktober 2011 lalu. Untuk mengangkat air bersih ini agar bisa dinikmati oleh warga dengan mudah maka Badan Wakaf Al-Qur’an pun merencanakan project pembangunan sarana air bersih. Dengan langkah sebagai berikut.

Pertama, membangun tempat dudukan mesin pompa air submersible di dasar gua di tepi sungai bawah tanah tersebut, yakni dengan menggali dasar gua sedalam 2-3 m. Setelah itu mesin pompa diturunkan di pasang di tempatnya tersebut.

Kedua, mengalirkan air sungai ke dalam tempat pompa air submersible tersebut , agar diperoleh debit air yang cukup dan pompa air selalu dalam keadaan terendam maka dibangun semancam tanggul alami untuk menahan aliran air. “Bendungan ini diharapkan mampu menahan air secara alami dan membuat dasar gua penuh dengan air sehingga diperoleh volume yang cukup agar dapat di pompa ke atas menuju permukaan tanah,” ungkap Darminto.

Ketiga, pipanisasi dari pompa di dasar gua hingga ke permukaan tanah, selisih ketinggiannya antara keduanya mencapai 150 m.

Keempat, Air yang diangkat ini di alirkan ke bak penampungan dengan kapasitas 15.000 liter yang terdapat di dekat mulut gua. Sampai disini tahap pertama pembangunan sarana air bersih selesai, kemudian akan dilanjutkan ke tahap kedua yaitu :

Kelima, membangun bak penampungan air di atas bukit yang memiliki ketinggian 50 m dari bak penampungan dekat mulut gua, dengan kapasitas 15.000 liter. Tahap ini untuk memudahkan mengalirkan air ke bak-bak pembagi di tiga dusun Desa Giripurwo itu. Project Pengadaan Sarana Air Bersih ini, insya Allah, segera terlaksana dengan dukungan dana wakaf dari para wakif sekalian.

Partipasi anda dapat disalurkan dengan cara  mengklik di sini.

Dec 27

Sarana air bersih Badar 2

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Husna, KH Ahmad Zainuddin Qh, tak kuasa menahan haru saat peresmian wakaf sarana air bersih, Sabtu (17/12) pagi di Pondok Pesantren Al-Husna, Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

“Selama ini, waktu santri seringkali habis dipakai antri air di sumur tua yang debitnya sangat kecil. Bahkan, tidak jarang sudah lama antri malah tidak jadi mandi karena kehabisan air. Insya Allah, dengan wakaf ini kami tidak akan kesulitan air bersih lagi,” tutur Kyai Zain, demikian ia biasa disapa.

Wakaf sarana air bersih di Ponpes Al-Husna diberinama Badar 2, memiliki sumur dengan kedalaman 80 meter dan dilengkapi dengan 4 buah bak penampungan dengan kapasitas masing-masing 1.000 liter. Satu unit penampungan untuk pesantren dan 3 unit lagi untuk warga sekitar pondok.

Pada acara peresmian tersebut, Program Owner Water Action for People, Ustadz Hari Moekti, menyampaikan tausiyah agar warga memanfaatkan air bersih dari sumur Badar 2 ini dengan sebaik-baiknya dan yang lebih penting lagi adalah bersyukur kepada Allah SWT.

Hadir dalam peresmian sumur dan sarana air bersih tersebut sekitar 150 warga. Nampak pula Ketua MUI Cikampek Timur, KH Empud Syarifuddin, Ketua RW 10, Purwoedi, Ketua RT 02/10, Ajan, dan Ketua RT 03/10, Mamo.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Hari Moekti menyerahkan pula 1.000 eksemplar Alquran wakaf kepada Kyai Zain untuk didistribusikan ke berbagai pesantren, masjid, dan majelis taklim di sekitar Kecamatan Cikampek. Seperti halnya sarana air bersih, Alquran yang didistribusikan itu merupakan wakaf  dari kaum Muslimin yang dihimpun Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA). Jika anda tertarik untuk mengetahui program BWA, silakan klik: www.wakafquran.org

Dec 27
Keberadaan Gerai Wakaf BWA di pusat perbelanjaan Mega Bekasi Hypermall (MBH) merupakan salah satu bukti bahwa perusahaan pemilik mall, PT MBH Management, memang konsisten dengan misinya yang ingin memberikan nilai tambah kepada kota dan masyarakat Bekasi, khususnya bagi pengunjung dan penyewa toko Mega Bekasi Hypermall.
Maka tidak aneh, bila mall yang resmi beroperasi pada Juli 2003 ini langsung setuju ketika BWA mengajukan proposal pendirian Gerai BWA pada penghujung tahun 2009 lalu.
“Manajemen menilai keberadaan BWA sangat penting dan memberikan nilai lebih kepada pengunjung Mega Bekasi,” ujar Direktur MBH Gunarso Ismail, Selasa (8/11) ketika ditanya alasan persetujuannya dengan gerai yang berlokasi tepat di depan Masjid At Tijaaroh, Ground Floor, MBH tersebut.
Menurutnya, keberadaan gerai tersebut memudahkan pengunjung dalam menunaikan ibadah sunah wakaf. “Memudahkan pengunjung dalam melaksanakan wakaf dan membantu mensosialisasikan wakaf bagi para pengunjung umat Muslim yang masih awam dengan prosedurnya,” ungkapnya.
Di samping mendukung keberadaan gerai BWA, peran dan kepedulian hypermall yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani No 1 Kota Bekasi ini pun ditunjukkan dengan melakukan kegiatan sosial secara rutin.
Kegiatan tersebut di antaranya adalah: bakti sosial, kegiatan donor darah bekerjasama dengan instansi terkait, santunan anak yatim dan kaum dhuafa, sumbangan qurban untuk kaum dhuafa yang juga didukung oleh para penyewa toko-toko MBH, serta memberikan wadah bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk menjalankan usaha di MBH dengan sistem memberikan keuntungan bagi keduabelah pihak.[]

Keberadaan Gerai Wakaf BWA di pusat perbelanjaan Mega Bekasi Hypermall (MBH) merupakan salah satu bukti bahwa perusahaan pemilik mall, PT MBH Management, memang konsisten dengan misinya yang ingin memberikan nilai tambah kepada kota dan masyarakat Bekasi, khususnya bagi pengunjung dan penyewa toko Mega Bekasi Hypermall.

Maka tidak aneh, bila mall yang resmi beroperasi pada Juli 2003 ini langsung setuju ketika BWA mengajukan proposal pendirian Gerai BWA pada penghujung tahun 2009 lalu.

“Manajemen menilai keberadaan BWA sangat penting dan memberikan nilai lebih kepada pengunjung Mega Bekasi,” ujar Direktur MBH Gunarso Ismail, Selasa (8/11) ketika ditanya alasan persetujuannya dengan gerai yang berlokasi tepat di depan Masjid At Tijaaroh, Ground Floor, MBH tersebut.

Menurutnya, keberadaan gerai tersebut memudahkan pengunjung dalam menunaikan ibadah sunah wakaf. “Memudahkan pengunjung dalam melaksanakan wakaf dan membantu mensosialisasikan wakaf bagi para pengunjung umat Muslim yang masih awam dengan prosedurnya,” ungkapnya.

Di samping mendukung keberadaan gerai BWA, peran dan kepedulian hypermall yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani No 1 Kota Bekasi ini pun ditunjukkan dengan melakukan kegiatan sosial secara rutin.

Kegiatan tersebut di antaranya adalah: bakti sosial, kegiatan donor darah bekerjasama dengan instansi terkait, santunan anak yatim dan kaum dhuafa, sumbangan qurban untuk kaum dhuafa yang juga didukung oleh para penyewa toko-toko MBH, serta memberikan wadah bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk menjalankan usaha di MBH dengan sistem memberikan keuntungan bagi keduabelah pihak.[]

Dec 27
Karena tidak tahan mengalami kesulitan air bersih, Mak Uli, warga Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memutuskan pulang kampung ke Purwakarta, Jawa Barat.
Kemarau yang berkepanjangan membuat Mak Uli, penjaja kue keliling itu, dan juga warga dusun Sukamaju lainnya kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
Hujan yang hanya turun delapan kali sejak April 2011 lalu membuat lima sumur warga yang berada di dusun ini kering. “Air sumur kami sudah lama tidak ada airnya,” ungkap Ust Abdurrahim, Ketua Takmir Mushala Sukamaju pada pertengahan Oktober lalu.
Satu-satunya sumur tua yang masih mengeluarkan air ada di Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju, maka warga dan santri pun antri air di sumur tersebut. Karena tidak sebanding antara debit air dengan orang yang membutuhkannya, tidak jarang 24 santri Al Husna mengalah untuk tidak mandi.
Krisis air inilah yang menyebabkan Mak Uli yang juga anggota jamaah pengajian ibu-ibu  asuhan KH Ahmad Zainuddin Qh, Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna, berpamitan hendak pindah ke Purwakarta. Awalnya Kyai Zain mengira Mak Uli pindah lantaran dagangannya tidak laku.  “Henteu, dagangan mah hasilna lumayan, ngan iyeu caina teu aya, (Tidak, dagangan hasilnya lumayan, hanya saja tidak ada air),” jawab Mak Uli.
Sumur Pompa Air Dalam
Untuk mencari jalan keluar dari krisis air yang dialami pesantren dan warga di Sukamaju, Badan Wakaf Al-Qur’an melakukan survey geolistrik di sekitar tanah pesantren pada 19 Oktober lalu.
Menurut perhitungan tim survey BWA,  ada cadangan air yang cukup besar di kedalaman antara 70-100 meter di bawah tanah. Namun, untuk mengambilnya harus dibuat sumur bor hingga kedalaman 100 meter tersebut kemudian dipompakan kepermukaan dengan pompa air submersible.
Air sumur ini akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan. Masing-masing dengan kapasitas 1.000 liter yang di tempatkan 1 unit di pesantren dan 2 unit lainya di tengah-tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.
“Semoga dengan (wasilah sarana air bersih) ini warga semakin semangat dalam mempelajari Islam dan kesulitan santri selama ini bisa terselesaikan,” tutur Kyai Zain, pimpinan Ponpes Al Husna sekaligus nadzir wakaf untuk memelihara dan mengelola sarana air bersih yang segera dibangun ini.
Walaupun saat ini sudah memasuki musim hujan, namun pembangunan sarana air bersih ini Insya Allah akan tetap dilaksanakan, agar tidak terjadi krisis air yang selalu berulang saat memasuki musim kemarau.[]

Karena tidak tahan mengalami kesulitan air bersih, Mak Uli, warga Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memutuskan pulang kampung ke Purwakarta, Jawa Barat.

Kemarau yang berkepanjangan membuat Mak Uli, penjaja kue keliling itu, dan juga warga dusun Sukamaju lainnya kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Hujan yang hanya turun delapan kali sejak April 2011 lalu membuat lima sumur warga yang berada di dusun ini kering. “Air sumur kami sudah lama tidak ada airnya,” ungkap Ust Abdurrahim, Ketua Takmir Mushala Sukamaju pada pertengahan Oktober lalu.

Satu-satunya sumur tua yang masih mengeluarkan air ada di Pondok Pesantren Al Husna Sukamaju, maka warga dan santri pun antri air di sumur tersebut. Karena tidak sebanding antara debit air dengan orang yang membutuhkannya, tidak jarang 24 santri Al Husna mengalah untuk tidak mandi.

Krisis air inilah yang menyebabkan Mak Uli yang juga anggota jamaah pengajian ibu-ibu  asuhan KH Ahmad Zainuddin Qh, Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna, berpamitan hendak pindah ke Purwakarta. Awalnya Kyai Zain mengira Mak Uli pindah lantaran dagangannya tidak laku.  “Henteu, dagangan mah hasilna lumayan, ngan iyeu caina teu aya, (Tidak, dagangan hasilnya lumayan, hanya saja tidak ada air),” jawab Mak Uli.

Sumur Pompa Air Dalam

Untuk mencari jalan keluar dari krisis air yang dialami pesantren dan warga di Sukamaju, Badan Wakaf Al-Qur’an melakukan survey geolistrik di sekitar tanah pesantren pada 19 Oktober lalu.

Menurut perhitungan tim survey BWA,  ada cadangan air yang cukup besar di kedalaman antara 70-100 meter di bawah tanah. Namun, untuk mengambilnya harus dibuat sumur bor hingga kedalaman 100 meter tersebut kemudian dipompakan kepermukaan dengan pompa air submersible.

Air sumur ini akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan. Masing-masing dengan kapasitas 1.000 liter yang di tempatkan 1 unit di pesantren dan 2 unit lainya di tengah-tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.

“Semoga dengan (wasilah sarana air bersih) ini warga semakin semangat dalam mempelajari Islam dan kesulitan santri selama ini bisa terselesaikan,” tutur Kyai Zain, pimpinan Ponpes Al Husna sekaligus nadzir wakaf untuk memelihara dan mengelola sarana air bersih yang segera dibangun ini.

Walaupun saat ini sudah memasuki musim hujan, namun pembangunan sarana air bersih ini Insya Allah akan tetap dilaksanakan, agar tidak terjadi krisis air yang selalu berulang saat memasuki musim kemarau.[]

Dec 27
Tri (23 tahun) merupakan salah seorang peserta program pendidikan untuk mencetak ulama dari Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII).  Jenjang pendidikan sarjana (S1) sampai tingkat doktoral (S3). Semua mahasiswa peserta program mendapatkan beasiswa dari DDII.
Namun setelah lulus sarjana (S1), para calon ulama ini harus menjalani program pengabdian dengan berdakwah ke pedalaman selama dua tahun baru boleh meneruskan pendidikan magisternya (S2). Lulus magister, mereka diterjunkan kembali ke desa terpencil selama dua tahun lagi.Setelah itu barulah mereka meneruskan ke jenjang doktoral.
Usai lulus sarjana, per Juni 2011 lalu Tri ditugaskan untuk berdakwah di daerah minoritas Muslim di Kecamatan Lolowau, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara.
Dengan sabar dan istiqamah, ia mendatangi dan membimbing sekitar 130-an minoritas Muslim yang rumahnya terpencar di berbagai desa di Kec. Lolowau. Tri mengajak mereka untuk memperdalam agama Islam yang dipusatkan di salah satu rumah warga di Desa Lolowau, Kecamatan Lolowau tersebut.
Di rumah sederhana ukuran 5 X 4 meter itulah setiap ba’da Zhuhur, ia mengajarkan tahsin kepada warga yang sudah bisa membaca Al-Qur’an. Ba’da Ashar, mengajarkan Iqra kepada anak-anak. Sedangkan pukul 17.00 WIB hingga Maghrib mengajarkan berbagai tsaqafah Islam lainnya seperti akidah, fikih, bahasa Arab, juga metode pengobatan herbal dan bekam.
Ternyata kekonsistenan da’i muda ini dalam membimbing warga setempat mendapatkan perhatian pula dari warga non Muslim. Melalui dakwah Tri inilah, Ferdius N Druru (18) warga Desa Hilikara pada 25 Agustus lalu menyatakan diri masuk Islam dan berganti nama menjadi Azzam Abdillah Ramadhani Druru.
Sedangkan pada 7 Oktober, seorang ayah dan anaknya warga Desa Sisara Hili Oyo yakni Sama Nudi Halawa (37)  dan Kasihani Halawa (10) menyambut hidayah tersebut dan berganti nama menjadi Umar Shalahuddin Halawa dan Naila Rahmatal Azza.
“Alhamdulillah, sejak Juni 2011 muslim di Lolowau sudah bertambah 3 orang sehingga sekarang menjadi 134 orang,” ujar Tri.
Distribusi Wakaf Al-Qur’an
Pada 21-22 Oktober lalu, Badan Wakaf Al-Qur’an bersilaturahmi dengan Tri dan Umar Shalahuddin, para nazir masjid, pimpinan ponpes, pengurus majelis taklim, kepala KUA Kecamatan, Ketua MUI, Pengurus Taman Pendidikan Al-Qur’an, serta beberapa kepala madrasah aliyah dan tsanawiyah se-Pulau Nias di Kantor Kementerian Agama Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, dalam rangka realisasi program Al-Qur’an Road Trip Nias, Oktober 2011.
Dalam kesempatan itu, BWA pun menyerahkan sekitar 2088 kitab Al-Qur’an kepada  Muslim  di Pulau Nias yang meliputi wilayah  Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Nias Selatan.
Amanah Al-Qur’an Wakaf ini diterima oleh koordinator distribusi Al-Qur’an dari pihak Kantor Kemenag Gunungsitoli Bapak Herman, dan disaksikan pula oleh Ketua Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kota Gunungsitoli Bapak Sabrani Zega.[]

Tri (23 tahun) merupakan salah seorang peserta program pendidikan untuk mencetak ulama dari Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII).  Jenjang pendidikan sarjana (S1) sampai tingkat doktoral (S3). Semua mahasiswa peserta program mendapatkan beasiswa dari DDII.

Namun setelah lulus sarjana (S1), para calon ulama ini harus menjalani program pengabdian dengan berdakwah ke pedalaman selama dua tahun baru boleh meneruskan pendidikan magisternya (S2). Lulus magister, mereka diterjunkan kembali ke desa terpencil selama dua tahun lagi. Setelah itu barulah mereka meneruskan ke jenjang doktoral.

Usai lulus sarjana, per Juni 2011 lalu Tri ditugaskan untuk berdakwah di daerah minoritas Muslim di Kecamatan Lolowau, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara.

Dengan sabar dan istiqamah, ia mendatangi dan membimbing sekitar 130-an minoritas Muslim yang rumahnya terpencar di berbagai desa di Kec. Lolowau. Tri mengajak mereka untuk memperdalam agama Islam yang dipusatkan di salah satu rumah warga di Desa Lolowau, Kecamatan Lolowau tersebut.

Di rumah sederhana ukuran 5 X 4 meter itulah setiap ba’da Zhuhur, ia mengajarkan tahsin kepada warga yang sudah bisa membaca Al-Qur’an. Ba’da Ashar, mengajarkan Iqra kepada anak-anak. Sedangkan pukul 17.00 WIB hingga Maghrib mengajarkan berbagai tsaqafah Islam lainnya seperti akidah, fikih, bahasa Arab, juga metode pengobatan herbal dan bekam.

Ternyata kekonsistenan da’i muda ini dalam membimbing warga setempat mendapatkan perhatian pula dari warga non Muslim. Melalui dakwah Tri inilah, Ferdius N Druru (18) warga Desa Hilikara pada 25 Agustus lalu menyatakan diri masuk Islam dan berganti nama menjadi Azzam Abdillah Ramadhani Druru.

Sedangkan pada 7 Oktober, seorang ayah dan anaknya warga Desa Sisara Hili Oyo yakni Sama Nudi Halawa (37)  dan Kasihani Halawa (10) menyambut hidayah tersebut dan berganti nama menjadi Umar Shalahuddin Halawa dan Naila Rahmatal Azza.

“Alhamdulillah, sejak Juni 2011 muslim di Lolowau sudah bertambah 3 orang sehingga sekarang menjadi 134 orang,” ujar Tri.

Distribusi Wakaf Al-Qur’an

Pada 21-22 Oktober lalu, Badan Wakaf Al-Qur’an bersilaturahmi dengan Tri dan Umar Shalahuddin, para nazir masjid, pimpinan ponpes, pengurus majelis taklim, kepala KUA Kecamatan, Ketua MUI, Pengurus Taman Pendidikan Al-Qur’an, serta beberapa kepala madrasah aliyah dan tsanawiyah se-Pulau Nias di Kantor Kementerian Agama Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, dalam rangka realisasi program Al-Qur’an Road Trip Nias, Oktober 2011.

Dalam kesempatan itu, BWA pun menyerahkan sekitar 2088 kitab Al-Qur’an kepada  Muslim  di Pulau Nias yang meliputi wilayah  Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Nias Selatan.

Amanah Al-Qur’an Wakaf ini diterima oleh koordinator distribusi Al-Qur’an dari pihak Kantor Kemenag Gunungsitoli Bapak Herman, dan disaksikan pula oleh Ketua Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kota Gunungsitoli Bapak Sabrani Zega.[]

Dec 27

Tanggal 30 Oktober 2011 lalu Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melakukan survey sarana air bersih di daerah Gunungkidul, tepatnya di desa Giri Purwo, Kecamatan Panggung, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini termasuk daerah yang mengalami krisis air bersih.
Namun ada yang unik di desa Giri Purwo tepatnya di dusun Telogo Warak, pada tahun 1997 seorang penduduk desa menyusuri gua untuk mencari sarang burung walet. Di tengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam.
Temuan ini dilaporkan kepada kepala desa dan ditindak lanjuti dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat suara aliran air tersebut.  Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan bersih airnya. Sayangnya dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giri Purwo belum bisa menikmati air bersih tersebut, padahal mereka sangat membutuhkannya.
Seperti apa sungai bawah tanah tersebut, saksikan videonya di  www.youtube.com/user/wakafquran

Tanggal 30 Oktober 2011 lalu Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melakukan survey sarana air bersih di daerah Gunungkidul, tepatnya di desa Giri Purwo, Kecamatan Panggung, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini termasuk daerah yang mengalami krisis air bersih.

Namun ada yang unik di desa Giri Purwo tepatnya di dusun Telogo Warak, pada tahun 1997 seorang penduduk desa menyusuri gua untuk mencari sarang burung walet. Di tengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam.

Temuan ini dilaporkan kepada kepala desa dan ditindak lanjuti dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat suara aliran air tersebut.  Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan bersih airnya. Sayangnya dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giri Purwo belum bisa menikmati air bersih tersebut, padahal mereka sangat membutuhkannya.

Seperti apa sungai bawah tanah tersebut, saksikan videonya di  www.youtube.com/user/wakafquran

« Previous Entries