Apr 27

Satu setengah tahun sudah, sejak bencana Merapi pada akhir tahun 2010, kehidupan desa-desa yang terkena erupsi Merapi memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Berbeda dengan suasana tahap tanggap darurat yang hiruk-pikuk dan banyaknya bantuan dari lembaga maupun individu, tahap rehabilitasi dan recovery ini sepi dari keramaian tersebut.

Padahal saat penduduk desa kembali ke rumah, mereka mendapati infrastuktur desa mereka rusak. Salah satu yang teramat penting adalah air bersih.

Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) adalah satu dari sedikit lembaga yang masih berkiprah membantu penduduk desa di lereng Merapi mengatasi persoalan yang mereka hadapi, terutama dalam masalah air bersih. Salah satunya adalah membangun sarana air bersih untuk Dusun Trono, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Magelang. Warga Dusun Trono saat ini harus mengambil air yang mereka butuhkan dari sumber mata air yang berjarak 1.5 km dari desanya, karena erupsi Merapi telah menutup mata air lama dekat desa mereka di tepi sungai Senowo.

Mak Ari (40 tahun), warga Trono, dengan hati-hati menghindari tanah basah yang licin, menuruni tebing sedalam 100 meter menuju sumber mata air. Dengan tertib, ia berdiri di belakang warga lainnya yang juga antri untuk menimba air.

Setelah mendapatkan yang diinginkannya, ia bergegas, menaiki jalan yang sama. Namun perjalanan kali ini lebih berat dari sebelumnya, lantaran jalannya menanjak sembari memikul dua jerigen air bersih.

Perempuan usia 40 tahun lebih ini terpaksa memilih menggunakan jerigen kecil. Karena kalau terlalu besar akan sangat berat dan sulit menjaga keseimbangan, ketika mendaki tebing yang sangat terjal dan tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan dua anggota keluarganya, ia bisa naik turun 3 kali dalam sehari. Begitulah kehidupan sehari-hari Mak Ari dan sekitar 100 KK warga Trono lainnya.

Namun Alhamdulillah, sekitar 3 kilometer dari Trono ke arah puncak Merapi ada sumber mata air lain. “Karena debit airnya lebih besar dan tidak dilalui lahar dingin,” ungkap Darminto, penanggungjawab pembangunan sarana air bersih Badan Wakaf Al-Qur’an, Jum’at (30/3).

Wakaf Sarana Air Bersih

Untuk meringankan beban mereka, BWA bersama dengan Ust Yogi Apqari dan Ust. Pramono, partner lapang BWA di Magelang, menyusun rencana membangun sarana air bersih untuk kebutuhan warga dusun tersebut. Berupa pipanisasi dari mata air yang berjarak sekitar 3 km tersebut hingga ke dusun.

Pembangunan sarana air bersih ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena itulah, BWA mengajak kaum Muslim membantu pembangunan sarana air bersih Dusun Trono. Adapun rencana pelaksanaan project wakaf ini akan di mulai di akhir Mei atau awal Juni 2012.

Ingin bantu pembangunan sarana air bersih di Trono silahkan klik di sini.[]

Apr 19

Pertemuan Pertama dengan Ahsan

 

Mari Doakan Ahsan Bisa Meraih Cita-Citanya

Ada kisah menarik yang membuat Ahsan begitu semangat ingin menjadi penghafal Al Qur’an, sebagaimana dituturkan oleh Ibu Sito Insafiah ibunda Ahsan, kepada tim Indonesia Belajar BWA (28/3/2012) di rumah kontrakan mereka Jl. Arus Jati Kampung Koja Jatinegara Kaum Pulo Gadung Jakarta Timur.

Pada suatu ketika, Ahsan dan adiknya menyaksikan berita di TV tentang nasib anak-anak Palestina yang diserang oleh tentara  Israel dengan Tank Baja.  ”Beraninya sama anak kecil, awas nanti akan saya balas” gerutu Ahsan. “Bagaimana caranya Bang, bisa ngebalas tentara Israel ?” sahut Muntas adiknya Ahsan. “Dengan Al-Qur’an”,   jawab Ahsan. “Dengan Al-Qur’an, bagaimana mungkin?, mereka kan pakai  Tank bang! Kata adiknya. “Iya dengan Al-Qur’an, saya akan menghafal Al-Qur’an, di dalam Al-Qur’an kan ada cara membuat Tank”  jawab Ahsan dengan lugunya seorang anak.

Ahsan memang sudah dikenalkan dengan Islam sejak usia balita, Ibunda Ahsan mengenalkan Islam kepada anak-anaknya dengan cara menceritakan kisah-kisah para sahabat Rasul dan para pejuang Islam, misalnya kisah tentang Kholid Bin Walid, Salahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih dan lain sebagainya.

Ahsan memang anak yang istimewa selain memiliki keunggulan dalam pelajaran matematika dan kuatnya hafalan Al Quran.  Ia juga seorang yang lembut perasaannya, terbukti ketika  Ibunda Ahsan bercerita tentang kisah Kholid Bin Walid, Ahsan sampai meneteskan air mata, pada saat  kisah   itu  hampir sampai di penghujung  cerita, yaitu kisah wafatnya Kholid Bin Walid. Ibunya bertanya, mengapa Ahsan menangis? “Saya sedih bu, Kholid Bin Walid bercita-cita ingin mati syahid di medan tempur, tapi ternyata beliau wafat di pembaringan”, jawab Ahsan.

Setelah sekitar dua jam berkunjung ke keluarga Ahsan, yang disambut hangat oleh orang tua Ahsan yaitu bapak Saleh Wagino dan ibu Sito Insafiah, kemudian tim Indonesia Belajar berpamitan untuk melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Mush’ab Bin Umair, Cibitung, Bekasi.

Kehadiran kami disambut dengan gembira oleh bapak Luqman Hakim selaku ketua Pondok Pesantren Mush’ab Bin Umair.  Disana kami  ingin menunaikan amanah dari para wakif dan donatur melalui Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) untuk menyampaikan dana pendidikan Ahsan selama 1 tahun sebesar Rp. 7,800,000,00 (Tujuh Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah). Dana tersebut diterima langsung oleh Pak Agung selaku Bendahara Pesantren, yang disaksikan oleh ketua Pesantren Mush’ab Bin Umair yaitu bapak Luqman Hakim, SP.

Mudah-mudahan dana ini bisa membantu keluarga Ahsan yang sedang dalan kesulitan ekonomi dan bermanfaat bagi Ahsan yang ingin menjadi pejuang Islam yang hafidz Al Qur’an,  Aamiin!

Mar 20

Sudah puluhan tahun warga Desa Giripurwo, Gunungkidul krisis air bersih karena sumber utama air bersih mereka adalah dari air hujan, sementara di musim kemarau penduduk desa harus berhemat karena air yang tersedia tidak mencukupi bagi kebutuhan warga. Padahal ada sumber air yang melimpah di desa tersebut, sekitar 500 meter dari pemukiman penduduk Dusun Tlogo Warak terdapat aliran sungai bawah tanah yang airnya jernih.

Penemuan sungai bawah tanah ini terjadi pada tahun 1997 secara tidak sengaja, ketika seorang penduduk desa menyusuri Gua Pego untuk mencari sarang burung walet. Ditengah kegelapan dan kesunyian, tiba-tiba ia mendengar suara aliran air yang deras di dasar gua yang curam. Temuan ini ditindaklanjuti oleh aparat desa dengan menurunkan beberapa orang untuk melihat lebih dekat asal suara aliran air tersebut.

Ternyata hasilnya menakjubkan, ada sungai bawah tanah dengan debit cukup besar dan airnya jernih. Namun sayang dari tahun 1997 sampai sekarang penduduk desa Giripurwo belum bisa menikmati air bersih tersebut karena untuk mengaksesnya ke dasar gua cukup sulit. Dari mulut gua harus masuk dan menuruni tangga hingga kedalaman sekitar 50 meter.

Setelah itu, berjalan merunduk memasuki lorong yang ketinggiannya kurang dari satu meter sejauh 80 meter. Kemudian bisa berjalan lagi dengan berdiri tegak sekitar 20 meter berikutnya. Setelah itu, memasuki lubang yang menukik 90 derajat vertikal ke bawah sedalam 85 meter!

Warga pun menggunakan tangga tali dan tambang agar bisa sampai di dasarnya. Di dasar gua inilah terdapat aliran sungai jernih yang mengalir menuju Pantai Selatan.Air dalam gua ini sangat segar dan bersih karena telah mengalami proses penyaringan secara alami.Dengan debit air sekitar 30 liter per detik, diprediksikan dapat mencukupi kebutuhan penduduk 3 dusun yang saat ini berpenghuni sekitar 800 KK tersebut.

Tahap Survey

Survey tim BWA mencari sumber air bersih di dalam gua

“Airnya enak, bisa digunakan untuk kebutuhan tiga dusun,” ungkap Darminto, penanggung jawab project sarana air bersih, usai meminum air sungai itu saat survei ke lokasi pada 30 Oktober 2011 lalu.

 

Tahap Mengangkat Air Ke Permukaan Tanah

Untuk mengangkat air bersih ini agar bisa dinikmati oleh warga dengan mudah maka Badan Wakaf Al-Qur’an pun melaksanakan project wakaf pembangunan sarana air bersih. Dengan langkah sebagai berikut.

Pertama, membangun tempat dudukan mesin pompa air submersible di dasar gua di tepi sungai bawah tanah tersebut, yakni dengan menggali dasar gua sedalam 2-3 m. Setelah itu mesin pompa diturunkan di pasang di tempatnya tersebut.

Kedua, mengalirkan air sungai ke dalam tempat pompa air submersible tersebut , agar diperoleh debit air yang cukup dan pompa air selalu dalam keadaan terendam maka dibangun semancam tanggul untuk menahan aliran air. “Bendungan ini diharapkan mampu menahan air secara alami dan membuat dasar gua penuh dengan air sehingga diperoleh volume yang cukup agar dapat di pompa ke atas menuju permukaan tanah,” ungkap Darminto.

Ketiga, pipanisasi dari pompa di dasar gua hingga ke permukaan tanah, selisih ketinggiannya antara keduanya mencapai 150 m.

Keempat, Air yang diangkat ini di alirkan ke bak penampungan dengan kapasitas 48.000 liter yang terdapat di dekat mulut gua. Sampai disini tahap pertama pembangunan sarana air bersih selesai, kemudian akan dilanjutkan ke tahap kedua yaitu,

 

Tahap Distribusi

Membangun bak penampungan air di atas bukit yang memiliki ketinggian 50 m dari bak penampungan dekat mulut gua, dengan kapasitas 48.000 liter. Tahap ini untuk memudahkan mengalirkan air ke bak-bak pembagi di tiga dusun yang masing-masing berkapasitas 30.000 liter di Desa Giripurwo itu.

Pembangunan Bak Penampung

 

Insya Allah Project Wakaf Sarana Air Bersih ini akan selesai pada pertengahan April 2012, semoga dimudahkan oleh Allah SWT sehingga warga di desa Giripurwo tidak kesulitan air bersih di musim kemarau.

Mar 1

Ketua RT 005/01 Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, tersenyum sumringah saat Direktur Operasional dan Keuangan Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA), M Ichsan Salam meresmikan rumah tinggal Mak Enap yang direnovasi, Senin (9/1) di RT 005/01 Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Terima kasih kepada BWA yang telah membantu salah satu warga kami, kami tidak bisa berbuat banyak untuk Mak Enap karena warga di sini memang rata-rata bukan tergolong orang yang sejahtera. Dengan bantuan ini, semoga hidup Mak Enap terbantu dan bisa hidup lebih baik lagi,” ungkap Iyan Susanto, Ketua RT 005/01.

Mak Enap adalah salah satu dhuafa yang mendapatkan zakat mal dari kaum Muslim yang menyalurkan zakatnya melalui program zakat peer to peer BWA.
Renovasi rumah pemulung yang hidup sebatang kara tersebut dimulai 17-25 Desember 2011. Seluruh atap diganti dengan seng baru, lantai tanahnya disemen, dinding yang terbuat dari bilik dan seng bekas diganti tembok batako dan gipsum, kamar mandi yang selama ini terbuka pun kini jadi tertutup.

Di samping itu, rumah perempuan yang berusia 66 tahun itu kini dilengkapi dengan loteng. “Sekarang rumahnya jadi ada loteng, sehingga kalau sewaktu-waktu terjadi banjir lagi, Mak Enap bisa istirahat di loteng,” ujar Darminto penanggung jawab penyaluran dana zakat mal BWA.

Tidak Menyangka

Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, BWA menyalurkan zakat mal dari kaum Muslim kepada 76 nelayan minoritas Muslim pesisir Laut Flores. Usman Maratu Selolong, salah seorang nelayan, benar-benar terharu dan tidak menyangka mendapat zakat mal dari kaum Muslim di Jakarta.

”Kame sangka hala we, kame bersyukur, rae bisa perhatik tite we walau rae kenal tite hala, salam rae wahan kae, kame doakan supaya rezeki rae murah (Kami tidak duga, kami bersyukur mereka bisa perhatikan kita juga walaupun mereka tidak mengenal kita maka salam untuk mereka semua, kami doakan semoga rezeki [para muzaki] ini semakin mudah,” ungkap lelaki yang telah berusia 60 tahun ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Ikhwanul Mukminin, Adonara, Flores Timur Ustadz Arifuddin Anwar yang juga mitra lapang BWA, menyatakan bahwa selain Usman, puluhan nelayan lainnya pun mendapatkan bagian.

“Ada 76 nelayan Muslim dhuafa yang mendapatkan zakat mal masing-masing mendapat senilai Rp 250.000,” ungkapnya, Selasa (11/1). Pembagian zakat itu dilakukan di pesantrennya pada akhir Desember 2011 lalu.

Uang Rp 250.000 sangatlah berharga bagi para nelayan yang penghasilannya sekitar Rp 20.000 per hari ini. “Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga, ini sangat membantu kami memodali turun mancing,” ungkap Abdul Wahid (33 tahun), saat menerima bagiannya.

Anda ingin menyalurkan zakat mal anda pada mereka yang membutuhkan, silahkan klik di sini

Mar 1

Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) menyerahkan sekitar 2.000 Al-Qur’an wakaf secara simbolik kepada Ustadz Suparjo, nazir wakaf Al-Qur’an warga Desa Giri Purwo, Sabtu (14/1) di Masjid Al Jihad Giri Purwo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Penyerahan Al-Qur’an wakaf dari kaum Muslim tersebut disaksikan pula oleh Kepala Desa Giri Purwo, sejumlah tokoh masyarakat dan warga. Minimnya fasilitas keagamaan termasuk Al-Qur’an dan pembinaan menjadi salah satu masalah besar di Desa Giri Purwo.

Di sisi lain misionaris gencar melakukan penginjilan sehingga desa ini terkategori desa yang rawan pemurtadan. Maka betapa senangnya warga ketika mendapatkan wakaf Al-Qur’an ini.

“Saya mewakili warga Giri Purwo mengucapkan terima kasih banyak kepada BWA yang turut membantu memecahkan masalah yang ada di Giri Purwo,” ujar Suvibri Purwanto, Kepala Desa Giri Purwo.

Sarana Air Bersih
Selain keagamaan, masalah lainnya yang dihadapi Giri Purwo adalah krisis air. Selama ini mereka mengandalkan air hujan untuk keperluan sehari-hari. Namun bila kemarau tiba, warga pun sangat kesulitan mengakses air bersih. Sedangkan satu-satu sumber mata air ada di sungai bawah tanah kedalaman 135 meter dari mulut Gua Pego, Dusun Tlego Warak, Giri Purwo.

Untuk memudahkan warga mengakses air bersih itu, BWA pun berinisiatif membangun pengadaan sarana air bersih untuk 800 KK di tiga dusun di desa tersebut.

“Alhamdulillah, tahap pertama pemasangan instalasi air sudah selesai,” ujar Darminto, penanggung jawab pengadaan sarana air bersih wakaf untuk Desa Giri Purwo.

Tahap pertama berlangsung dari 14-18 Januari 2012 yaitu berupa pemasangan mesin pompa air submarsible di sungai bawah tanah tersebut, membuat bendungan di sekitar mesin, pipanisasi dari mesin sampai ke mulut goa, pemasangan instalasi listrik, serta rehabilitasi penampungan air yang berkapasitas 48.000 liter di depan mulut goa.

Selanjutnya akan diteruskan pada tahap kedua. Tahap kedua ini berupa pembangunan bak penampung air di atas bukit yang memiliki ketinggian 50 meter dari bak penampung dekat mulut gua, dengan kapasitas 15.000 liter. Tahap ini untuk memudahkan mengalirkan air ke bak-bak pembagi untuk warga yang tersebar di Dusun Tlogo Warak, Dusun Kacangan dan Dusun Jlumbang.

Mar 1

Warga minoritas Muslim Dayak di Kampung Gemuruh Kecamatan Mook Manor Bulatn Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur sangat membutuhkan Kitab Suci Al-Qur’an dan pembinaan.

“Kami kekurangan Al-Qur’an dan keterbatasan pembinaan, sehingga kami sedikit sekali memahami Islam,” ujar Bapak Wili, Ketua RT 02 Kampung Gemuruh kepada Tim Survei BWA, akhir Desember 2011 di Kampung Gemuruh.

Pak Wili adalah seorang mualaf yang masuk Islam pada tahun 2010 berkat dakwah para dai dari Pesantren Assalam Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat. Meski minim sarana dan prasarana namun dakwah tetap berjalan di Mook Manor Bulatn, sehingga sekitar 16 KK termasuk Pak Wili dari 90 KK warga RT 02 masuk Islam. Geliat dakwah juga nampak di RT-RT lainnya di Kampung Gemuruh yang mayoritas warganya masih animisme itu.

Untuk membantu kegiatan dakwah dan pembinaan bagi minoritas Muslim Dayak di sana, BWA mempersiapkan program Al Qur’an Road Trip untuk wilayah Kutai Barat yang rencananya akan di selenggarakan pada bulan Mei 2012 mendatang. “Kami sangat senang sekali, dan berharap bisa memberikan semangat dalam mempelajari Islam dan bisa mengirimkan dai-dai untuk membina kami,” pungkas Pak Wili.

 

Feb 6

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan Indonesia Belajar.

Bocah yang biasa dipanggil Kiki berasal dari Ciracas, Jakarta Timur, sudah enam bulan menunggak uang SPP dan uang makan yang perbulannya sebesar Rp 425.000, sebenarnya dia anak yang periang namun sejak orang tuanya tidak mampu membayar biaya sekolahnya kelihatan air wajahnya sedikit murung. Maklumlah, Nur Salim, sang ayah 6 bulan lalu di PHK oleh perusahaan tempat bekerja, sekarang hanya menjadi supir mobil rental, yang penghasilannya sangat minim.

Kiki bercita-cita menjadi ustadz dan pengusaha, setamat SD, ia pun melanjutkan pendidikan ke Ponpes Panatagama.

Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) melalui program Indonesia Belajar mencoba membantu agar Kiki tetap bersekolah dengan menghimpun donasi dari kaum muslimin. “Alhamdulillah, bukan hanya terkumpul dana untuk membayar tunggakan selama enam bulan, tetapi terkumpul pula dana untuk membayar dimuka uang SPP dan uang makan untuk enam bulan ke depan,” ungkap Yatno, penanggung jawab program Indonesia Belajar.

Maka, pada tanggal 30 Januari 2012 BWA bersilahturahmi ke sekolah Kiki dan  menyerahkan uang sebesar Rp 5.100.000  bantuan dari kaum muslimin kepada Ustadz Tindyo Prasetyo, Kepala Sekolah SMP Ponpes Panatagama.  “Umar anaknya periang dan prestasi akademiknya cukup baik. Kami terbantu sekali dengan program  Indonesia Belajar ke pesantren kami, mudah-mudahan anak didik kami dapat menyelesaikan pendidikannya seluruhnya” ujar Ustadz Yoyo, sapaan akrab Tindyo, Senin (30/1) di Ponpes Panatagama.

Indonesia Belajar, adalah program BWA yang bertujuan mengembalikan anak-anak Indonesia yang kesulitan biaya pendidikan agar mereka bisa kembali bersekolah.

Kini Umar Faruq sudah dapat tenang mengikuti pendidikan di pesantren demikian pula dengan orangtuanya, semoga Allah SWT memudahkan rejeki bagi mereka sehingga kehidupannya kembali normal.

Jan 12

Byuuur… Alhamdulillah, setelah dibor selama empat hari hingga kedalaman 80 meter, akhirnya sumur bor itu mengeluarkan air. “Subhanallah, luar biasa,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna KH Ahmad Zainuddin Qh, Kamis (15/12/2011) di areal Ponpes Al Husna, Dusun Sukamaju, Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Air bersih dari sumur tersebut akan didistribusikan melalui 3 bak penampungan melalui pipa. Masing-masing bak berkapasitas 1000 liter. “Satu ditempatkan di Al Husna dua lagi di tengah warga yang kesulitan mendapatkan air bersih” ungkap
Darminto, penanggung jawab proyek.

Sarana air bersih di dusun yang warganya bekerja sebagai buruh tani tersebut merupakan wakaf yang dananya dikumpulkan oleh Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) dari kaum Muslim melalui program Water Action for People.

Mewakili warga yang penghasilannya rata-rata berkisar Rp 10.000-Rp 15.000 per hari itu, Ahmad Zainuddin mengucapkan terima kasih. “Nuhun ka para donatur nu tos ngawakafkeun melalui BWA,oge ka BWA nu tos gadugikeun amanah (Terima kasih kepada para donatur yang sudah berwakaf melalui BWA, juga kepada BWA yang telah menjalankan amanah), jazakumullah khairan katsira semoga salamet dunia akherat,” pungkasnya. Aamiiin

Jan 9

Tahap demi tahap pembangunan kapal Dakwah Nelayan, NTT dijalni,  saat ini sudah memasuki proses pemasangan mesin utama di lambung kapal setelah sebelumnya modif ikasi palka kapal untuk kebutuhan instalasi mesin pembeku dan pendingin nantinya.

Bila tidak ada aral melintang, dengan dukungan dana wakaf yang terhimpun dari wakif, akhir Januari 2012 ini ditargetkan pemasangan mesin rampung. Kemudian kapal akan diberangkatkan ke Jakarta untuk di instalasi mesin pembeku ikan dan pendingin (cold storage).  Proses instalasi mesin pembeku dan pendingin ini diperkirakan memakan waktu hingga pertengahan Maret 2012 mendatang.

Pada April 2012 kapal Dakwah Nelayan NTT tersebut diharapkan sudah dapat beroperasi di sekitar laut Flores , menampung ikan-ikan yang berahasil ditangkap nelayan Muslim NTT. Sehingga perekonomian mereka pun meningkat, dakwah pun disambut hangat. Insya Allah.

Untuk berpartisipasi pada pengadaan kapal dakwah nelayan NTT ini bisa klik di sini.

Jan 9

Meski sehari-hari sebagai seorang aktivis sosial, tokoh Aisyiyah Kabupaten Cilacap, ibu Ratnaningsih, benar-benar terharu ketika membaca majalah Amazing Wakaf yang didapat dari anaknya menjelang Ramadhan 1432 Hijriyah lalu. Setelah membuka lembar demi lembar majalah yang diterbitkan Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) itu, terbetik dalam hatinya ternyata masih banyak orang yang membutuhkan air bersih. “Kita Alhamdulillah, sudah pakai air PAM, setiap butuh tinggal dinyalakan, tetapi mereka?

Masya Allah benar-benar sangat kesulitan,” ungkap Ketua I Aisyiyah Kecamatan Cilacap Selatan itu. Hati Ketua Umum Aisyiyah Cilacap Selatan Periode 2000-2005 dan 2005-2010 ini senang dan terharu ketika membaca betapa gigihnya para relawan BWA menembus berbagai pelosok daerah untuk menyalurkan wakaf Al-Qur’an, sarana air bersih, bahkan kapal dakwah.“Alhamdulillah berarti masih ada anak-anak muda yang peduli,” ujar nenek yang kini berusia 68 tahun itu.
Bahkan pensiunan guru yang sudah puluhan tahun aktif membantu sesama yang terkena musibah ini merasa salut kepada solusi yang dijalankan BWA. “Tadinya tidak terpikir sama sekali ada kegiatan wakaf sarana air bersih, sarana listrik, bahkan kapal dakwah seperti yang dijalankan BWA,” ungkap alumnus diploma guru IKIP Serang, Banten ini. Maka di bulan Ramadhan itu juga istri dari Hendromartono ini langsung berwakaf melalui BWA. “Insya Allah, ketika ada rizkinya lagi ibu mau berwakaf melalui BWA kembali,” tekad ibu dari tiga anak dan satu cucu tersebut.

« Previous Entries